Mengintip Bedah Buku Nicotine War di UGM

bedah buku nicotine war ugm

Kita tahu kalau sebagian besar kampanye di negara ini kalau sudah bertujuan untuk memenangkan sesuatu pasti akan berisi 50% kebohongan, atau kalau mau lebih halus; 50% berisi ketidaksesuaian dengan realita di lapangan, tidak berdasarkan penelitian yang jernih dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Kita tahu, politik, nun jauh di atas sana adalah sebuah permainan strategi untuk mengamankan beberapa kepentingan, sebagian dibungkus dengan rapi agar terlihat sangat baik mengakomodir kepentingan masyarakat, sebagian lagi terlihat bodoh dan tidak dibuat dengan rapi sehingga saat sebuah narasi sebuah kampanye pertama kali dikeluarkan, masyarakat tahu kalau itu adalah sebuah kebohongan.

Bacaan Lainnya

Mari kita perkecil lingkupnya ke persoalan kampanye rokok yang berhubungan dengan kemiskinan. Semua orang tahu kalau menabung adalah salah satu jalan menuju kesejahteraan di hari tua, tinggal ongkang-ongkang kaki dan menikmati hari sambil melihat usaha berjalan dengan sendirinya, yang kelak akan dipersiapkan untuk kemudian diberikan kepada anak-cucu kelak. Hasil tabungan itu adalah jerih payah kita menyisihkan uang yang diambil dari pengeluaran sehari-hari. Entah beli sabun mandi cari dengan harga diskon sehingga kita bisa menyisihkan 1000 perak, atau tiap kali membeli bahan dapur kita mengatur dengan sangat teliti, sehingga kalau tiap bulan menghabiskan 50000, bulan berikutnya hanya perlu mengeluarkan 45000 saja.

Itu tidak hanya kita ambil dari pengeluaran yang saya sebut tadi, bisa juga mengakali biaya service motor, biaya nongkrong, beli pakaian dan banyak lagi. Kalau perokok, hal mudah mengatasi keborosan adalah mengurangi konsumsi, yang tadinya 3 bungkus untuk 3 hari, bisa jadi 3 bungkus untuk 6 hari. Atau kalau mau tetap dengan porsi yang sama, bisa mencari merek rokok yang jauh lebih murah. Misal dari Djarum super beralih ke Gudang Baru atau Rider. Sederhana itu. Jadi hidup irit lalu mampu DP rumah 10 tahun setelah berhemat tidak hanya persoalan berhenti membeli rokok. Sebuah kampanye sesat pikir yang terus diolah oleh anti rokok lalu menggema di obrolan sehari-hari mereka yang tidak suka dengan rokok. Angka kemiskinan lalu dihubung-hubungkan, pencapaian seseorang kemudian dipaksa menjadi contoh, dan kegagalan seseorang memiliki sesuatu, seperti kendaraan atau rumah karena dia merokok dan dianggap tidak bisa berhemat akan terus menjadi kabar burung yang diamini oleh banyak orang akibat ketidaktahuan tentang perhitungan rincinya.

Batangan rokok Mencos

Saya seorang perokok Djarum Super, yang harga per bungkusnya 20rb-an di warung, menghabiskan 3-4 bungkus dalam waktu 2-3 hari. Itu belum rokok selingan seperti Sukun Putih atau 76 Madu Hitam yang nyaris saya hisap bergantian dengan Djarsup, kalian jumlahkan sendiri, berapa pengeluaran saya perminggu hanya untuk rokok kretek saja. Di sisi lain, saya pelan-pelan mampu memiliki Samsung Tab s7+, A52 dan Poco F3 untuk alat komunikasi merangkap alat kerja di media digital. Saya juga sedang membangun 3 motor kustom di waktu yang bersamaan, walaupun ketiga motor tadi tidak saya bayar lunas sekaligus. Sudah gila? enggak, saya atur keuangan saya sedemikian rupa supaya saya masih bisa makan dengan gizi cukup minimal 2 kali sehari, nongkrong ngopi 2-3 kali seminggu dan masih sanggup membeli sandang supaya tidak pakai baju yang itu-itu saja.

Kalau kalian pikir itu saya dapatkan karena gaji saya besar, kalian salah. Gaji saya besarnya setara UMR Jogja ditambah 36,5%. Silahkan dikira-kira. Lalu, apa saya tidak memikirkan masa depan? Tentu saya pikirkan, mencari kerja tambahan jadi salah satu jalan, yang baik, cukup, tidak melelahkan tapi mampu saya pertangggungjawabkan dengan hasil kerja yang baik. Jadi kalau sampai hari ini masih banyak orang yang bersuara tentang rokok yang memiskinkan, silahkan kalian rinci atau tanyakan bagaimana sih kategori orang yang miskin karena rokok menurut mereka. Sharing santai saja, tidak perlu berdebat. Siapa tau kalian mendapatkan sebuah cara baru dalam hal mengkondisikan keuangan. Siapa tau.

Mengikuti judul tulisan ini, kita bergeser ke soal bedah buku. Dari contoh di atas, saya yakin kalian banyak menemui kejanggalan sebuah kampanye, apapun itu. Kalian perlu mencermati narasi yang diucapkan lebih jernih lagi. Benarkah seperti itu, atau itu hanya sebuah kesimpulan dari riset sederhana lalu mengasumsikan semua persoalan akan mengalami hal serupa. Mungkin kalau diteliti lebih jauh, ada cacat di beberapa hal dari narasi sebuah kampanye. Merokok memiskinkan misalnya. Lalu dari kampanye tadi, ada sebuah rencana jangka panjang serta sistem yang sedang dibangun untuk memberi pengaruh secara perlahan tanpa kita sadari.

peserta bedah buku

Terlalu berlebihan? tidak. Wanda Hamilton dalam bukunya; Nicotine War, menceritakan bagaimana korporasi farmasi bergerilya melancarkan siasat untuk menguasai pasar nikotin, yang menurut Wanda Hamilton, adalah emas tertimbun. Siasat bermitra dengan pemerintah, otoritas kesehatan publik dan membuat propaganda kesehatan melalui jaringan media, termasuk secara sistematis mengintervensi para dokter adalah semata untuk mematikan industri tembakau. Tujuannya jelas, nikotin tidak lagi dikonsumsi melalui rokok, melainkan melalui racikan farmasi

Serem? Terlalu lebay? Tidak. Wanda Hamilton menulis buku itu setelah melewati serangkaian riset dan penelitian dan mencari fakta-fakta dari banyak sumber. Mau bukti paling mudah tentang skenario kampanye di media yang akhirnya terbongkar? coba tonton video “Tabayyun”. Itu contoh nyata yang paling gampang bahwa ada kampanye manipulatif yang bisa kita temukan seandainya kita tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu dan meyakini itu adalah sebuah kebenaran. Seperti judul video itu; “Tabayyun”. Kita sebaiknya tidak mudah mempercayai sesuatu tanpa mencari sumber berbeda sebagai pembanding, tidak sulit, apalagi di jaman sekarang.

Soal bedah buku lagi, saya akhirnya mendapatkan perspektif berbeda mengenai kampanye-kampanye antirokok selama ini setelah mengikuti acara bedah buku yang berlangsung di UGM tanggal 4 Maret lalu. Bahkan saya merasa masih kurang, saya ingin tahu lebih banyak lagi agar setelah selesai acara bedah buku saya punya bekal argumen dan pengetahuan yang cukup. Tidak perlu pintar-pintar amat, tapi paling ga, saya tidak buta pengetahuan.

Secara kebetulan, saya diminta oleh salah satu pembicara bedah buku Nicotine War untuk menjadi supir pribadinya selama rangkaian acara bedah buku Nicotine War di 7 kota. Jadi kali ini saya tidak akan menjadi supir seperti biasanya; menunggu tamu di parkiran mobil. Seperti di UGM kemarin, saya diminta olehnya untuk ikut masuk ke ruang acara. Kurang lebih 2 jam saya duduk di dalam ruangan mendengarkan dia memaparkan materi yang dibuatnya. Usai acara, dalam perjalanan pulang, saya dimintai pendapat tentang cara dan tata bahasanya saat bertugas sebagai pemateri, saya hanya menjawab singkat; lugas dan sangat mudah dipahami, tidak bertele-tele dan poin-poin penting mengenai buku Nicotine War disampaikan dengan baik dan runtut. Selesai dari UGM, rencananya dia akan kembali diundang untuk hadir sebagai pembicara di kota Semarang pertengahan Maret ini dan rencananya acara digelar di UNDIP Tembalang.

bedah buku nicotine war ugm

Saya baru menyanggupi untuk menemani perjalanan beliau di 2 tempat tadi, kota-kota selanjutnya belum bisa saya pastikan bisa mengantarnya, alasan pekerjaan lain dan jarak yang cukup jauh menjadi pertimbangan saya. Selesai di Jawa Tengah, diskusi buku ini direncanakan akan digelar di Jawa Timur, hanya soal lokasi tepatnya di mana masih belum saya ketahui, paling tidak setelah acara di Semarang selesai dilaksanakan.

Bagi saya, mengikuti acara bedah buku selain memperoleh manfaat dan pembelajaran serta sudut pandang dari apa yang ditulis oleh penulis, saya bisa sekalian jalan-jalan ke luar kota dan menambah penghasilan dari pekerjaan sebagai supir, kalau kebetulan rangkaian acaranya seperti Nicotine War ini. Hitung-hitung suatu saat nanti kalau ada yang ngata-ngatain saya miskin karena terlalu sering beli rokok, bisa saya jawab langsung dengan mengeluarkan tab S7+ dari dalam tas hanya untuk sekedar melihat agenda bulanan saya, kapan harus nyetir, kapan jadwal motor pertama, kedua dan ketiga keluar dari bengkel. Dan saya tidak perlu membantah apapun perkataan orang tadi tentang saya yang dianggap miskin. Miskin cinta sih iya.

 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait