aba junaidi jakaba
PERTANIAN

Aba Junaidi Sahidj: Tembakau dan Kisah Penemuan Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi)

Aba Junaidi Sahidj adalah petani biasa saja dari Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo. Dia memutuskan menjadi petani sejak menikah pada 1974. Sebagaimana petani lain di desanya, ia menanam tanaman musiman silih berganti. Termasuk tanaman tembakau krosok tak lupa ia tanam pada musim ketiga. 

Namun, selama bertahun-tahun menjadi petani membuat Aba Junaidi mengalami kejenuhan. Penyebab kejenuhannya disebabkan oleh cara bertani dengan sistem tanam anorganik, yang semakin tahun membutuhkan lebih banyak bahan aktif yang digunakan. 

foto jakaba: jamur keberuntungan abadi

“Semakin banyak dipakai, penyakit semakin resisten, semakin minta ditambah dosisnya,” ujar Aba Junaidi dalam wawancara di channel Youtube Penyuluh Pertanian Lapangan. 

Kebutuhan lebih banyak bahan aktif berarti semakin banyak biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani serta semakin petani tidak berdaya dan akhirnya bergantung pada keberadaan pestisida kimia yang dikeluarkan oleh pabrik. Keadaan ini yang membuat Aba Junaidi memutuskan untuk mengurangi ketergantungan terhadap keberadaan pestisida kimia dan beralih ke petani organik dengan lebih banyak mengandalkan kemampuan sendiri dan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang disediakan oleh alam di sekitar. 

Dua tahun sejak dia menjadi petani organik, tepatnya pada akhir 2016, dalam proses pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizhobacteria), sejenis bakteri yang hidup di perakaran tanaman. Namun, dalam pembuatan PGPR menggunakan akar sirih, Aba Junaidi lupa memberikan aerator dan tidak mengaduk-mengaduk sehingga dalam wadah PGPR muncul bongkahan jamur yang berbentuk aneh.

Aba Junaidi penasaran dengan kegagalan pembuatan PGPR, lebih penasaran lagi dengan bongkahan jamur yang justru ia dapatkan dalam proses pembuatan PGPR. Ia pun bertanya kepada pegiat pertanian organik melalui group-group Facebook. Hasilnya, malah menjadi perdebatan. Sebagian menyarankan untuk dibuang karena khawatir justru bersifat merusak dan Aba Junaidi menuruti. Bongkahan jamur itu akhirnya ia buang, hanya tersisa airnya saja. 

Air ini yang kemudian Aba Junaidi berikan kepada tanaman tembakau miliknya yang terserang layu fusarium, penyakit tanaman yang disebabkan oleh infeksi jamur patogen Fusarium oxysporum. Sebagai petani tembakau sejak 1974, Aba Junaidi hafal betul kerusakan akibat dari serangan jamur ini. Namun, akibat keisengan menyiramkan rendaman air PGPR yang gagal tersebut ternyata mampu melawan layu fusarium, sehingga tanaman tembakaunya punya harapan dan selamat. Bahkan mampu tumbuh seperti pohon-pohon tembakau lain yang tidak terkena layu fusarium. 

Terkejut dengan hasil temuannya, membuat Aba Junaidi sedikit menyesal karena telah membuang bongkahan jamur tersebut. Ia mengulang-ulang lagi formula untuk mendapatkan temuan seperti sebelumnya namun tiada hasil. Sampai kemudian pada tahun 2019, ketika habis hajatan dan ia memiliki 200 liter air cucian beras, ia pun kembali mendapatkan jamur ajaib yang membuat tanaman tembakaunya bebas dari serangan layu fusarium. 

Jamur temuannya ini kemudian diujicobakan lagi untuk tanaman lain di Kelompok Tani Sumber Rejeki yang diikutinya. Hasilnya sama baiknya, termasuk bisa memberikan umur lebih panjang pada tanaman ranti, juga memberikan pertolongan kepada tanaman terong yang kerdil. 

Sebagai petani organik, Aba Junaidi juga dipercaya oleh Bupati Kabupaten Situbondo, Dadang Wigiarto, untuk merawat tanaman bawang dengan cara tanam organik. Ketika ditanya Bupati terkait resep keberhasilannya, maka Aba Junaidi menunjukkan jamur temuannya itu. Sore harinya, Bupati pun memanggil divisi komunikasi untuk mendokumentasikan temuan Aba Junaidi. 

Sesaat sebelum dokumentasi, Bupati menyarankan bahwa agar jamur tersebut perlu diberikan nama. “Tunggu dulu, saya akan pikirkan,” kata Aba Junaidi. 

“Jamur, jamur ini kalau tidak beruntung tidak akan dapat. Kalau diaplikasikan, tanaman akan panjang umur.” Maka jadilah jamur temuan Aba Junaidi bernama Jamur Keberuntungan Abadi. Kemudian dikenal luas oleh pegiat pertanian organik sebagai Jakaba. 

aplikasi jakaba