Menikmati Hari Tua di Kota Kretek
REVIEW

Menikmati Hari Tua di Kota Kretek

Tinggal di kota Kudus Kota Kretek rasanya menjadi pilihan tempat tinggal saya di hari tua setelah kota-kota seperti Magelang, Pangandaran, Donggala, Tentena, Temanggung atau Salatiga. Kota-kota yang tidak terlalu ramai. Hidup sederhana dengan keluarga kecil, sekedar membuka usaha toko kelontong sambil menjadi supir angkutan umum. Gizi keluarga terpenuhi, aktivitas sebat pun tercukupi.

Rencana hidup yang sederhana dan jauh dari kemewahan. Tentu dari kota-kota tadi, saya tidak boleh melupakan kota kelahiran saya; Tomohon, sebagai pilihan tempat tinggal hari tua kelak.

Kudus tiba-tiba masuk dalam rencana saya setelah beberapa hari lalu saya mendapatkan tamu dari Jakarta yang sedang punya urusan di kota itu. Dia transit semalam di Jogja sebelum melanjutkan perjalanan bersama saya menuju Kudus. Sebenarnya bisa saja tamu saya itu turun di Semarang dan langsung menuju Kudus menggunakan transportasi darat. Tapi karena sudah menjadi langganan saya, dan dia ingin sedikit nostalgia masa kuliah di Jogja, jadilah dia memilih untuk bermalam lebih dulu di Jogja.

Selasa siang kami berangkat dari Jogja menggunakan mobil, kami hanya berdua, menelusuri rute Jogja-Klaten-Boyolali-Semarang-Demak-Kudus yang ditempuh selama kurang-lebih 4 jam. Sesampainya di Kudus, suasana kota yang sederhana dengan banyak sekali ditemui bangunan-bangunan lama yang terawat dan sebagian masih digunakan sebagai hunian warga menyambut kedatangan kami setelah melewati icon kota Kudus dari arah Demak; monumen Kudus Kota Kretek yang sekarang tertutupi jalan layang.

Segera kami menuju hotel lama yang cukup terkenal; Hotel Kenari. Lokasi hotel ini dekat dengan alun-alun Kudus dan salah satu kantor produsen rokok terbesar di Indonesia; Djarum. Sesampainya di hotel, sambil menunggu tamu saya mandi dan bersiap makan malam dengan rekannya di Kudus, saya menghubungi seorang sahabat lama saya yang secara kebetulan bekerja di Djarum Bakti Lingkungan, statusnya memang hanya pegawai kontrak sampai saat, tapi ada kabar-kabur yang mengatakan sebenarnya pihak Djarum sudah menawarkan dirinya menjadi pegawai tetap di Djarum. Rasanya itu sebuah kesempatan langka yang ingin dimiliki banyak orang.

Baca juga:  Konservasi Keperutan: Sebuah Mukadimah

Teman saya, Fawaz, menjawab pesan Whatsapp dari saya 30 menit kemudian setelah saya mengabarkan kalau saya sudah tiba di Kudus dan sedang leyeh-leyeh di Hotel Kenari malam itu. Dia bilang tidak bisa ikut makan malam, karena masih harus berada di lapangan sampai sekitar jam 9 malam. Dia menyarankan untuk bertemu setelah dia pulang dan rampung absen di kantor. Saya mengiyakan tawarannya dan mencari tempat yang enak buat ngobrol sambil ngopi, di daerah yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Saya tidak mau merepotkan Fawaz kalau harus janjian di lokasi yang jauh dari tempat tinggalnya, dia cukup lelah harus bekerja di lapangan sedari pagi. 

Selesai menemani makan malam, saya meminta izin kepada tamu saya untuk menemui Fawaz di sebuah warung kopi; Warung Kopi Baca yang berlokasi di sekitar Jl. Simpang Tujuh Kudus. Fawaz memilih tempat itu karena secara kebetulan di situ ada toko buku dan penerbit Paris. Fawaz pernah diundang kesana oleh sang pemilik toko buku untuk diskusi bukunya yang berjudul; Yang Menyublim Di Sela Hujan.

Saya sampai di warkop tersebut sekitar jam 9 malam dan Fawaz tiba beberapa saat kemudian, dia baru saja menyelesaikan tugas lapangannya malam itu.

Hampir setahun kami tidak bertemu, banyak cerita-cerita mengejutkan yang muncul di obrolan kami malam itu dan sampai menghabiskan sebungkus Djarsup yang saya bawa, sementara Fawaz si pengidola rokok mild, tidak berhenti menghisap Djarum Super MLD kegemarannya. Selama kurang lebih 2 jam, dia menceritakan suka-duka selama bekerja di Djarum, dan bagaimana keseriusan Djarum dalam melakukan penghijauan di proyek yang akhirnya membuat Fawaz terlibat dan semangat mengerjakan tanggungjawab lapangannya. Keseriusan Fawaz itu juga yang akhirnya membuat pihak Djarum menawarkan posisi sebagai pegawai tetap di perusahaan itu. Tapi dia masih ingin mempertimbangkan tawaran yang banyak orang akan merasa iri kepadanya.

Baca juga:  Di Kudus, Tradisi Menyumbang dengan Rokok Masih Lestari

Pukul 23:30 saya mendapatkan pesan Whatsapp dari tamu saya, dia mengingatkan saya untuk tidak pulang terlalu larut karena keesokan harinya aktifitas kami akan mulai sejak pukul 8 pagi. Saya kemudian meminta ijin kepada Fawaz untuk kembali ke hotel, dan berjanji akan melanjutkan obrolan ini kalau kita ketemu di Jogja atau saya kembali berkunjung ke Kudus. Saya sebenarnya masih menyimpan banyak pertanyaan untuk Fawaz, sarjana Teknik Lingkungan dan manusia nyentrik dengan memutuskan mengambil program S2 di Teknik Nuklir ini rasanya selalu menyimpan banyak cerita yang tidak akan ada habisnya kalau harus diceritakan dalam waktu 2 jam.

Selesai berpamitan dengannya, saya pulang menuju Hotel Kenari sambil menelusuri Kudus di waktu malam dengan mengendarai mobil seorang diri. Melewati deretan bangunan perumahan berarsitektur tahun 80-90an, pabrik baru Nojorono, rumah Nitisemito yang sekarang dimanfaatkan menjadi sebuah coffee shop sederhana, truk Djarum yang kebetulan berpapasan di jalan, serta daya magis kota kretek yang saya rasakan sekaligus sulit dimengerti tiap kali saya ada di kota ini.

Imajinasi saya mendadak liar malam itu, rasanya saya sedang mengendarai sebuah truk besar yang mengangkut rokok kretek produk Djarum dengan muatan penuh berisi bermacam-macam merek Djarum, sedang menuju arah gudang untuk mengantar truk sekaligus bongkar muat barang dan absen karyawan. Sepulangnya dari gudang, saya akan naik motor Astrea lama yang sudah saya restorasi menuju rumah tinggal di sebuah jalan kecil di Kudus.

Sementara istri saya sedang menunggu kepulangan saya dengan siap-siap memasak air panas untuk sekedar membuatkan saya minuman hangat pelepas lelah setelah bekerja. Sesampainya di rumah, mungkin saya akan mengisi sisa malam dengan mengobrol kepada istri saya, tentang THR lebaran yang akan dipercepat pembayarannya oleh Djarum, dan bisa kita tabung atau gunakan untuk mengembangkan usaha toko kelontong istri saya.

Baca juga:  Belajar dari Masyarakat Adat

Sungguh malam yang sentimentil sekali hari itu di kota Kudus. Suasana sepi, tidak ada warung Madura yang buka 24 jam dan gampang ditemui di pinggir jalan seperti di Jogja, tidak ada kendaraan kecil lalu-lalang seperti Jogja di malam hari selepas pukul 10 malam, tidak ada motor kebut-kebutan yang mengganggu jam istirahat warga dan segudang kesunyian lain yang membuat Kudus seperti sebuah kota biasa saja di sekitar Pantura.

Padahal, di siang hari, kota itu adalah rumah dari raksasa-raksasa produsen rokok lokal di Indonesia. Yang mungkin hampir 70% produk rokok kretek yang lahir dari kota Kudus adalah penguasa pasar rokok di Indonesia. Dan sebagian konsumennya adalah orang-orang yang beruntung pernah datang ke kota Kudus dan merasakan langsung bagaimana magis kota kretek itu.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Lelaki yang Mencintai Banyak Hal

    Comments are closed.

    More in:REVIEW