Barebut Berkah Kiai dari Puntung Rokok Kretek Kiai

berkah puntung rokok kiai

Banyak cara santri ngalap berkah kepada kiai, salah satunya dari puntung rokok.


Selain Kudus sebagai kota kretek, ada juga menyebutnya kota santri. Santri dan kretek di Kudus terkait erat sejarahnya. Dahulu Kiai di Kudus banyak yang berdagang tembakau bahkan cengkeh. 

Bacaan Lainnya

Adalah KH. Hasan Mangli atau banyak orang menyebutnya Mbah Mangli. Beliau tiap keliling pengajian, jamaahnya selalu membawa bibit cengkeh dan dikasihkan pada jamaah lainnua untuk ditanam, lalu hasilnya akan dibeli. Selain itu ada KH Sya’roni Ahmadi. Sejak kecil beliau membantu bapaknya menjual tembakau di kios, di daerah selatan Masjid Menara Kudus. 

Pada usia 8 tahun, Ibunda Kiai Sya’roni Ahmadi wafat, akhirnya beliau diasuh sang ayah, yang pada saat itu berdagang tembakau. Jadi tidak heran jika Kiai Sya’roni Ahmadi, saat waktu kecilnya sudah bergelut dengan tembakau.

Ada Juga KH. Turaichan Adjufri. Sebagai tokoh Ulama’ Kudus tahun 90-an, beliau pernah memutuskan hukum rokok sangat fleksibel dan kontekstual. Haram bagi orang yang punya riwayat penyakit, jika merokok kretek nambah sakit. Hukum wajib bagi orang yang ketika tidak merokok kretek malah tidak bisa fokus mengajar, dalam hal ini kasus KH. Hambali. Dasar hukum merokok adalah “boleh” menurut KH. Turaichan Adjufri. Bahkan saat bahasan hukum rokok kretek di Masjid Menara Kudus yang saat itu KH. Turaichan Adjufri sebagai tokoh sentral pemutus hukum, beliau sambil menyulut merokok.

Tidak bisa dimungkiri, di Kabupaten Kudus selain sebagai kota penemu Kretek, masih banyak saat ini berdiri Industri Kretek, seperti PT. Djarum, PR. Sukun dan lain sebagainya. Juga, di Kudus banyak berdiri pondok pesantren dan eksis hingga sekarang, yang menjadi tujuan sebagian masyarakat seantero untuk memperdalam ilmu agama Islam, terlebih daerah di sekitar Kudus, seperti Kabupaten Jepara, Demak, Pati, Grobogan bahkan Semarang. 

Sebenarnya di Kudus, antara santri, kretek dan Kiai hubungannya sangat erat. Hukum rokok kretek telah diputuskan para Kiai dan menjadi ketetapan hukum Islam di Kudus hingga sekarang. 

santri merokok
Rokok menjadi medium untuk mendapatkan berkah kiai

Peran Kiai di Kudus sangat sentral dikalangan santri. Menjadi Kiai, bukan perkara mudah. Selain ‘Alim (menguasai disiplin ilmu agama) juga harus jelas asal keilmuannya (gurunya siapa, belajarnya dimana, dan bagaimana akhlaknya), bahasa santrinya “sanad” nya “muttasil” (guru-gurunya ke atas jelas keilmuannya). 

Bagi santri, sosok Kiai sebagai panutan dan selalu layak untuk dialap (diambil) berkahnya. Untuk mengalap berkah Kiai, medianya tidak hanya belajar langsung ke Kiai yang dituju. Apa yang melekat pada Kiai tersebut sebisa mungkin para santri bisa memilikinya bahkan mengkonsumsinya. 

Tidak segan-segan santri memburu barang yang telah dibuang Kiainya untuk ngalap berkah. Tradisi ngalap berkah sangat kuat di kalangan santri Kudus. 

Terkadang apa yang dilakukan santri, jauh dari logika para ilmuwan. Ilmuwan pingin pintar dan cerdas, dengan belajar sungguh-sungguh. Beda dengan santri, mau pintar dan cerdas pengetahuan agama Islam seperti Kiainya, tidak hanya belajar dengan kiai, tapi harus mencari berkah Kiai. Berkah itu keadaan yang mendatangkan kebaikan dan manfaat dikemudian hari. 

Bermacam-macam cara santri di kudus mencari berkah kiainya, ada yang mencium tangan kiai dengan dibolak-bailk, meminum atau memakan makanan sisa kiai, menyimpan barang bahkan pakaian Kiai, hingga berebut puntung kretek yang telah dibuang Kiai.

Banyak cerita dikalangan santri Kudus, tiap bersama dan melihat Kiai, maka akan di perhatikan gerak geriknya, berharap ada sesuatu yang di tinggal. Entah sisa minuman atau makanan hingga barang lain yang bisa di alap berkah, termasuk puntung rokok. Rumor santri, andai kata ada Kiai yang meminum, memakan hingga habis atau bahkan merokok hingga selesai, telah mengecewakan banyak santri yang telah siap memburunya. 

para santri sedang menikmati rokok

Seperti pernyataan Miftah, salah satu santri yang dahulu pernah mondok di Kudus asal Nalumsari Jepara. Sering kali ia memburu minuman bahkan puntung rokok yang telah di buang  almarhum KH. Sya’roni Ahmadi. Karena ia ingin sekali seperti KH. Sya’roni Ahmadi yang mahir dalam ilmu qiro’ah sab’ah (tujuh dialekt bacaan al-Qur’an), tafsir (memahami al-Qur’an), ushul al-fiqh (asal usul hukum Islam), fikih (hukum Islam), mantiq (cara berbicara). Menurutnya, KH. Sya’roni Ahmadi salah satu sesepuh di Kudus yang menjadi panutan dan ‘alim dalam bidang agama. 

Pengakuan Miftah, dulu saat mengaji Tafsir al-Qur’an ke KH. Sya’roni Ahmadi di aula H. Nur Cholis Janggalan Kota Kudus, ia harus mengatur strategi duduk sekira dapat ngalap berkah (bisa cium tangan, minum sisanya sampai dapat puntung rokoknya). 

Posisi yang strategi tidak lain di dalam aula baris terdepan bagian kiri. Tempat yang akan dilewati dan tidak jauh dari duduknya KH. Sya’roni Ahmadi saat mengajar kitab Tafsir al-Qur’an. Sehingga ia dapat cium tangan, bisa minum sisa KH. Sya’roni Ahmadi dan mudah menjangkau puntung rokoknya yang sengaja ditinggal di asbak. Seakan KH. Sya’roni Ahmadi mengerti isi hati para santri. Kalaupun tidak dapat semua, minimal salah satunya, kata Miftah lagi. 

Ngalap berkah puntung rokok Kiai, di kalangan santri Kudus bukan perkara yang memalukan. Sebaliknya, mereka saling berebut. Jika berhasil, mereka sangat bangga dan puas, berharap bisa ‘alim seperti KH. Sya’roni Ahmadi. 

Lucunya, tiap kali Miftah mendapatkan puntung rokok kretek sisa KH. Sya’roni Ahmadi, kemudian berjalan santai keluar untuk kembali ke Pondok. Sesampainya di jalan, ia menyulut sisa rokok tersebut pamer pada teman-temannya, kalau dapat puntung rokoknya KH. Sya’roni Ahmadi. Niatan pamer seakan berkata ”hidupku lebih beruntung dari kalian semua”.  Ternyata keinginan Miftah dikabulkan Tuhan. Selesai mondok, ia di rumah ditunjuk masyarakat untuk mengisi pengajian tafsir di Masjid. Sungguh berutungnya Miftah.

Wallahu a’alam bi al-showab.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait