Berkenalan dengan Tembakau Asepan Kebanggaan Warga Boyolali

tembakau asepan boyolali

Tembakau asepan Boyolali menembus pasar Eropa. Ia sangat diminati di Italia dan Belanda.


Dilihat dari sisi geografis, beberapa daerah di Boyolali memang memungkinkan menghasilkan tembakau berkualitas terbaik, seperti halnya Temanggung, Jember, Madura maupun Lombok.

Tembakau asepan lokal Boyolali digunakan sebagai bahan baku rokok dan digunakan untuk memasok kebutuhan pasar dan luar negeri. Jenis grompol, satu dari sekian jenis tembakau asepan lokal yang mampu menembus pasar Eropa. 

Tembakau ini banyak dibutuhkan konsumen Eropa sebagai bahan pengisi cerutu.

Tembakau jenis ini banyak ditanam di Kecamatan Banyudono, Sawit, teras dan Mojosongo dengan total lahan seluas 300 hektar (Republika, 2009). Setiap hektar bisa menghasilkan 1,8 ton, sehingga jumlah ekspor ke Eropa rata-rata 450 ton per tahun.

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS) mendefinisikan tembakau asepan adalah tembakau lokal VO, berbentuk krosok dan diproses secara dark fire cured. 

Krosok tembakau asepan digunakan sebagai bahan baku tembakau shag dalam negeri dan ekspor dengan jumlah kebutuhan masing-masing 5.000 dan 2.000 ton per tahun.

menjemur tembakau

Di pasar dunia, tembakau asepan dari Indonesia masih menduduki urutan ketiga setelah AS dan Malawi. Di Jawa Tengah, areal pengembangannya tersebar di tiga kabupaten, yaitu Boyolali, Klaten dan Sukoharjo. Di antara ketiga kabupaten tersebut, Boyolali memang merupakan daerah yang paling potensial penghasil tembakau asepan dengan mutu paling tinggi.

Permasalahan yang dihadapi petani tembakau asepan adalah adanya variasi produksi dan mutu dari tahun ke tahun, sehingga kebutuhan akan produksi dan mutu yang diinginkan oleh konsumen (eksportir dan pabrik rokok) tidak dapat dipenuhi. 

Salah satu penyebab adanya variasi tersebut adalah penggunaan varietas lokal berupa populasi tanaman yang masih sangat beragam (tidak murni). 

Varietas lokal yang umum ditanam petani tembakau asepan dan diminati oleh konsumen adalah Grompol Jatim. Pemurnian dan pengujian daya hasil varietas lokal Grompol Jatim telah dilakukan pada tahun 1992 dan 1993. 

Pada tahun 1996 galur yang telah murni tersebut mulai ditanam dalam skala luas menggantikan varietas lokal yang ada. Galur Grompol Jatim dilepas dengan nama Grompol Jatim 1 berdasarkan SK Mentan No: 131/Kpts/SR.120/2/2007. 

Saat ini penggunaan Grompol Jatim 1 mencapai areal seluas 1.000 ha, tersebar di Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo. Varietas tersebut tidak hanya digunakan oleh petani tetapi juga dikembangkan dan digunakan oleh eksportir tembakau, yaitu PT Pandu Sata Utama dan PT Indonesia Dwi Sembilan sampai sekarang. 

Produktivitas Grompol Jatim 1 di tingkat petani berkisar antara 1,6–2,7 ton krosok/ha (tergantung pengelolaan lahan oleh petani) atau senilai Rp 26.185.000,00/ha.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Hobi jalan-jalan dan jajan. Bercita-cita punya butik.