Dji Sam Soe Elite, Tidak Se-Elit Namanya

dji sam soe elite

Dji Sam Soe Elite mendowngrade tahta Dji Sam Soe sebagai legend SKT.

Sebagai ahli hisap yang berkiblat ke produsen-produsen di Jawa Tengah, saya sebenarnya merasa kurang pantas kalau harus mereview produk Jawa Timur-an karena bisa dianggap memihak dan tidak fair dalam memberikan penilaian.

Tapi karena alasan pengalaman merokok yang tidak asal-asalan selama kurang-lebih 20 tahun, muncul percaya diri untuk mereview sebuah produk rokok kretek non filter dari salah satu pabrikan ternama di Indonesia, yang baru saja melahirkan sebuah produk bernama Dji Sam Soe Elite.

Kita semua pasti setuju kalau saya mengatakan; apapun rokok kretek atau SKT kalian saat ini, Dji Sam Soe lah pemilik “sertifikat” kategori rokok enak di kelasnya dan masih belum ada tandingan sampai hari ini. Mau itu Dji Sam Soe SKT varian premium atau varian biasa yang sering disebut Dji Sam Soe biasa. Sudah, tidak usah dibantah, memang kenyataannya seperti itu.

Jaman dulu, orang-orang tidak “sefleksibel” sekarang kalau mau menghisap rokok, karena menurut saya indera perasa mereka jauh lebih idealis dibandingkan generasi sekarang. Belum lagi pilihan rokok kala itu tidak sebanyak sekarang, jadi kalau perokok SKM Filter seperti Djarum Super akan sulit kalau harus menghisap Gudang Garam Internasional, apapun alasannya.

Tapi perlakuan beda bisa saya lihat terhadap merek Dji Sam Soe. Contoh paling gampang adalah Ayah dan Ibu saya. Ayah saya, perokok Sampoerna merah di era 80an hingga 90an awal, kalau mau merokok yang lain pasti larinya ke Dji Sam Soe. Ibu saya pun begitu, kalau malam hari mereka mengobrol berdua, dan kebetulan ada Dji Sam Soe, maka rokok itu akan mereka nikmati bersama.

Tidak pernah dalam sejarah atau sependek ingatan saya, kedua orang tua saya mencoba rokok lain selain Sampoerna Merah dan Djarum Super kecuali merek Dji Sam Soe sebagai rokok kretek lain yang bisa mereka nikmati.

Itu baru orang-orang di lingkaran terdekat saya yang menikmati Dji Sam Soe layaknya sebuah mahakarya citarasa yang tidak punya tandingan. Belum lagi dari puluhan atau bahkan ratusan orang yang saya kenal hingga hari ini dan dengan bangga menghisap Dji Sam Soe sebagai rokok bercitarasa paripurna.

Bahkan tanpa iklan yang masif pun, Dji Sam Soe  sudah menang di pasar Indonesia sejak lama, paling tidak sejak tahun 80-an. Bayangkan saja, Dji Sam Soe dulu pernah membuat deskripsi dibungkus belakangnya yang mengatakan “rokok ini akan terasa lebih nikmat apabila disimpan lebih lama di tempat kering dan kedap dan tidak menyebabkan batuk”. Koreksi saya jika salah.

Tapi itu dulu, sekarang tidak begitu semenjak kemunculan Dji Sam Soe Elite yang menurut saya merusak orkestrasi atau aransemen varian Dji Sam Soe karena menghasilkan suara fals atau sumbang di pasaran.

Sudah baik-baik dan sudah adem ayem Dji Sam Soe bertengger di pasaran sebagai SKT berkelas, atau Sampoerna Hijau yang notabene adalah produk murah mirip Dji Sam Soe yang menguasai pasar tapi harus memaksakan lahirnya produk baru yang minim kejutan alih-alih memunculkan inovasi baru di kelas SKT.

Dji Sam Soe seperti menunjukkan kekhawatiran untuk melawan rokok-rokok kretek berbagai merek yang bertarung di layer kedua kelas non filter atau sigaret kretek tangan. Inovasi yang disebut-sebut sebagai sebuah terobosan baru di kelas SKT malah menurut saya kurang tepat.

Bayangkan saja, bagian ujung hisap khas Dji Sam Soe yang biasanya berisi tembakau dikosongkan untuk kemudian diisi sepotong kertas dilipat 3 dan akhirnya seperti membentuk huruf M, disebut sebagai penghalang tembakau agar tidak terhisap oleh perokok, karena beberapa orang mengatakan kalau tembakau di ujung hisap Dji Sam Soe sering bermasalah dengan ikut terhisap, parahnya kadang sampai masuk ke tenggorokan.

Padahal, nyaris 3-4 tahun terakhir tidak sekalipun saya mengalami kejadian seperti itu selama menghisap Dji Sam Soe, walau tidak setiap hari tapi jauh lebih baik dibandingkan produk Dji Sam Soe di awal 2000-an yang tembakaunya seringkali rontok apabila dihisap dan harus masuk ke dalam mulut dan persoalan padatnya lintingan Dji Sam Soe kuning yang membuat para perokok Dji Sam Soe perlu effort lebih tiap kali mau merokok.

Tapi apa lagi yang mau dicari dengan mengeluarkan produk seperti Dji Sam Soe Elite? Bukankah rasa sempurna rokok SKT sudah dimiliki varian Dji Sam Soe sejak dulu, bahkan sebelum generasi millenial akhir lahir di dunia ini. Tembakau rontok itu sebuah ke-khas-an dalam menghisap rokok SKT, sampai kapanpun, memasang “filter” yang dilakukan oleh Dji Sam Soe Elite bukan sebuah inovasi baik dan bisa dianggap berhasil.

Dji Sam Soe Elit Sepertinya Kurang Berhasil

Kenapa tidak dianggap berhasil? seperti biasa, ritual mereview rokok seperti yang saya lakukan sebelumnya wajib menjadi langkah awal sebelum menulis. Sebelum dibakar, setelah mencium aroma dari ujung bakar sampai ujung hisap, ada aroma khas produk Jawa Timur ini yang hilang dari indera penciuman saya. Saat menghirup aroma dari ujung bakar, aroma harum khas pabrikan ini seperti sudah melekat dan tidak asing bagi saya, aroma kuat Dji Sam Soe kuning terasa sekali bercampur dengan aroma versi Premium, sepersekian detik anda akan mengingat lagi aroma sebuah merek; Sampoerna Hijau muncul sangat singkat di antara 2 aroma utama tadi.

Mendekati ujung batang hisap, sepersekian detik anda akan menemukan gradasi aroma tembakau khas ke arah aroma kertas yang mirip aroma HVS atau kertas bahan undangan atau bahkan kertas tanggalan yang cukup mengganggu hingga akhirnya bisa terbayangkan bagaimana menghisap rokok SKT lalu ujung hisapnya diberi gulungan kertas berbentuk pipa hisap kayu. 

Aroma hisap saat pertama kali dibakar memang sangat khas Dji Sam Soe sekali, sampai 20% rokok terbakar maka bisa anda simpulkan bahwa SKT ini berbahan baku sama dengan Dji Sam Soe Premium, walaupun kemiripannya hanya 50-60%. Lalu setelah rokok terbakar 30%, rasa sepet dan aroma khas Dji Sam Soe kuning mulai terasa. Seperti merek-merek pabrikan Sampoerna yang lain, rasa manisnya atau kadang orang menyebutnya aftertaste “Fruity” tidak sekuat rokok kretek ciptaan produsen dari Jawa Tengah.

Sampai batang terbakar hingga 70%, rasa kurang sedap sudah mulai muncul; pedas dan sepet yang semakin kuat melebihi Sampoerna Hijau kian terasa di langit-langit bagian belakang hingga lidah belakang bagian bawah. Asap yang dihembuskan melalui hidung pun sudah terasa “tajam” hingga memunculkan rasa kurang nyaman saat menghembuskannya. Uniknya, sampai di 80% batang terbakar, tidak ada masalah yang di tenggorokan saat hisapan malah terasa panas di rongga mulut bagian belakang.

Saya sih menyarankan kalian menyudahi menghisap Dji Sam Soe Elite sampai batang terbakar 80-90% karena rasa pedas dan panasnya semakin kuat di sisa batangnya yang terbakar. Dari efek itu, saya lebih memilih menghisap Sampoerna Hijau sampai menyentuh lingkar kuningnya sebagai batas ujung hisap dan batang yang terbakar, masih sedikit lebih baik daripada Dji Sam Soe Elite.

Meskipun para perokok tingwe yang terbiasa menghisap tembakau dari Madura tidak asing dengan sensasi hisap yang dihasilkan Dji Sam Soe Elite, tapi tetap saja untuk sebuah produk yang membawa nama besar merek legendaris, ini tidak bisa ditolerir dan harus ada development produk lagi agar sisa rasa atau aftertaste yang ditinggalkan tidak membuat perokok merasa aneh. Bayangkan saja, aroma tipis seperti menghisap rokok yang dilinting kertas HVS muncul di akhir-akhir rokok ini dihisap, sebuah sensasi yang seharusnya dipikirkan oleh para R&D Sampoerna.

Inovasi Tobacco Shield yang tertulis di bagian depan bungkusnya memang sebuah inovasi yang patut mereka banggakan, tapi deskripsi di bagian belakangnya yang mengatakan; ‘DJI SAM SOE ELITE dilengkapi dengan fitur Tobacco Shield. Sebuah Inovasi agar anda terbebas dari serpihan tembakau untuk memastikan pengalaman merokok yang lebih nyaman dinikmati. Persembahan terbaru dari sang ahli untuk citarasa DJI SAM SOE yang legendaris lintas generasi.” rasa-rasanya kurang pas kalau saya menilai dari aftertaste yang ditinggalkan sedikit mengganggu.

Soal legendaris lintas generasi, saya setuju. Tapi bukankah Dji Sam Soe lebih baik mempertahankan idealismenya sebagai SKT nomor satu dibandingkan harus memaksakan sebuah inovasi yang justru menghasilkan sebuah pengalaman merokok yang kurang baik. Kalau ini dinikmati generasi awal perokok Dji Sam Soe, maka penilaian minus sudah didapatkan oleh merek ini. Bukan tidak mungkin, saat perokok sedang berkumpul, kejadian  sederhana seperti; “Maaf, saya tidak merokok Dji Sam Soe, rasanya pedas dan agak aneh di sisa bakarannya, kalau rokok SKT saya lebih memilih Djarum Coklat Extra atau Gurame yang tidak terlalu manis dan tidak pedas.” bisa terjadi dan tentu merugikan dari sisi brand awareness Dji Sam Soe.

Tentu itu tidak masuk dalam catatan keberhasilan laporan akhir tahun tentang Brand Awareness Dji Sam Soe Elite dan akan jadi evaluasi besar divisi R&D. Dan bisa jadi produk ini malah hanya bertahan dalam hitungan 1-2 tahun karena beberapa kekurangan yang muncul bersamaan dengan terobosan inovasi baru dan tidak dimiliki merek lain tapi tidak memenangkan apa-apa di pasaran.

Saya sebagai perokok yang cukup sering menikmati Dji Sam Soe sebagai rokok variasi kalau sedang bosan dengan rokok kretek beraroma manis sedikit kecewa dengan kemunculan merek ini, yang saat saya tebus di warung kelontong harganya Rp, 18,000, dan berharap ada sensasi baru yang saya dapatkan tapi malah menemui rasa tidak pas saat menghisapnya.

Seharusnya Group Sampoerna belajar dari merek yang gagal naik pamor beberapa waktu lalu; Marlboro SKT Crafted dan Marlboro SKT Klembak, dan jauh sebelum 2 merek itu beredar, lebih dulu muncul Marlboro Advance yang mencoba bersaing di kelas kretek filter layer kedua.

Saya patut memuji 4 merek dari pabrikan Sampoerna yang sampai hari ini nama besarnya tidak goyah di tengah gempuran pabrikan lain, merek-merek tadi adalah; Sampoerna A Mild merah, Dji Sam Soe Premium, Dji Sam Soe Kuning dan Marlboro merah. Semua orang pasti setuju bahwa 4 merek tadi masih cukup berkuasa di pasar Indonesia dan belum ada yang bisa menggoyahkan posisi mereka.

Entah bagaimana caranya, konsistensi rasa yang dimiliki 4 merek tadi tidak perlu diragukan. Merek-merek itu juga bisa dihisap siapapun dan sudah mendapatkan pengakuan sebagai rokok enak bagi mereka perokok Surya, Djarum atau bahkan Bintang Buana dan Fans Militan ASPRO.

Sementara merek lain dari pabrikan Sampoerna masih saya anggap memiliki kekurangan, entah itu konsistensi rasa, aroma hisap yang aneh, aftertaste tidak enak, harga yang tidak sesuai dengan rasa, murah dan malah murahan atau bahkan inovasi-inovasi  baru yang seperti dipaksakan dengan dalih kepuasan konsumen.

Saya hanya bisa berharap di kemudian hari apabila Sampoerna ingin melahirkan merek baru dengan embel-embel inovasi atau apapun itu, benar-benar harus dipikirkan dan tepat guna, tidak hanya sekedar memunculkan inovasi untuk memuaskan segelintir orang. Saya kecewa dengan Dji Sam Soe Elite? Iya. Sebagai orang yang sempat mengidolakan Dji Sam Soe.

Sampai hari ini pun kalau misal Sampoerna bangkrut dan seandainya ada polling yang harus memilih menyelamatkan sebuah merek agar terus hidup, maka Dji Sam Soe SKT akan menjadi prioritas saya yang pantas dipertahankan sebagai rokok legendaris sampai kapanpun.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Lelaki yang Mencintai Banyak Hal