Farmasi Besar Bergelimang Dolar (Bagian Akhir)

farmasi dollar

Sebuah penyelidikan tentang eksperimen obat yang dilakukan kalangan korporat di Afrika, Asia, Eropa Timur dan Amerika Latin menunjukkan dengan jelas banyaknya sistem yang tidak diregulasi dengan baik, di mana eksperimen-eksperimen yang memakai obat-obatan berisiko berlangsung hanya dengan pengawasan independen yang terbatas, para pasien berpendidikan rendah kadang diuji tanpa mengerti bahwa mereka menjadi kelinci percobaan.

Uji coba di luar negeri ini mempercepat proses pengadaan obat itu di pasaran—dan obat-obatan itu sering hanya dijual untuk para pasien di negara-negara kaya.” Joe Stephens, “Testing drugs: Overseas trials lack oversight: Companies target patients in poor nations,” The Miami Herald, Jan 7, 2001, p. 1L

“’Kami menjajah sebuah wilayah untuk uji coba klinis,’ kata Juan Pablo Guzman, yang telah bekerja untuk uji coba klinis di Amerika Latin untuk Searle dan Pharmacia, pada pertemuan tahunan Drug Information Association di San Diego bulan Juni. ‘Kami harus yakin bahwa kami mendapatkan emas di akhir perjalanan.’” “Latin America is fertile ground for experiments,” The Miami Herald, Jan 7, 2001, p. 3L.

Dalam situasi demikian itulah, para peneliti Pfizer menguji secara klinis apa yang diyakini perusahaan itu sebagai antibiotik baru yang menjanjikan pada anak-anak Nigeria yang menjadi korban wabah meningitis di negeri itu. Di antara 200 subjek uji coba itu, 11 meninggal dan lainnya menderita gejala yang terkait dengan meningitis seperti kejang, kebutaan, tuli dan lumpuh. Obat yang diuji itu, yakni Trovan yang digunakan secara oral, belum pernah disetujui atau diuji untuk digunakan pada anak-anak, dan obat yang kandungan kimiawinya sama pernah menyebabkan kerusakan sendi saat diujicobakan pada binatang. 

Menurut artikel di Miami Herald, laporan internal Pfizer sendiri mengungkapkan bahwa anak-anak itu meninggal tak lama sesudah mengonsumsi Trovan secara oral. “Laporan akhir eksperimen menyimpulkan bahwa Trovan dan obat pembandingnya sama-sama aman dan efektif.” Joe Stephens, “Testing drugs: Overseas trials lack oversight,” The Miami Herald, Jan. 7, 2001. Namun tentu saja, banyak di antara mereka yang sakit dan meninggal di negeri-negeri itu tak akan pernah mampu membayar perawatan dengan obat yang berhasil diuji coba itu, ketika obat-obatan itu telah disetujui aman dan berkhasiat oleh FDA.

Perusahaan-perusahaan obat besar multinasional semakin sering dikecam karena berusaha melakukan apapun sebisanya untuk mempertahankan biaya tinggi bagi produk-produknya, bahkan kalaupun biaya itu berarti bahwa obat-obatan penting tidak akan terjangkau oleh kalangan miskin (atau bahkan bagi sebagian kalangan lansia di masyarakat kita sendiri yang pendapatannya terbatas). 

“Memanfaatkan uang melimpah, gugatan hukum yang kreatif dan sistem regulasi yang mudah ditunda pemberlakuannya, para pabrikan besar negeri ini yang memproduksi obat-obatan bermerek berjuang lebih keras daripada sebelumnya untuk melenyapkan dari pasar aneka obat yang harganya lebih murah, imitasi generik atas obat-obatan mereka.

Para pembuat obat generik kadang juga memperkaya diri sendiri dengan menahan produk mereka agar tidak beredar di pasaran, yang mereka lakukan dengan sengaja, untuk mendapatkan imbalan dari perusahaan-perusahaan obat bermerek.” Greg Fields, “Brand-name drug makers’ tactics slow generics,” The Miami Herald, Aug. 17, 2000, p. A1.

Protes publik paling keras terhadap obat-obatan berbiaya tinggi saat itu muncul akibat wabah AIDS di Afrika. Obat AIDS, seperti yang dibuat oleh GlaxoSmithKline, luar biasa mahal harganya, dan akan amat-sangat mahal untuk bisa dipakai di negara-negara berkembang di mana penyakit itu justru benar-benar menjadi wabah. 

“Obat-obatan itu mahal bukan dikarenakan biaya untuk mengembangkan dan memproduksinya (banyak di antara obat-obatan itu sebetulnya ditemukan di universitas-universitas negeri dengan memanfaatkan hibah dari pembayar pajak). Obat-obatan itu mahal karena beberapa raksasa farmasi yang memasarkannya menginginkan untung besar, yang diperkirakan oleh menteri kesehatan Brazil, Jose Sera, hingga 10 kali lipat dari biayanya, atau 1000 persen.” Tom Fiedler, “AIDS fight boils down to dollars vs. lives,” Miami Herald editorial, June 24, 2001, p. 5L.

Perusahaan-perusahaan obat kecil di negara-negara seperti India dan lain-lain di kawasan Afrika sub-Sahara berusaha memproduksi obat AIDS versi yang lebih murah untuk digunakan di negara mereka sendiri dan negara-negara lain yang miskin, namun para raksasa obat multinasional itu menggugat perusahaan-perusahaan kecil itu, menuduh mereka membajak obat paten. 

GlaxoSmithKline akhirnya sedikit mengalah kepada tekanan publik dan menurunkan biaya obat antimalaria dan yang lebih baru obat HIV dan AIDS untuk negara-negara berkembang. Namun, seperti dikemukakan para pengkritik, bahkan dengan harga yang sudah diturunkan, obat-obatan AIDS itu masih terlampau mahal untuk sebagian besar masyarakat di Afrika.

Pada saat bersamaan, beban pengeluaran kesehatan untuk kebanyakan warga kita sendiri yang berusia lanjut, yang kerap memerlukan banyak obat, semakin berat. Ini berarti mereka harus memenuhi kebutuhan itu tanpa obat esensial, atau mengurangi pemakaian obat-obatan itu secara sengaja, dengan tidak memenuhi dosis (yang dalam sejumlah kasus malah lebih berbahaya daripada tidak mengonsumsi obat sama sekali).

Medicare tidak menanggung obat-obatan resep kecuali yang diperlukan di rumah sakit. Menurut Public Citizen, perusahaan-perusahaan obat besar membebani para lansia itu rata-rata dua kali lebih mahal dibandingkan harga yang mereka kenakan kepada pelanggan yang mereka sukai, seperti organisasi-organisasi layanan kesehatan (HMO) dan Departments of Veterans Affairs and Defense. 

Public Citizen menyatakan bahwa penaikan harga untuk pasien rawat jalan Medicare yang memerlukan obat kolesterol tinggi, yakni Zocor dari Merck, sebesar 144%. Organisasi ini juga mengatakan bahwa kenaikan harga obat diabetes Micronase dari Pharmacia mencapai 363%, dan obat perawatan hormon merek Synthroid dari Abbot Laboratories bahkan jauh lebih mengerikan lagi, mencapai 1.446%.

Solusi politik saat ini terhadap masalah biaya pengobatan untuk para lansia adalah dengan membebani para pembayar pajak. Namun, karena para pembayar pajak sudah membayar biaya riset dasar untuk mengembangkan berbagai obat-obatan dan bahkan membayar biaya sebagian uji coba klinis, tampaknya tuntutan kepada para pembayar pajak itu agak terlalu berlebihan. Mungkin solusi yang lebih baik adalah dengan menekan para Raksasa Obat agar memberikan penawaran yang masuk akal sehingga bisa menurunkan biaya pengobatan yang dibutuhkan para lansia—atau setidaknya memberi para lansia itu harga yang sama dengan yang mereka berikan untuk para pelanggan “favorit”. 

Tak diragukan bahwa industri farmasi menyediakan produk-produk yang penting dan diperlukan untuk meningkatkan kesehatan warga Amerika dan menyelamatkan hidup mereka yang menderita penyakit infeksi dan parasit. Namun, pemasaran dan pelanggaran uji coba yang dilakukan perusahaan-perusahaan obat besar itu, serta pengaruh mereka yang nyaris tak terkendali terhadap kebijakan publik (dan lembaga-lembaga pemerintah) menjadi masalah besar di negeri ini dan di dunia.

Bukan mustahil kekuasaan mereka atas praktik kedokteran dan kebijakan kesehatan publik bisa lebih berbahaya bagi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang, dibandingkan bahaya yang ditimbulkan oleh sebagian obat-obatan mereka terhadap kesehatan konsumen perorangan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Lelaki yang Mencintai Banyak Hal