Harga Rokok Murah Bukan Penyebab Meningkatnya Prevalensi Merokok

harga rokok murah

Harga rokok murah sering menjadi kambing hitam kenaikan prevalensi merokok.

Salah satu kampanye anti rokok yang paling menyebalkan adalah soal tudingan kenaikan prevalensi merokok. Mereka sering merinci kenaikan tersebut dengan alasan karena masih banyak orang bisa mengakses rokok harga murah.

Padahal jika mau menelusuri lebih dalam lagi, persoalan itu tidak benar. Seharusnya antirokok mendorong pemerintah mendayagunakan fungsi pengawasannya, alih-alih menghujat harga rokok murah di Indonesia. 

Antirokok ini sepertinya tengah tersesat nalar dan logikanya. Sebab harga rokok murah, meski masih bisa debat, oleh pemerintah sendiri. Mereka setiap tahun menaikkan cukai rokok yang amat tidak memikirkan jutaan orang yang bergantung hidup di dalamnya.

Di sisi lain, pemerintah juga masih “membutuhkan pabrikan rokok hidup” supaya negara terus mendapatkan dana segar dan instan tanpa harus memeras peluh. Antirokok juga ternyata tidak menyadari, jika dampak kenaikan cukai ini akan mempengaruhi kebiasaan pasar. Pasar yang semula nyaman dengan harga rokok, kemudian dia akan mencari alternatif merek rokok lain. Yang lebih murah tentunya.

Lalu pertanyaannya kemudian, jika produsen tidak dapat menjual rokoknya, maka dengan apa mereka bertahan dan menyumbang negara? Ya jawabannya tentu secara insting bisnis mereka akan menurunkan kualitas produksi menggunakan tembakau-tembakau bermutu rendah.

Antirokok kudu menyadari satu hal, alih-alih perokok berhenti merokok. Kenaikan cukai rokok hanya akan menyengsarakan banyak orang, terutama orang yang bekerja di hulu industri hasil tembakau.

Perokok mencari harga rokok murah ya wajar

sederet merek rokok dengan harga murah

Insting perokok itu sederhana. Rokok mahal, cari yang murah. Yang murah menjadi mahal, maka tingwe solusinya. Harusnya antirokok itu mempertanyakan kehadiran pemerintah untuk menghidupkan fungsi pengawasan, kecuali kalau antirokok memiliki agenda besar terhadap bisnis nikotin ini. 

Sungguh amat tidak masuk akal, jika antirokok terus menggunakan alasan harga rokok murah sebagai landasan kenapa prevalensi merokok kian meningkat. Lagian juga kenapa kalau makin banyak orang merokok di Indonesia?

Peraturan sudah banyak sekali, tinggal pemerintah berkomitmen terhadap peraturan tersebut. Perokok juga bisa mengukur dirinya sendiri, kapan waktu merokok kapan harus berhenti. Makin kesini juga banyak perokok cerdas nan santun yang dapat membedakan mana asbak mana ruang publik yang kudu dijaga. Pemerintahnya saja yang tidak bisa adil untuk menyedikan ruang merokok yang baik dan nyaman serta asbak yang mumpuni di ruang-ruang publik yang boleh merokok.

Saya kira, antirokok ini sudah tahu persoalan demikian. Tetapi kadang memang kecerdasan itu kalah dengan helai demi helai dollar yang mudah didapatkan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pecinta kretek asal Trenggalek, Jawa Timur.