Rokok Sampoerna A Mild: Review, Sejarah Perusahaan dan Akuisisi Asing

rokok sampoerna a mild

Rokok Sampoerna A Mild barangkali sangat populer di kalangan anak muda. Rokok dengan isapan yang ringan ini memang memiliki tempat tersendiri di meja tongkrongan anak-anak muda.

Sampoerna A Mild adalah rokok Low Tar Low Nicotine (LTLN) seperti L.A Lights, Class Mild dan sejenisnya. Mild satu ini memang berbeda ketimbang rokok mild lainnya. Bagi saya sendiri yang menggemari rokok-rokok mild, rokok Sampoerna A Mild ini terlalu ringan isapnya. Memang memiliki cita rasa yang khas, tapi rokok ini terlalu hambar jika kita merokoknya dengan jeda yang agak rapat.

Bacaan Lainnya

Jika baranya sudah mulai mendekati filter, cita rasa yang ditimbulkan Sampoerna A Mild ini pun sangat berbeda. Tidak senikmat hingga pertengahan rokoknya. Entah ini apakah sebuah settingan pabrik yang ingin mengirim pesan kepada konsumennya, nikmat rokok habis di tengah-tengah. Saya tidak tahu.

Soal harga, jangan ditanya. Dilihat dari bungkusnya yang  sangat elit, rokok Sampoerna A Mild tentu saja dibanderol dengan harga yang lumayan. Data di lapangan menunjukkan, harga rokok Sampoerna A Mild menyentuh 28.500 untuk isi 16 dan 21.500 untuk sebungkus isi 12.

Sampoerna memproduksi A Mild dengan komposisi 14 mg/1.0 mg tar/nikotin. Awalnya, pabrik menjual rokok ini 12 batang dan 20 batang. Tapi entah kenapa, akhirnya kini pada pokok 12 dan 16 seperti yang beredar di pasaran.

Rokok Sampoerna A Mild ini memang menjadi pemimpin pasar pada sektor rokok Mild Kretek. Hal ini wajar, A Mild adalah rokok mild tertua di Indonesia dengan promosi yang cukup bar-bar dan khas, yang tersebar pada billboard, iklan cetak, televisi, baik pada below the line maupun above the line.

Bagi saya yang fakir ini, merokok Sampoerna A Mild bukanlah pilihan yang tepat. Bukan karena rasanya yang tidak cocok dengan lidah saya, membayangkan harganya saja rasanya tidak sanggup. hehe

Sekilas Sejarah Rokok Sampoerna A Mild*

sampoerna a mild dan la lights

1913 Liem Seeng Tee memulai usahanya dengan memproduksi dan menjual produk Sigaret Kretek Tangan (SKT)  di rumahnya di Surabaya. Usaha kecilnya tersebut, merupakan salah satu usaha pertama di Indonesia yang membuat dan memasarkan Sigaret Kretek Tangan dengan merek Dji Sam Soe


1930 Setelah usahanya berkembang dengan mapan, Liem Seeng Tee kemudian mendirikan perusahaan dengan nama Sampoerna dan memindahkan keluarga serta pabriknya ke sebuah kompleks bangunan di Surabaya, yang kemudian diberi nama “Taman Sampoerna.” Hingga saat ini, Taman Sampoerna masih aktif memproduksi SKT milik Sampoerna.


1959 Bisnis Sampoerna kemudian dilanjutkan oleh oleh generasi kedua dari keluarga Sampoerna, yaitu Aga Sampoerna, yang memfokuskan usaha pada produksi SKT dengan melahirkan 


1989 Sampoerna meluncurkan merek  A Mild yang merupakan produk sigaret kretek mesin (SKM)


1990 Sampoerna menjadi perusahaan publik dan mulai mengembangkan struktur perusahaan modern serta menjalani periode investasi dan ekspansi.


2005 Melihat keberhasilan usahanya, Sampoerna menarik perhatian Philip Morris International Inc. (PMI). Ketertarikan tersebut kemudian membuat PT Philip Morris Indonesia (PMID), anak perusahaan dari PMI, mengakuisisi mayoritas saham Sampoerna pada bulan Mei 2005.

Asing Mengakuisisi Sampoerna

Kini Sampoerna merupakan anak perusahaan PT Philip Morris Indonesia (PMID). Perusahaan ini berafiliasi dengan Philip Morris Inc. sejak 2005. 

Memang, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk telah menjadi bagian penting dari insustri tembakau Indonesia selama lebih dari seratus tahun, terhitung sejak berdiri pada 1913 dengan produk legendarisnya, Dji Sam Soe. 

Sampoerna mengklaim diri sebagai pelopor kategori Sigaret Kretek Mesin Kadar Rendah (SKM LT) di Indonesia dengan produknya Sampoerna A pada 1989. Saya tidak ingin mendebat klaim ini, meski sejatinya sangat debat-able.

 


* Website Sampoerna

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait