Saya Mewawancarai Putri Marino Seputar Gadis Kretek

putri marino

Putri Marino akan membintangi Gadis Kretek. Saya mewawancari aktris cantik tersebut.

Jumat siang yang terik di Jogja tidak mengurungkan niat saya untuk menepati janji bertemu dengan seorang aktris cantik yang baru saja menikah beberapa waktu lalu.

Saya harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit menggunakan motor untuk menuju Lawana, sebuah coffee shop di daerah Sleman. Walaupun sama-sama berada di Kabupaten Sleman,mendatangi Lawana dari area Seturan memerlukan effort yang lebih. Keluar dari kontrakan saja rasanya sudah malas harus menghadapi padatnya lalu lintas di sekitar kampus STIE YKPN dan UPN VETERAN, belum lagi macetnya perempatan Ring Road Condong Catur.

Selesai menghabiskan sebatang Forte di teras kontrakan, saya niatkan dengan penuh semangat dan rasa bahagia untuk pertama kalinya bertemu dengan Putri Marino. Aktris yang beberapa waktu lalu ramai menjadi perbincangan di media sosial karena akan beradu akting dengan Dian Sastro dalam serial Gadis Kretek, yang akan tayang di Netflix.

Sepanjang perjalanan yang rasanya bercampur bahagia dan mengumpat karena jalanan Jogja, saya masih berusaha fokus mengendarai motor MegaPro Kustom saya yang mulai memunculkan suara berdecit dari bagian belakangnya, entah karena lengan ayunnya yang tidak pernah saya lumasi atau malah as roda yang sudah mau lepas. Maklum, motor kustom yang kelayakan jalannya mungkin hanya 60-70% dan hanya ber-asas selamat sampai tujuan tanpa ditilang polisi.

Setibanya di Lawana, saya pesan segelas Caffe Latte Ice dan mengambil 2 Cookies di sebelah kasir yang menurut saya menjadi salah satu Cookies rekomen untuk dinikmati dengan segelas Caffe Latte.

“Mbak, open bill saja, ya. Atas nama Irul”

“Baik, kak. Ada tambahan lain?”

“Sementara itu dulu.”

Saya meninggalkan kasir sambil memperhatikan sekitar, mencari tempat duduk yang sekiranya tidak terlalu panas dan tidak ada kemungkinan mudah dilihat orang.

Wajar saya berpikir seperti itu, Putri Marino seorang aktris yang populer 2 tahun terakhir, bahkan melebihi Dian Sastro yang sudah mulai jarang membintangi film atau serial.

Di bagian belakang yang langsung menghadap hamparan sawah hijau dan perkebunan warga saya duduk menghadap bar atau dari arah konsumen biasanya datang, jaga-jaga kalau Putri Marino tiba di sana dan tidak melihat tempat saya duduk. Saya mengirimkan pesan singkat; “Mbak Putri, aku sudah sampai di Lawana, ya. Nanti langsung pesan saja, sudah open bill atas nama Irul.”

Saya menunggu balasannya sambil merasakan keringat dingin karena gugup dan harus menanyakan beberapa hal mengenai serial Gadis Kretek kepada Putri Marino. Forte Breeze Menthol, semilir angin yang berhembus dan sawah hijau sedikit mengurangi ketegangan saya.

Sambil membuka Tab, mencoba membaca lagi poin-poin pertanyaan yang baru saja saya siapkan pagi tadi. Semua serba mendadak, teman saya, Addin, menghubungi saya malam sebelumnya dan meminta saya menemui aktris cantik itu karena bersedia diwawancara.

Di ujung telepon, saat Addin menjelaskan perihal wawancara itu, saya kaget, senang sekaligus bingung harus berbuat apa. Dia meminta saya menggantikannya karena di hari yang sama sedang ada acara pertemuan suporter di Solo.

putri marino dan dian sastro
Putri Marino dan Dian Sastro akan duet menjadi pemeran utama Gadis Kretek

Sekitar 10 menit kemudian, notifikasi hape saya berbunyi, muncul pop-up di layar dari nomor yang belum saya simpan, pesannya singkat; “Oke.. mas. Aku sudah sampai, ya..”. Jleb! Detak jantung rasanya berhenti beberapa saat untuk kemudian berdegup begitu kencang, ekspresi kaget dengan mata sedikit melotot melihat layar hape, segera saya memalingkan muka ke arah bar Lawana, dari kejauhan saya melihat seorang perempuan berdiri di depan kasir.

Tanpa pikir panjang, saya tinggalkan barang-barang milik saya di meja itu dan berjalan menuju bar. Dengan jantung yang berdegup kencang dan nafas yang sedikit naik-turun karena terburu-buru ke arah bar, saya menyapa perempuan itu;

“Mbak Putri?”

“Eh, Hai, Mas Irul!”.

Maskernya yang menutupi mulut tidak dapat menyembunyikan senyum di baliknya. Itu terlihat dari mata dan alisnya yang bergerak layaknya orang tersenyum, senang karena bertemu seseorang. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Mbak Putri sendirian aja?”.

Jabatan tangannya menyisakan sensasi lembut telapak tangan seorang wanita, dan tentu saja, seorang aktris terkenal!

“Enggak, aku sama supir, tapi nanti dia biar pesan sendiri ke kasir, udah aku kasih tau supaya langsung saja ke bar”.

“Siap, mbak”.

Setelah selesai memesan menu, kami berjalan beriringan menuju area belakang Lawana. Sesekali Putri Marino berhenti untuk mendokumentasikan area sekitar, mungkin menurutnya tempat itu bagus, sementara saya yang sudah terlalu sering ke sana sudah tidak kaget melihat area sekitarnya yang memang enak dipakai kerja mulai jam 2 siang. Addin merekomendasikan tempat ini kepada Putri Marino karena tidak jauh dari tempatnya menginap di Jogja hari itu.

Kami lalu duduk berhadap-hadapan, satu persatu barangnya dikeluarkan dari dalam tas, mulai dari tempat headset bluetooth, handphone, hand sanitizer dan dua barang terakhir yang membuat saya kaget; korek api merek Cricket dan sebungkus Djarum 76 Madu Hitam! Saya mengernyitkan dahi melihat 2 barang terakhir itu diletakkan di meja kami.

“Kenapa, mas??”

Dia heran melihat mimik wajah saya yang memandang rokok yang dikeluarkannya dari dalam tas.

“Nggak, penasaran aja, Mbak Putri ngerokok??”.

“Oohh, nggak kok, tapi iya juga, gimana ya? mungkin lebih pas disebut Social Smoker kali.”.

Raut wajahnya seperti antusias menjawab pertanyaan tentang itu, melihat saya, memperhatikan benda-benda yang ada di meja lalu kembali menatap saya sambil kedua tangannya menata ulang rambutnya yang sedikit berantakan, jepit rambut kecil berwarna hitam di atas meja diraihnya untuk kemudian dipakai di rambut pendeknya yang sekarang jauh lebih membuatnya terlihat cantik. Bukan hanya cantik, tapi pesona seorang aktris seperti dia memang mampu menyihir siapapun yang ada di dekatnya.

Tidak semua orang mampu mendeskripsikan suasana saat itu dengan jelas. Kami, duduk di area yang beratapkan galvalum, dengan beberapa tirai bambu yang dibuka di sekitarnya untuk menghalau panas atau hujan, hamparan hijau sawah dan kebun, semilir angin dan cahaya matahari yang memasuki jam 2 siang, tidak terlalu silau, tapi mampu menyinari wajah seorang Putri Marino dengan sangat baik.

“Kamu siapanya Mas Addin, mas? Teman Sekantor?”.

“Iya, Mbak. Dia hari ini kebetulan ga bisa karena harus ke Solo, dan sebagai gantinya dia akan yang mewawancara Mbak Dian dan Mbak Kamila di Surabaya dan Jakarta.”

“Oh, jadi mereka disamperin nih? klo aku malah kebalikannya ya??”.

Dia memperlihatkan raut wajah sinis, lalu beberapa saat kemudian sedikit tersenyum nakal menandakan dia sedang bercanda kepada saya.

“Bukan, mbak. Bukan gitu konsepnya..”. 

Saya menahan tawa sekaligus merasa gemas dengan candaan itu. Bagaimana tidak, berhadapan dengannya, datang hanya menggunakan kemeja Blouse Satin berwarna Khaki cerah, dan celana panjang hitam yang terlihat sangat pas dengan warna kulitnya.

“Hahaha. Santai aja, Mas. Panas-panas jangan terlalu serius..”.

“Jadi, Mbak Putri sebenarnya bisa merokok walaupun sesekali?”.

“Merokok seperti apa dulu, mas? Kalau seperti mas Irul, dihirup sampai masuk ke tenggorokan kayaknya ga bisa, yah, bisa sedikit, tapi biasanya batuk apalagi rokok kretek.”.

“Bentar, mbak. Mbak ga salah mengartikan kalau rokok kretek itu ada berbagai macam, kan?”.

“Iya, mas, aku tau kok. Ini yang aku bawa ini namanya rokok kretek non filter kann??”.

Raut mukanya saat berkata seperti itu menegaskan dia paham beberapa hal tentang rokok kretek.

“Tapi sebelum mengisi peran di Gadis Kretek, apa sudah tahu sebelumnya tentang kretek?”.

“Udaahh dong! Dikit tapiii, masih susah bedain rokok mild dan filter itu disebut kretek atau bukan.”.

Wajahnya terlihat semakin bersemangat menjawab pertanyaan saya, persis seperti perannya di Layangan Putus saat bercanda dengan Reza Rahadian kala berakting mesra sebagai suami istri di episode-episode awal, saat kisah orang ketiga belum muncul di serial itu.

Sementara dalam pikiran saya tampak dari kejauhan seorang petani berusia lanjut mengayun-ayunkan cangkul seperti merasa iri melihat saya yang asyik mengobrol dengan Putri Marino. Tapi itu di pikiran saya saja, padahal di kenyataan petani itu hanya berjalan menenteng kayu menyusuri pematang sawah.

“Mas, tau kalau makan ikan laut yang enak di Jogja itu di mana??”.

Tiba-tiba Putri memotong pikiran liar saya tentang petani itu.

“Duh, kalau makanan aku ga begitu hafal, karena kalau sudah cocok, malas mencoba yang lain. Mungkin bisa mencoba Rahang Tuna Pak Anwar, Pondok Ikan Dua Putri atau Jimbaran Resto. Di dekat sini ada juga Warung Pesisir yang baru buka..”.

“Terus, kenapa mas Irul punya dua merek rokok berbeda sekarang? kalau soal makanan katanya malas berpindah-pindah, cocok di satu tempat.”.

“Manusia kan sesekali bertemu dengan yang namanya kebosanan, mbak”.

“Manusia atau laki-laki, mas??”.

Matanya tiba-tiba melihat saya dengan tajam, bibirnya terlihat menahan senyum seusai berkata-kata seperti itu.

“Mbak, mau bahas ikan, rokok atau laki-laki sih?”

“Aku sih lebih senang nyoba-nyoba, tapi MAKANAN yaa. Kalau rokok, karena perlu pendalaman di serial ini, aku baca-baca soal kretek dan dinamika di dalamnya, mas. Sekaligus aku nyoba beberapa merek rokok kretek sebagai pengayaan materiku nanti.”.

Seorang waitress datang menyela obrolan kami, dia mengantarkan pesanan kedua Putri; onion ring. Nomor meja kami diambil pertanda semua pesanan sudah diantar olehnya. Sayup terdengar lagu “Cold Heart” milik Elton John yang duet dengan Dua Lipa keluar dari speaker  Lawana.

Kami melanjutkan obrolan yang tiba-tiba menjadi “random” siang itu. Harusnya saya menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang saya catat di gadget, dan beberapa pertanyaan titipan dari Addin yang dikirim melalui Whatsapp. Tapi apa daya, kecantikan Putri Marino berhasil menjadi sihir yang membutakan mata dan pikiran saya untuk membicarakan tentang serial Gadis Kretek.

“Kamu suka mereview produk rokok juga, mas??”.

“Iya.., sesekali kalau lagi merasa percaya diri..”.

“Percaya diri? apa hubungannya??”.

“Aku bukan ahli tembakau yang mampu membedakan bau tembakau yang diperam dan berkualitas bagus. Penciumanku hanya sebatas membedakan tembakau berasal dari region mana, khas mana, enak atau tidak dan layak konsumsi apa tidak?. Pengalaman merokok puluhan tahun salah satu alasannya, dan berteman dengan orang-orang gerakan advokasi tembakau serta petani menjadi alasan lainnya aku bisa mereview sebuah produk”.

“Terus, di mana ke-tidak-percaya-an diri yang kamu maksud? bagiku itu sudah lebih dari cukup.”.

“Tidak bisa begitu, mbak, aku bisa dianggap memihak seandainya mereview sebuah merek seperti Dji Sam Soe misalnya, karena aku perokok yang beraliran Jawa Tengah atau Kudus-an.”.

“Oh, itu pengaruh ya?”.

“Iya, dong. Kamu ga bisa menganggap Djarum 76 Madu Hitam itu enak sebelum kamu mencoba produk varian Juara, atau rokok beraroma madu yang lain; Esse misalnya..”.

“Jadi kalau mau mereview rokok itu harus mencoba produk pembanding, atau kompetitornya?”.

“Iya, harus. Suka atau tidak dengan produk itu, kamu tetap harus mencoba. Belum lagi keberpihakan kamu terhadap kebiasaan menghisap rokok harianmu dan rokok yang akan direview.”.

“Seandainya ada orang yang mereview rokok, berapa persentase mereka bisa dipercaya??”.

“Kita harus lihat, apa rokok hariannya, apa rokok selingannya, dia perokok aktif atau sekedar social smoker seperti mbak Putri? Lalu apakah dia penikmat vape? kalau iya, maka indera perasanya mungkin tidak akan setajam orang yang biasa menikmati tembakau konvensional.”.

“Kenapa bisa begitu? apa karena kebiasaannya menghisap produk yang terlalu aromatik seperti Shisha?”.

“Bisa saja begitu. Jadi tiap kali menghisap rokok yang direview, perekam di indera perasanya hanya akan mencatat seberapa harum dan fruity hisapan asapnya, lalu rekaman yang paling jelas yang ditangkapnya adalah rasa pahit. Padahal rokok kretek juga punya kepahitan berbeda; dirasakan di rongga mulut sebelah mana, ada sepet, kecutnya atau tidak, meninggalkan aftertaste seperti apa dan lainnya.”.

“Wah, kompleks juga. Tidak sesederhana soal manis, pahit dan menthol aja, ya?.”.

“Iya. Bener. Seperti 76 Madu Hitam yang kamu hisap, bisa saja…, bentar, kenapa aku malah yang diwawancara ini?.”.

“hahhaha..”.

Mendadak tawanya lepas melihat mimik muka saya yang kebingungan.

“Ini aku bisa diamuk sama Addin kalau pulang tanpa hasil, Mbak Put..”

“Loh, bukannya ini obrolan menarik yang bisa kamu tulis, mas? kan seru ngobrolin rokok kretek sama salah satu aktris di serial Gadis Kretek?.”.

Sedikit tertawa dia kemudian mengambil sebatang 76 Madu Hitam dari dalam bungkus.

“Kalau mereview, harus dicium seperti ini?”.

Dia mempraktekkan adegan mencium batang rokok perlahan dari ujung bakar ke ujung hisap, ditempelkannya batang rokok tepat di hidungnya sambil matanya lurus menatap saya, raut mukanya menunjukkan keseriusan; mencoba mencermati aroma rokok berulang kali dengan menggerakkan batang rokok ke kiri dan kanan.

“Begini?”

Tanyanya lagi.

“Ya, dan kamu harus mengingat ada berapa macam aroma yang muncul dari sebatang rokok itu. Kadang kita cuma menangkap 2 sampai 3 macam aroma saat menciumnya pertama kali, tapi kalau dicoba berulang kali mungkin bisa sampai 5 macam aroma dan munculnya bisa sangat singkat.”

“Oh ya??”

Dia lalu memejamkan matanya, mencoba mencium lagi secara perlahan sambil kedua tangannya  bergantian memegang batang hisap dan batang bakarnya.

Melihatnya memejamkan mata dan menempelkan batang rokok di hidungnya siang itu membuat jantung saya kembali  berdegup cukup cepat, terik yang tadi saya rasakan hilang seketika tertiup semilir angin yang menghantarkan wangi parfumnya yang lembut, elegan, membekas di ingatan, membuat siapapun yang menciumnya merasa luluh dan ingin berperilaku sebaik mungkin kepada pemakai parfum itu.

Siang itu tidak sedikitpun saya berpaling dari memandang wajah Putri Marino yang hanya berjarak kurang dari 50 cm di hadapan saya. Lekuk rahang, make up tipis dan rambut bagian depan yang sedikit berantakan karena tertiup angin nampak jelas terlihat.

Rasanya saya tidak sedang berada di Jogja hari itu, hamparan sawah dan lahan kebun milik warga membuat saya seakan-akan berada di sebuah coffee shop dataran tinggi Munduk, Bali.

Saya sedikit menjauh dengan bersandar di kursi dan hanya berharap tidak ada orang lain yang mengenali Putri Marino di Lawana agar tidak ada adegan minta tanda tangan atau foto bareng.

Sambil bersandar, menghisap rokok dengan perlahan, saya mengalihkan pandangan ke arah bar, seorang wanita yang saya tunggu-tunggu siang itu terlihat dari kejauhan sedang berada di depan kasir, sepertinya sedang sibuk memilih menu untuk dipesan.

Wanita berhijab itu berjalan mendekati tempat duduk saya, dia membuka maskernya lalu tersenyum melihat saya. Namanya Kharisma Wibisono, mahasiswi UIN Jogja yang tertarik membantu Boleh Merokok dalam waktu dekat untuk membuat konten video.

“Mas, maaf bangeettt aku terlambat. Dari kampus kesini butuh perjuangan melewati Gejayan dan Jalan Kaliurang!. Lagian kamu ngajak ketemuan jauh banget. Hih!”

Kharisma terlambat hampir 1 jam lebih karena beralasan masih harus mengurus beberapa hal di kampusnya. Kami mengagendakan pertemuan siang itu untuk membahas konsep konten video yang akan digarap.

Rasa bosan menunggu hampir 1 jam membuat saya menulis-menghapus-lalu menulis lagi artikel mengenai Gadis Kretek. Tapi bukan tulisan yang muncul, malah imajinasi bertemu Putri Marino siang itu di Lawana muncul dengan liarnya hingga adegan interview berulang kali muncul di kepala saya.

Kharisma yang sudah duduk di hadapan saya sambil menghisap rokoknya masih memandang keheranan, melihat saya yang tersenyum, menunduk dan tersenyum lagi mengingat kekonyolan yang muncul di pikiran saya 1 jam terakhir.

Sungguh, cuaca terik kembali menyengat berbarengan dengan bayangan Putri Marino yang perlahan hilang karena fokus saya harus beralih kepada Kharisma.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait