Asap Rokok Wisława Szymborska: Ekspresi Puitik Perhelatan Nobel Sastra Dunia

Asap Rokok Wisława Szymborska

Asap rokok Wislawa Szymborska tidak semata hasil tembakau terlinting yang terbakar. Ia adalah ekspresi putik sastra yang mendunia.

Sekali waktu, jika kamu dilanda stress dan merasa butuh healing dari beban hidup yang menekan. Sulit untuk dijelaskan dengan cara apa dan kepada siapa ditumpahkan. Ambillah secarik kertas dan pulpen. Jika tak ada kertas buku, pungut saja kertas nasi warteg, jika tak ada juga, bungkus rokok pun jadi. Meski kamu tahu menumpahkan puisi menggunakan gawai jauh lebih akrab dengan generasimu.

Tumpahkanlah uneg-unegmu, ekspresikanlah sebagaimana Wislawa Szymborska merayakan puisi di atas kertas bersama kepulan asap rokoknya. Siapa sangka dari kecamuk pikir itu lahir puisi-puisi seperti Nothing Twice, Report From Hospital, Under One Small Star, The End and The Beginning. Lampauilah produktivitas Wislawa, yang telah menulis lebih dari 350 puisi. 

Penyair berdarah Polandia yang dikenal perokok sampai hari tua itu sudah terlihat kecakapan puitiknya sejak kecil.

Semasa kecil, dia selalu mendapatkan “hadiah” dari ayahnya berkat puisi yang ditulisnya. Ayahnya sangat mengapresiasi semua puisi Wislawa Szymborska. Semasa kecil puisi-puisinya dipastikan tak pernah luput dari perhatian ayahnya, jika sang ayah menyukainya, Wislawa kecil akan mendapatkan koin sebagai hadiah. Dari hadiah itulah dia dapat membeli apa pun yang dia inginkan.

Wislawa sangat dewasa sebelum waktunya. Saat masih berusia lima tahun di sekolah, ia sudah terlihat cakap dalam berpuisi. Setiap orang di keluarganya tergolong pembaca yang setia, keluarganya dikenal akrab dengan buku. Bahkan, perihal berdebat tentang buku, itu hal yang lumrah terjadi di keluarganya.

Ayahnya bekerja sebagai kepala pelayan Pangeran Wladyslaw Zamoyski, pemilik kota Kórnik. Ketika ayahnya meninggal, setahun kemudian perempuan kelahiran 1923 dengan nama lengkap Maria Wislawa Anna Szymborska harus pindah bersama keluarganya ke Torun, ada sumber yang menyebut pula di Krakow, ibukota Polandia, sekira 3 jam perjalanan bus dari Torun.

Torun adalah salah satu kota yang dikenal sebagai kota pendidikan di Polandia, seperti halnya Jogjakarta kalau di Indonesia. Kota yang dikenal menyimpan nuansa gothic pada arsitektur bangunan-bangunannya. Sebuah kota tua di Polandia yang terdaftar di Unesco sebagai salah satu dari World Heritage Sites di dunia.

Sejak tahun 1931, keluarganya harus berpindah rumah, meskipun dia sudah mendaftar di sekolah biara di Krakow. Namun studinya itu tidak ditempuhnya sampai tuntas. Ini menjadi salah satu penanda penting bagi kejiwaan penyair yang pernah mengalami masa Perang Dunia Kedua. Selain itu, kepergian ayah tercintanya tentu telah memberi ‘puisi’ yang mendalam bagi jiwanya. 

Keluarganya kemudian menetap di Krakow, disusul beberapa tahun setelah itu meletus Perang Dunia Kedua, tepatnya pada tahun 1940. Sejarah pendudukan Jerman di Polandia menorehkan penderitaan yang cukup memberi pengaruh pada visi kemanusiaannya dalam menulis.

Pada kecamuk sejarah perang di Eropa itu, di Polandia banyak para gadis sebayanya yang tidak bisa bersekolah di sekolah umum. Namun, hal itu tidak menghentikan semangat Wislawa Szymborska untuk melanjutkan studinya dan melakukannya di sekolah bawah tanah, di Kastil Wawel. Pada tahun 1941 ia menyelesaikan sekolah menengahnya.

Kerja aktif penyair Polandia ini dalam menulis ditengarai dua tahun setelah lulus dari sekolah bawah tanah tersebut. Dia bekerja sebagai buruh di perusahaan kereta api di Krakow, Polandia. Suasana langit Eropa dikuasai kecamuk Perang Dunia II. Ini adalah salah satu cara agar dia tidak dideportasi ke Jerman untuk kerja paksa. Juga selama waktu ini dia menghabiskan sisa waktunya membuat ilustrasi untuk buku teks bahasa Inggris dan menulis baik cerita pendek maupun puisi.

Di awal karir kepenulisannya, dia banyak menulis beragam tema politik dan komunisme di Eropa. Wilsawa kerap memakai nama pena agar tidak dikenali. Sampailah kemudian, dia bekerja di kantor surat kabar di antara orang-orang yang sangat liberal dan anti komunis pada saat itu. Didorong jiwa rebel terhadap aturan-perang 1980, kemudian Wislawa menerbitkan kumpulan puisi bawah tanah. 

Perlu diketahui pula, sejak rezim Stalin pecah di awal 1950, Szymborska dengan gigih telah menolak puisi yang dikuasai ideologi tertentu, tahu sendiri lah ya bagaimana rezim Stalin melancarkan obsesi politiknya. Dan sebagai gantinya, Wislawa menggunakan kekuatan observasinya untuk mengatasi beragam inti persoalan. Tidak hanya dalam konteks menulis.

Pada perjalanan karir kepenulisannya, Wislawa Szymborska semakin meninggalkan tema-tema politik, demikian gamblang dan tersurat. Dia lebih banyak mengangkat tema-tema universal dan norma-norma humanis dengan tutur bahasa yang senantiasa indah.

Perang Dunia Kedua berakhir, kondisi itu membawa Wislawa Szymborska kemudian melanjutkan studi. Ia mendaftar di Universitas Jagiellonian di Krakow, dia memilih jurusan sastra Polandia. Tetapi akhirnya mengubah karirnya ke sosiologi. Meskipun demikian, dia tidak dapat menyelesaikan studinya, ia keluar pada tahun 1948.

Semasa menjadi mahasiswi yang demikian singkat itu, ia telah menerbitkan beberapa puisi di koran dan majalah. Perlu diketahui juga, pada tahun 1945, puisi pertama yang diterbitkan Wislawa Szymborska dalam rubrik sastra untuk harian Dziennik Polski.

Wislawa Szymborska menikmati rokok

Puisi dengan judul Saya Mencari Kata (Szukam slowa). Itu memang bukan berarti debut perpuisiannya dimulai, tetapi menjadi pintu pembacaan sejarah atas karir kepenyairan dan jurnalistiknya di surat kabar lokal semakin moncer. 

Pada tahun 1948, ketika Wislawa keluar dari perguruan tinggi karena kesulitan biaya. Dia mulai bekerja sebagai sekretaris di majalah pendidikan, khususnya di surat kabar yang memberinya kesempatan pertama, Dziennik Polski. Pada saat yang sama dia menjadi sekretaris, dia juga menjabat sebagai ilustrator dan penyair, karena dia terus menerbitkan puisi.

Padahal, pada 1949, ia sudah memiliki koleksi puisi pertamanya. Tiga tahun berselang, tepatnya pada tahun 1952, ia merilis kumpulan puisi berikutnya, Dlatego Zygomy yang artinya “Itulah mengapa kita hidup”—yang sebagian besar penuh dengan ideologi politiknya.

Pada masa  itulah Wislawa menjadi anggota Partai Buruh Polandia, dengan membawa perasaan sosialis yang besar, bahwa ia tidak lantas berhenti pada kumpulan puisi itu, tetapi juga pada puisi berikutnya, pada tahun 1954, Pytania Zadawane Sobie (Pertanyaan yang Diajukan Untuk Diri Sendiri) diterbitkan.

Selanjutnya, meskipun seorang sosialis, pada tahun 1957, dia kembali menerbitkan kumpulan puisi baru, bertajuk Walanie Do Yet (Panggilan untuk Yeti). Pada antologi epic itu, dia menunjukkan sebuah kekecewaan yang jelas dan putus dengan ideologi politik yang dianutnya. Tersirat bagaimana dia berubah dalam pemikirannya, tidak puas dengan cara kerja politik seperti itu.

Selain itu, ia semakin kentara menunjukkan kepeduliannya terhadap kemanusiaan, terutama terhadap Stalinisme. Bahkan, sampai-sampai mendedikasikan sebuah puisi untuk Stalin, di dalam puisi itu ia membandingkannya dengan manusia salju yang keji (Yeti). 

Sampai saat itu dia meninggalkan komunisme dan sosialisme sehingga dia menolak dua karya yang diterbitkan dan tidak pernah ingin mendengar karya itu dari kalangan sosialis-komunis. Wislawa Szymborska adalah seorang yang menyukai kesunyian dalam hidupnya. 

Selain dikenal dengan karya-karyanya yang mendalam berbicara tentang kemanusiaan. Mata sejarah turut pula merekam satu peristiwa eksentrik yang berhasil diabadikan seorang jurnalis foto dunia. Sehari setelah penyair Polandia ini menerima nobel sastra pada tahun 1996.

Pada perhelatan prestisius sastra itu Wislawa Szymborska mengepulkan asap rokoknya, duduk di antara tamu tak dikenal di perjamuan Nobel di Balai Kota Stockholm, Swedia. Karyanya digelari sebagai “puisi yang indah, dalam dan halus”.

Ya. Boleh jadi itulah ekspresi kritiknya dari penyair perempuan cum perokok berat yang kerap membutuhkan kesendirian untuk dapat menulis. Ia tidak menyukai kerumunan dan tampil di depan publik. Tipikal karyanya bukan karya yang didedikasikan untuk kerumunan, bersifat eksistensial. Karyanya menghadirkan pesan mendalam berdialog secara individual dengan pembacanya.

Bahkan, untuk sekadar membacakan puisinya. Kontak utama dengan dunia luar, hanya dapat dilakukan lewat sebuah kolom koran lama, “Non-Compulsory Reading”. Beliau tergolong ‘pelaku lama’ yang tidak mau menggunakan komputer untuk menulis. 

Wislawa menulis baik-bait sajaknya di atas kertas dengan pena. Menurut dia, dengan menulis tangan ia merasa dapat menyalurkan dengan lancar seluruh ide dan gagasannya serta dapat merasakan maksud yang tersampaikan dari setiap kalimat yang ditulis. 

Bukan lagi rahasia umum, bahwa menulis tangan adalah salah satu kegiatan therapeutic yang diusulkan para ahli, seperti halnya orang melinting tembakau (tingwe). Untuk menstimulasi kerja kognisi untuk senantiasa kreatif, melatih fokus dan memberi jeda bagi hidup yang kian diburu oleh waktu.

Wislawa Szymborska meninggal pada 1 Februari 2012 silam, kerja budayanya di dalam peta sastra dunia akan senantiasa dikenang. 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Seniman kopi pahit dan kretekus sampai nanti.