Gagal Berlibur ke Dieng, Terbenam di Temanggung

berlibur ke dieng

Sekitar 2 minggu yang lalu, aku bersama dengan seorang teman merencanakan sebuah liburan singkat dan sederhana menuju Dieng, untuk sekadar meninggalkan sebentar kesibukan kuliah di Jogja dan menyegarkan pikiran. Tujuannya satu, ya agar skripsi bisa berjalan baik dan cepat selesai. Amin. 

Kami berdua sepakat untuk jalan-jalan ke Dieng, dan spontan saja kami berangkat tanpa merencanakan banyak hal seperti umumnya wanita kalau mau bepergian. Bergantian menyetir mobil dari Jogja menuju Wonosobo di malam hari membuat kami sedikit ketakutan dan sebenarnya kelelahan karena sedari siang sudah sibuk dengan urusan kampus dan beberapa hal lain di luar kampus.

Kami akhirnya memutuskan untuk mampir ke rumah salah seorang teman di Parakan, Temanggung, dan berencana untuk menumpang istirahat semalam di sana, lalu melanjutkan perjalanan di hari berikutnya menuju Dieng.

Tapi rencana ya tinggal rencana. Sesampainya di Temanggung, teman kami menawarkan untuk menetap lebih lama dari rencana awal kami ketika berangkat dari Jogja. Teman kami mengajak untuk berkeliling Temanggung karena kebetulan ini sedang musim panen.

Esoknya kami berencana berkunjung ke daerah Posong, tapi karena sedang musim panen maka jalan menuju Posong tidak bisa dilewati mobil. Memang ada alternatif menggunakan ojek yang ditawarkan oleh warga sekitar, tapi karena pagi itu udara dingin sekali, kami mengurungkan niat menuju kawasan wisata Posong dan memilih untuk menuju Embung Kledung yang tidak jauh dari situ.

Mulai sejak perjalanan dari Parakan menuju Posong, kami sudah semakin sering melihat ladang tembakau, sebagian dari tanaman tembakau di ladang itu sudah dipanen, jadi banyak ladang yang hanya menyisakan batang pohon tembakau yang sudah gundul karena daunnya yang sudah dipanen. 

mengunjungi ladang tembakau petani

Selesai dari embung Kledung, sarapan di daerah Posong, kami lalu kembali ke rumah teman kami di parakan untuk mandi dan ganti baju. Hari itu kami diajak untuk berkeliling ke beberapa petani tembakau, ladang dan gudang tembakau di daerah parakan. Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah gudang milik Pak Medi. Menurut penjelasan teman kami, beliau adalah seorang petani mitra binaan Djarum.

Dan sudah menjadi rahasia umum, Djarum adalah salah satu pabrikan yang selalu dan wajib mencari tembakau dengan kualitas bagus untuk bahan baku rokok produksinya. Dan cocok sekali kalau mau mengkonfirmasi tentang “rahasia umum” tadi kepada salah seorang petani mitra pabrikan itu.

Di tempat Pak Medi, kami secara kebetulan juga mendapati pegawai gudang sedang memilih tembakau yang akan dijadikan contoh untuk dikirim ke grader, dari situ apabila sampel atau contoh tembakau diterima dan layak dijual ke pabrikan, baru keranjang penuh dari sampel yang diterima akan menyusul dikirim ke gudang besar milik grader. 

Aktivitas hari itu tidak begitu ramai, hanya terlihat seorang pekerja gudang yang sedang membersihkan sisa atau remah-remahan tembakau dan seorang lagi yang mengikat dan menandai tembakau contoh yang akan dikirim.

melihat petani tembakau bekerja

Pak Medi, walaupun tidak secara detail bercerita kepada kami, mengatakan bahwa sudah beberapa tahun sejak kenaikan cukai yang tinggi membuat hasil panen para petani tembakau tidak terserap dengan baik, atau harga yang ditetapkan pabrik lebih murah dari tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi di tahun 2020 harus menghadapi pandemi Covid 19.

Misalnya begini, di tahun 2020 harga tembakau grade E ada di kisaran Rp, 50,000, /kilo, tapi karena kenaikan cukai, di tahun berikutnya pabrikan yang harus menekan biaya produksi akhirnya hanya mampu membeli tembakau E tadi dengan harga 40,000 dan menurunkan jumlah pembelian mereka dari yang misalnya 100 kg kemudian menurun hanya mampu membeli separuhnya saja.

Penyebabnya bisa macam-macam, produksi rokok merk A misalnya yang harus dihentikan karena harga produksinya sudah tidak sesuai dengan harga jual dan masih harus kena pangkas cukai rokok yang terus naik setiap tahun. Akhirnya merek A yang menggunakan tembakau berkualitas seperti grade E tadi harus berhenti produksi karena tidak mungkin menggunakan tembakau dengan grade lain seperti F atau G, atau campuran dari keduanya karena alasan biaya produksi atau kualitas.

Itu baru 1 kasus, misal berurusan dengan 1 pabrik rokok, dan tembakau E tadi tidak bisa dijual ke pabrik lain dengan sembarangan, karena belum tentu pabrik 1 dan 2 menggunakan tembakau grade E dari Temanggung.

Memang, tidak menutup kemungkinan, tembakau tadi akhirnya dijual murah ke pasar, atau dijual rugi daripada harus menyimpannya. Paling tidak tembakau terjual dan mengembalikan biaya modal tanam para petani. Siapa yang diuntungkan dengan membeli tembakau-tembakau murah yang tidak laku tadi? tentu saja pabrikan rokok ilegal salah satunya.

Untuk memahami bagian tadi saja tidak semudah dengan membaca tulisanku ini lalu menganggukan kepala tanda setuju, masih ada kerumitan lain yang perlu dijelaskan jauh lebih panjang daripada sekedar persoalan tembakau milik petani yang tidak terbeli, pabrik membatasi pembelian bahan baku rokok imbas kenaikan cukai, dan tembakau tidak laku terpaksa terjual di pasar dengan harga murah.

Aku, atau mungkin sebagian dari kalian pasti berpikir kenapa tidak beralih ke tanaman lain saja?, sudah, dan tentu itu pilihan yang masuk akal. Tapi itu hanya terjadi untuk petani tembakau yang memiliki ladang di dataran rendah atau daerah bawah saja. Itu tidak bisa diterapkan oleh mereka yang tinggal dan memiliki ladang di dataran tinggi atau bahkan persis di kaki gunung di daerah Temanggung.

Datanglah ke desa Parakan di Temanggung, lalu main ke daerah Posong dan kemudian ke Lamuk, tanya saja bagaimana kontur tanah yang ada di sana, cuaca, serta kesulitan menanam dari masing-masing daerah tadi. Tanyakan juga, apakah bisa menanam terong di dataran tinggi, atau cabai? Tanyakan juga bagaimana kesulitan para petani dataran tinggi yang harus naik-turun ke ladang dan menggarap lahan dengan posisi tubuh miring seperti gaya “Moonwalk” Michael Jackson setiap hari.

Daya upaya mereka menggarap lahan seperti itu tidak sebanding dengan harus menjual cabai dan sayuran yang mungkin perkilonya hanya terjual 20-30,000. Itu belum harus berjuang menghadapi alam; hujan, panas dan hama. Ada cara lain yang menurut orang-orang di Ibu kota bisa dilakukan; mencari pekerjaan selain menjadi petani. Mudah, sangat mudah, aku pun bisa berkata seperti itu, jauh sebelum aku datang ke Temanggung.

Para kretekus yang baik, pembaca setia situs ini, tentu kalian sudah pernah membaca berkali-kali bagaimana teman-teman di KNPK menyuarakan bahwa bukan hal mudah untuk membuat petani tembakau di Temanggung beralih dari menanam tembakau ke tanaman lain atau menyarankan mereka untuk berhenti menjadi petani dan memilih profesi lain.

Mereka punya pengeluaran dapur yang harus terus dibiayai, anak yang harus dipenuhi kebutuhan sekolah dan cemilannya, sandang dan urusan pajak lain dengan negara yang harus diselesaikan sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Memiliki banyak solusi mengatasi penghasilan petani yang disampaikan oleh anti rokok di media-media mainstream memang bagus secara teori, tapi apakah mereka pernah membuat penelitian panjang tentang pertanian tembakau ini? minimal di Temanggung, daerah yang memiliki keunikan tersendiri di masing-masing wilayah kecamatan seperti yang aku sebutkan tadi, dan itu hanya sebagian wilayah saja.

Dan apa yang kukatakan di awal tadi hanya bagian kecil dari problematika petani khususnya di Temanggung. Belum lagi kalau harus menelusuri persoalan yang dihadapi jika harus berurusan dengan pemerintah, undang-undang atau peraturan, dan hal lain yang tanpa disadari pelan-pelan menggerus kehidupan petani tembakau.

Hari itu, setelah duduk sekitar 1 jam di gudang miliknya, Pak Medi mengajak kami mampir ke rumahnya, sekedar menikmati teh dan cemilan yang sudah disiapkan oleh istrinya. Pak Medi masih ingin bercerita banyak mengenai petani dan pertanian tembakau di Temanggung. Kata Pak Medi, paling tidak, kisah petani Temanggung bisa aku ceritakan kepada anak-cucuku kelak, seandainya sudah tidak ada lagi petani tembakau di negara ini.

Banyak catatan dari obrolanku dengan beberapa orang selama berada di Temanggung, mungkin tidak menyentuh seperti kisah-kisah atau liputan khusus sebuah kantor media, dan bisa selesai dalam 1 tulisan saja.

Tapi paling tidak apa yang aku tulis di sini menjadi cerita ringan yang mudah dibaca dan sebagai jawaban bahwa tulisan-tulisan KNPK mengenai petani khususnya di Temanggung memang benar terjadi dan sedang dialami oleh mereka saat ini, dan permasalahan yang mereka hadapi sudah seperti bola salju yang semakin hari semakin besar dan tidak bisa dihindari dan harus dihadapi oleh mereka, para petani tembakau di Temanggung.

Maturnuwun sudah menyempatkan membaca. Nanti kalau ga sibuk produksi video untuk youtube boleh merokok, aku sempatkan buat menulis lagi di situs ini perihal cerita perjalanan singkatku di Temanggung.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pesilat dari tanah Jawa