PBNU, Nahdliyin dan Jiwa Korsa Membela Industri Hasil Tembakau

PBNU dan Nahdliyin memang selalu konsisten dalam membela industri hasil tembakau dari segala ancaman.

Sebagai organisasi masyarakat terbesar di dunia dan akhirat, Nahdlatul Ulama tidak hanya garda terdepan dalam syiar-syiar agama yang sejuk dan merangkul. Lebih dari itu, Nahdlatul Ulama juga senantiasa berkontribusi nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Soal konteks ini, NU yang direpresentasikan oleh Nahdliyin yang lucu-lucu itu memang tidak diragukan lagi. Kalau toh ada satu dua oknum yang kadang-kadang terlalu serius dan bikin gemes di jagad media sosial, ya anggap saja itu Nahdliyin yang sengaja diciptakan Gusti Allah buat menguji kesabaran Anda semua.

Kontribusi nyata NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentu tak terkira lagi. Seandainya ada yang mau merusak negeri ini, saya yakin Nahdliyin akan ikut berada pada garda terdepan untuk menangkalnya. Tetapi, saya tidak ingin membahas persoalan ini. Saya ingin fokus pada militansi warga Nahdliyin dalam bab perududan. Setiap kumpul-kumpul pengajian dan sebagainya, rokok dalam gelas selalu tersedia di sela-selanya.

Ya, “PBNU tidak akan mengharamkan rokok hingga kiamat”.

Begitulah kiranya yang pernah diucapkan Kiai Arwani Faisal, sosok di balik Staf Dewan Halal PBNU pada masanya.

Meski ya kita sama-sama tahu, dalam konteks hukum rokok, NU tetap moderat. Sebagaimana yang dijelaskan pada artikel Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?

kenduren NU

Saya amat yakin, konsistensi PBNU dalam membela Industri Hasil Tembakau (IHT) tidak karena dulu pernah memiliki pabrik rokok Bintang Bola Dunia yang memproduksi Tali Jagat, atau melindungi warganya yang menjadikan sebatang kretek sebagai salah satu wasilah menuju salik. Lebih dari itu, sebab PBNU dan nahdliyin tahu betul IHT berkontribusi besar, tidak hanya kepada masyarakat tapi juga kepada negara. 

PBNU saya yakin menyadari betul, jika dari tahun ke tahun pendapat negara dari cukai dan pajak rokok terus meningkat. Selain itu, juga ada puluhan juta orang yang ketiban berkah dari tembakau dan cengkeh yang diciptakan Tuhan.

Sebagai warga Nahdliyin karbitan, saya sangat bangga dengan progresivitas PBNU dalam membela IHT. Berbagai sisi dikaji, mulai dari hukum, ekonomi hingga kebijakan-kebijakan yang mengelilinginya.

Ketika ada wacana kenaikan cukai rokok, PBNU tak ragu untuk memberikan kritikan dan usulan kepada pemerintah. Karena PBNU tahu, implikasi kenaikan cukai ini tidak main-main. Ribuan hingga jutaan orang mungkin saja akan menjadi korban atas keserakahan negara.

Saya bukan siapa-siap. Merasa nahdliyin ya karena klaim saya semata. Tetapi, sebagai warga Indonesia, saya berharap PBNU terus konsisten dalam membela dan melindungi IHT dari obok-obok bangsa sendiri yang sepertinya ada dalang bernama asing. 

Baca: Rokok yang Digemari Kiai NU

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pengasuh Yayasan Tahfidzul Qur'an Ma'had A'immah wa Dakwah