Dosa Sri Mulyani kepada Perokok dan Petani

dosa sri mulyani

Dosa Sri Mulyani kepada perokok, petani dan semua orang yang bergantung kepada IHT terlampau besar. 

Sri Mulyani menjadi menteri keuangan Republik Indonesia (RI) pertama yang mampu mencetak rekor menaikkan tarif cukai rokok tertinggi. Dia telah menaikkan tarif cukai rokok hingga 63,49%. 

Bagi dia, itu adalah prestasi termutakhir. Dia merasa mampu memaksimalkan pendapatan negara. Namun sialnya, pendapatan itu didapat dari keringat dan air mata para petani, buruh, dan pabrik rokok, yang pura-pura terus baik-baik saja meski negara istiqomah merampoknya.

Kita tentu sama-sama tahu, Industri Hasil Tembakau (IHT) sejak dulu memang menjadi penyelamat perekonomian bangsa. Ketika krisis, IHT solusinya. Ketika BPJS boncos, IHT solusinya. Ketika covid melanda, IHT solusinya. Dan ketika-ketika persoalan ekonomi lainnya, IHT tidak pernah absen untuk membantu negara. 

Tidak pernah ada sepertinya, BUMN hadir untuk turut membantu mengisi kas negara. Lha kok jangankan mengisi kas negara, tidak rugi dan tidak perlu suntikan modal saja, sudah prestasi yang luar biasa. 

Jadi sampai sini, wajar atau tidak jika IHT itu sejatinya adalah BUSN (Badan Usaha Swasta Negara)?

Terlepas dari segala polah tingkah Sri Mulyani dalam pergumulan organisasi internasionalnya, rasanya Sri Mulyani memang seorang “preman” yang cuma mau hasilnya, tanpa peduli untuk melindungi hal-hal yang menghasilkan tersebut. Dalam konteks ini tentu saja IHT.

Apa pernah Sri Mulyani mengusulkan untuk membuat skema perlindungan terhadap IHT? Yang di dalamnya petani tembakau, petani cengkeh, pedagang, buruh dan pabrik rokok? Tidak pernah. 

Rasanya terlalu kecil jika menjuluki Sri Mulyani seorang “preman”. Dia lebih cocok mendapat emblem seorang mafia yang dilindungi negara. Bagaimana tidak, sudah tidak pernah peduli nasib pertembakauan, tetapi dia ingin hasil yang maksimal dari sana. 

Anak TK saja sudah tahu, jika ingin bunga itu tumbuh dan mekar ya dirawat dan dijaga dengan sebaik-baiknya. 

Jika diibaratkan, kondisi IHT saat ini seperti leher yang sudah terikat tali kencang. Dan kenaikan cukai rokok tahun ini adalah jeratan lebih kuat, yang mungkin berefek kematian.

Berikut adalah 3 dosa Sri Mulyani kepada Perokok, Petani dan Buruh:

Dosa Sri Mulyani kepada Perokok

perokok masyarakat

Apakah Sri Mulyani bebal? Tidak. Apakah Sri Mulyani bodoh? Tidak juga. Tapi apakah Sri Mulyani tidak punya unggah-ungguh, tidak punya andap asor, tidak punya akhlakul karimah? Kalau ini bisa jadi.

Merokok itu relaksasi bagi masyarakat. Mereka beli rokok pakai uang sendiri, tidak mengemis kepada negara. Kalau lapar, ya nyari makan sendiri. Tidak merepotkan negara. Kalau sakit, ya berobat sendiri. Tidak merepotkan negara. Tetapi hanya ingin merokok saja harus dituding penyebab boncosnya negara.

Harusnya Sri Mulyani itu salim bolak-balik kalau ketemu perokok. Mereka itulah yang menyumbang negara. Yang menggaji para pegawai negara. Yang memberikan logistik terhadap berjalannya roda pemerintahan. Para perokok itulah yang seharusnya engkau hormati dan jaga sebagai aset pemasukan bangsa.

Bukan malah imbas-imbis, ingah-ingih, pahpoh di hadapan para Landha yang punya kepentingan besar menguasai pasar tembakau dan nikotin Indonesia. 

Dosa Sri Mulyani kepada Petani Tembakau dan Cengkeh

panen petani tembakau

Kalau pernah ke sentra pertanian tembakau dan cengkeh, tentu hari-hari petani sekarang diliputi rasa was-was dan mendung yang amat pekat. Jika dulu setiap panen bisa berangkat haji, kini terbeli tidak rugi saja sudah bahagia sekali.

Kondisi petani yang seperti ini, sering digoreng antirokok dengan narasi “yang untung hanya pabrik rokok”. Pabrik rokok gundulmu amoh!

Hitung-hitungan kasar saja. Dari sebatang rokok, negara memalak kurang lebih 60 persen dari harga. 40 persennya untuk pabrik. Apakah untuk pabrik saja? Ya jelas tidak. 40 persen itu juga termasuk membeli tembakau petani, cengkeh petani, membayar buruh, dan produksi rokok. Jadi siapa bandar di sini?

Semakin tarif cukai naik tinggi, maka semakin mahal harga rokok. Jika semakin harga rokok naik, maka perokok pun akan beralih ke rokok-rokok golongan bawah. Jika penjualan rokok golongan bawah meningkat, maka serapan tembakau premium petani juga akan turun. Harga cengkeh pun juga akan anjlok

Yang terjadi? ya benar, semuanya kelimpungan. Sementara negara tetap kipas-kipas mendapat setoran uang cukai dan pajak rokok. Gak apa-apa. Yang penting Sri Mulyani bahagia.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Manusia bodoh yang tak kunjung pandai