djarum king

Djarum KING, Cita Rasa untuk Semua Kalangan

Djarum King sepertinya lahir untuk lidah semua orang; tua, muda, perempuan dan laki-laki. 

Siapa Sebenarnya Market Djarum KING? Pertanyaan ini langsung muncul ketika Djarum KING saya keluarkan sebatang dari dalam bungkusnya dan mencium aromanya untuk pertama kali. Belum lagi diameter batangan yang lebih besar dari Djarum Super.

Rokok kretek bergenre SKM Filter ini baru saja beredar di pasaran sekitar 2 hari sebelum tulisan ini saya buat (10/11/22). Fotonya sudah banyak beredar di grup Whatsapp bapack-bapack yang saya ikuti, beberapa hari sebelum rokok ini beredar. Semua punya tebakan masing-masing. Mulai dari soal warna, nama “KING”, sampai background merah di tulisan “Filter” yang terletak di bawah tulisan KING. 

Karena warnanya biru seperti Diplomat Evo, ada yang bilang ini adalah versi light atau versi ringan dari Djarum Super dan filternya pasti berwarna putih. Ada juga yang mengatakan ini versi light Djarsup dan ingin menyasar anak muda dengan warna cerahnya. Belum lagi di bagian belakang bungkusnya yang terdapat tulisan “Full Pleasure”. Sebagian Bapack-bapack di WAG berkata; wah, ini sih untuk anak muda sekali, desainnya tajam dan ga bengkok-bengkok kayak font tahun 80-an yang hanya mengandalkan Arial dan Impact Bold. 

Begitulah, namanya group Whatsapp, ada saja “hasil penelitian” dan asumsi liar yang akan muncul setiap ada hal baru. Saya hanya sesekali membalas isi chat WAG itu dengan stiker-stiker jempol dan siap. Standar operasional untuk menanggapi sesuatu yang tidak terlalu menarik tapi harus ditanggapi.

djarum king pleasure

Karena sedang tidak enak badan sepulang dari mengantarkan tim diskusi buku Nicotine War ke Jawa Barat dan Jakarta, saya meminta ke beberapa teman, kalau kebetulan ke warung membeli rokok dan ada Djarum King, saya titip dibelikan sebungkus untuk saya cicipi. Bukan untuk direview, saya ga sebagus itu dalam mereview sebuah merek rokok, jadi jangan kategorikan saya sebagai reviewer produk.

Singkat cerita, seorang teman datang membawakan sebungkus Djarum KING, yang tanpa sengaja ditemukan di salah satu warung di kota Jogja yang bekerjasama dengan Djarum, biasa disebut DRP atau Djarum Retail Partnership. Sama seperti SRC dari Sampoerna atau GGSP dari Gudang Garam.

Kali ini saya tidak begitu yakin akan memberikan penilaian bijak kepada Djarum King, saya baru sembuh dari demam, dan bersyukur negatif Covid setelah SWAB sepulang dari Jakarta. Indera perasa yang menjadi syarat utama mencicipi produk masih berfungsi dengan baik, dan ini bekal bagus untuk mencicipi Djarum King.

rokok baru djarum king

Aroma batang rokok yang saya hirup dari ujung bakar sampai filter seperti menarik ingatan saya ke era 90an, rasanya ada aroma rokok klasik yang lewat di penciuman saya saat menghirup Djarum KING. Saya ragu, apakah aroma klasik itu seperti FILTRA 100s, Dji Sam Soe Filter Bungkus Emas (ada motif bercak), Sampoerna Exclusive Filter atau mungkin Bentoel International dan Bentoel Export.

Saya menyimpulkan itu karena selain aroma dominan cengkeh dan tembakau, ada aroma coklat yang tercium di batangnya sebelum terbakar. Dan kebetulan juga, saya lahir dan beranjak remaja di era merek-merek lawas tadi masih berjaya di pasaran. Tapi itu hanya muncul di saat rokok ini belum terbakar, beda lagi saat asap pertama dihirup masuk ke rongga mulut dan hidung, dan di fase ini baru pertama kalinya saya dibuat kebingungan.

Pertama, saya merasa wangi rokok ini tidak sekuat Djarum Super sebagai kakaknya walaupun sama-sama berfilter cokelat. Bergantian saya hirup dan buang asapnya melalui hidung lalu hembusan selanjutnya melalui mulut. Nyaris tidak ada rasa sepet di rongga bagian belakang mulut dan aroma nangka (saya menyebut wangi Djarsup kadang seperti itu, walaupun mungkin perisanya bukan dari buah nangka), asap yang saya hirup dan hembuskan terasa ringan walau secara fisik batang rokok ini terlihat “kekar” dan kuat. Ya, kekar dan kuat karena batangan rokok ini sedikit lebih besar diameternya dari Djarum Super, di ukuran yang masih enak diapit oleh jari dan menempel di bibir. 

Kebingungan saya itu salah satunya juga disebabkan oleh kondisi badan sehabis demam. Saya jeda beberapa menit, dan membakar Djarum Super sebagai pembanding dan uji indera perasa. Ternyata saya salah, ini tidak ada hubungannya dengan kondisi pasca demam, Djarum Super tetap mengeluarkan citarasa detailnya yang maha dahsyat seperti biasa (kalau ini agak berlebihan, maklum saya fans Djarsup).

Berarti Djarum KING yang saya hisap tadi memang benar rasanya seperti itu; tidak berat, bahkan bisa dinikmati oleh perempuan, mirip seperti GG Internasional yang tidak terlalu wangi, ada hentakan aroma khas Bintang Buana, sensasi menghisap kepulan asap L.A Bold tapi tidak terasa pedas dan aftertaste yang nyaris tidak meninggalkan pahit bahkan saat sudah terbakar 80-90%.

Rokok ini aneh, sepanjang saya menulis ini, sudah 4 batang saya bakar dan selalu habis terbakar di kisaran 70-80% tanpa meninggalkan aroma tidak sedap seperti bau sangit yang kadang ditemui saat bara rokok semakin mendekati filter. Dan itu sering saya temui saat menghisap rokok SKM Filter golongan 2 dan 3.

Tidak perlu menjadi perokok expert yang terbiasa menghisap rokok kelas berat untuk menikmati Djarum KING. Citarasa yang diberikan oleh merek ini bisa disebut sebagai citarasa aman bagi siapapun. Bahkan perokok MILD bisa dengan mudah menikmati Djarum KING dengan aman, nyaman dan tentu dengan aroma cengkeh dan tembakau yang lebih pekat dibandingkan kelas MILD. Sudah seperti jembatan penghubung dari wilayah Gudang Garam, L.A Lights, Sampoerna A Mild pindah ke wilayah Djarum KING. Seperti berpindah dari Bandung Kota ke Bogor Kota, bukan berpindah dari Kota Bandung ke Kota Banjarmasin. 

Bandrol Harga Djarum King

Yang jadi pertanyaan besar saya sejak awal adalah, ada di mana posisi rokok ini di pasaran. Dengan cukai Rp, 22,875, berarti dia setara harga jual seperti Juara Teh Manis Filter, Surya 12, Djarcok Filter, Djarsup isi 12 dan 76 Filter Gold. 5 merek yang berbeda karakter dan dijual di pasaran dengan harga beragam mulai 19.000 sampai 22.000 untuk standar Indo & Alfamart. Dengan harga segitu, siapa yang akan jadi pesaing langsungnya?

Itu soal harga jual, kalau citarasa, seperti yang saya sebutkan di atas, aroma “klasik” yang muncul seperti bau coklat memicu ingatan anak generasi 80 & 90-an bisa menjadi daya tarik tersendiri dan punya peran penting karena berbeda di pasaran. Aroma tipis Djarum Super, Bintang Buana, bahkan sampai L.A Bold dan Wave seperti berseliweran di tiap kepulan asap yang keluar masuk dari hidung dan mulut. Kalau seperti itu, siapa konsumen yang akan diincar oleh Djarum KING? Yang pasti para perokok yang tidak begitu suka dengan Djarum Super. Karena merek ini berbeda sekali, seakan-akan tidak lahir dari Kudus.

Tidak ada yang sangat istimewa dengan lahirnya rokok ini, berbeda dengan kemunculan L.A Purpleboost atau 76 Madu Hitam, hanya kalau saya ditanya apakah rokok ini memiliki karakter? Tentu. Saya jelaskan panjang lebar di atas, belum lagi misteri filter dengan diameter sebesar itu, apakah ini justru salah satu resep Djarum agar membuat citarasa Djarum KING bisa tetap aromatik tapi sekaligus hisapannya seringan itu?

cukai djarum king

Dengan modal kandungan Nikotin 2,1 milligram, dan 34 milligram TAR, semua kebutuhan cita rasa dan selera seperti diberikan oleh Djarum KING, menjawab pertanyaan banyak orang apakah pabrikan Djarum mampu melahirkan merek rokok yang aroma wanginya tidak selalu menunjukkan ciri khas Kudus, dan mampu menembus pasar di seluruh Indonesia, tidak hanya unggul di region tertentu, dan tentu ini jadi PR marketing yang tidak perlu repot kita pikirkan. 

Kalau rokok ini kelak punya peluang besar akan dinikmati oleh banyak segmen itu adalah hal yang wajar, penegasan di bagian kiri bungkusnya yang terdapat kata; “King Size”, “Authentic Blend”, dan “Bold Taste” seperti ingin menegaskan banyak hal kepada konsumennya.

Kalau boleh saya asumsikan, “King Size” dan “Bold Taste” tentu menggambarkan durasi dan kekuatan hisap yang berujung kepuasan pasca melakukan hal penting, misal setelah makan nasi padang dan saat menikmati kopi tubruk panas, walaupun kadar Tar dan Nikotin lebih besar tapi justru hisapannya bisa selembut kelas BOLD pada umumnya. 

Sementara “Authentic Blend” tentu untuk menegaskan ilmu dapur Djarum yang mampu membuat rokok dengan citarasa apapun dengan sangat baik tanpa kehilangan ciri khas dan sejarah panjang pabrikan. Bahkan membuat kejutan citarasa seperti yang saya rasakan di merek ini setelah menghisapnya lebih dari 8 batang di 3 situasi; bangun tidur, bersantai dan menulis, BAB dan selepas makan malam. Semuanya kondisi itu saya lalui bersama dengan Djarum KING dengan tidak mengalami kekecewaan sedikit pun. 

Tapi kali ini saya terpaksa memberikan poin penilaian agar tulisannya tidak terlalu melebar, untuk kenikmatan hisap saya percaya diri memberikan angka 7,5. Desain kemasan dan batang ada di angka 7. Harga di kemunculan awal saya kasih angka 8 karena jarang ada rokok enak di bawah harga 20.000, apalagi setelah cukai naik. Buat kalian perokok genre BOLD, rasanya ini varian yang pas untuk kalian coba segera, soal selanjutnya cocok atau tidak itu saya kembalikan ke indera perasa masing-masing. Selamat menikmati. 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Total
0
Shares
Related Posts