logo boleh merokok putih 2

Sejarah Pabrik HM Sampoerna, dari Surabaya Menuju New York

pabrik rokok hm sampoerna

PT Hanjaya Mandala Sampoerna (HM Sampoerna) adalah salah satu pemimpin pasar terbesar dalam industri rokok di Indonesia. Kesuksesannya tidak dibangun hanya dalam satu malam. Jatuh bangun sudah sering dialami oleh pabrik yang usianya sudah lebih dari satu abad ini. Banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari sejarah pabrik HM Sampoerna.

Kisah HM Sampoerna dimulai pada tahun 1912. Dua orang imigran asal Tiongkok, Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio merintis usaha rokok di Ngaglik, Surabaya. Berbekal pengalaman meracik dan melinting rokok dari pekerjaan sebelumnya, Liem mengawalinya dengan warung kecil. Rokok buatannya kemudian dijual keliling menggunakan sepeda.

Pada tahun 1913, Liem mulai mencoba untuk mengomersialkan rokok buatannya. Didirikanlah perusahaan yang diberi nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Produk pertama yang dikeluarkan adalah Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan nama Dji Sam Soe. Jika diterjemahkan secara harfiah Dji Sam Soe memiliki arti 234, yang jika dijumlah menjadi 9, angka yang diyakini Liem membawa keberuntungan.

Kerja keras Liem membuahkan hasil. Usahanya berkembang pesat, apalagi saat ada proyek pelebaran jalan di depan rumahnya yang membuat pelanggannya semakin banyak. Dji Sam Soe semakin dikenal oleh banyak orang. Cikal bakal pabrik HM Sampoerna mulai terlihat. Konon, kemasan Dji Sam Soe yang dipakai sejak 1914 tidak pernah berubah hingga tahun 2000.

Pada tahun 1916 terjadi musibah yang menimpa Liem. Warung miliknya terbakar dan menghancurkan bisnis rokoknya. Tidak butuh waktu lama bagi Liem untuk bangkit kembali setelah insiden tersebut. Dengan uang tabungan Siem dari berjualan di warung sebelumnya, Liem membeli pabrik rokok yang hampir bangkrut untuk melanjutkan kembali bisnisnya. Di pabrik baru ini Liem dengan bantuan Siem meracik resep yang tepat untuk kemudian dipakai dalam Dji Sam Soe.

Tahun-tahun berikutnya berjalan begitu cepat di pabrik baru Liem. Usahanya tumbuh dengan pesat. Pada tahun 1930 ia meresmikan perusahaannya dengan nama baru, NVBM Handel Maatschappij Sampoerna. Untuk pertama kalinya nama pabrik HM Sampoerna muncul. Nama Sampoerna dipilih dengan maksud agar produk-produk yang dihasilkan adalah yang terbaik, yang sempurna.

Dua tahun setelah pabrik HM Sampoerna berdiri, Liem memindahkan bagian produksi ke sebuah bangunan seluas 1.5 hektar di kawasan Jembatan Merah Surabaya. Bangunan tersebut sebelumnya digunakan sebagai panti asuhan yang bernama Jongens Weezen Inrichting. Bangunan ini lantas diberi nama Taman Sampoerna oleh Liem. Selain untuk produksi rokok, Taman Sampoerna juga difungsikan sebagai teater.

Usaha Liem di tempat barunya ini berkembang pesat. Tercatat kala itu pabrik HM Sampoerna mempekerjakan 1.300 karyawan dan sanggup memproduksi 3 juta batang rokok per minggu. Kemudian datanglah Jepang pada tahun 1942. Bisnis rokok Liem seketika berantakan. Ia ditangkap Jepang dan dibawa ke Jawa Barat untuk melakukan kerja paksa. Sementara itu, pabriknya dipaksa memproduksi rokok yang diberi nama Fuji secara gratis untuk tentara Jepang. Praktis Liem tidak memiliki kendali atas bisnis rokoknya selama pendudukan Jepang.

Selepas Jepang menelan kekalahan dalam perang dunia 2 dan hengkang dari Indonesia, Liem memulai kembali bisnisnya. Berbekal merek Dji Sam Soe yang sudah dikenal luas bahkan seusai perang, Liem menata kembali bisnisnya pelan-pelan. Pada tahun 1949 pabrik HM Sampoerna sudah pulih kembali.

pabrik rokok sampoerna

Momen tersebut tidak berlangsung lama sebab pada akhir tahun 1950, HM Sampoerna didera konflik internal antar buruh yang berimbas pada penurunan kinerja. Masalah menjadi semakin rumit pada tahun 1956 saat Liem wafat. Investor asing mulai datang ke Indonesia untuk membangun Industri rokok putih mesin. Sayangnya, dua orang putri Liem Liem (Liem Sien Nio dan Liem Hwee Nio) yang mengelola HM Sampoerna kala itu sudah tidak tertarik melanjutkan usaha sang ayah. Banyak mesin yang terbengkalai dan jumlah karyawan yang menurun drastis hingga tinggal 150 orang saja. Puncaknya terjadi pada tahun 1959 saat terjadi kesulitan keuangan dan memaksa pabrik HM Sampoerna tutup.

Anak sulung Liem, Liem Swie Hwa, yang khawatir melihat kondisi HM Sampoerna kala itu kemudian meminta adiknya yang lain, Liem Swie Ling (Aga Sampoerna), untuk mengambil alih perusahan sang ayah. Aga yang sebelumnya juga merintis bisnis rokok dengan nama Panamas menyanggupi permintaan sang kakak. Langkah pertama yang diambil Aga adalah dengan memindahkan pabrik HM Sampoerna dari Surabaya ke Malang. Lagi-lagi Dji Sam Soe kembali membuka jalan untuk kebangkitan HM Sampoerna.

Puluhan tahun berikutnya, kondisi HM Sampoerna relatif stabil. Langkah-langkah strategis yang diambil oleh Aga membawa keuntungan bagi perusahaan. Pada tahun 1979 HM Sampoerna akhirnya mengeluarkan produk kedua yang diberi nama Sampoerna Hijau. Tercatat pada awal tahun 1980 HM Sampoerna sudah memiliki 7.000 karyawan dan pabrik yang berlokasi di Surabaya, Malang, dan Bali.

Sedikit mundur ke tahun 1977, Aga juga mulai mempersiapkan anak bungsunya, Putera Sampoerna, sebagai penerus perusahaan. Keduanya lalu membuat banyak terobosan dan inovasi di berbagai sektor, seperti membangun pabrik baru seluas 153 hektar dan membeli tembakau langsung dari petani. Selain itu, Aga dan Putera juga mendiversifikasi bisnisnya ke banyak bidang, seperti transportasi, perdagangan, periklanan, dan masih banyak lainnya.

Sistem distribusi juga menjadi satu aspek yang coba dikembangkan. Jika sebelumnya HM Sampoerna masih bergantung pada agen, Putera mencoba menguatkan lini distribusinya supaya bisa mendistribusikan produknya sendiri. Dampaknya pabrik HM Sampoerna bisa mengekspor produknya ke Malaysia, Myanmar, Vietnam, Filipana, dan Brasil lewat kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar.

Tahun 1986 pimpinan perusahaan beralih dari Aga ke Putera. Kemudian pada tahun 1988 Panamas mengambil alih aset operasional dan merek milik Sampoerna dan mengubah namanya menjadi PT Hanjaya Mandala (HM) Sampoerna. Nama yang kemudian masih dipakai hingga saat ini. Dua tahun kemudian PT HM Sampoerna menjadi perusahaan publik dengan melepas 15% sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya.

Titik balik HM Sampoerna terjadi pada tahun 2005 saat Philip Morris International mengakuisisi perusahaan ini dengan nilai yang diperkirakan mencapai US$ 5,2 miliar. Hal ini cukup mengejutkan sebab diketahui kondisi keuangan HM Sampoerna kala itu masih sangat baik. Akuisisi ini berdampak positif bagi HM Sampoerna. Banyak gebrakan dan inovasi yang dilakukan. Hasilnya Sampoerna merajai pasar rokok di Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 32,2% pada tahun 2019. Saat ini pabrik HM Sampoerna tersebar di beberapa kota di Indonesia seperti Surabaya, Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Karawang. 

Usia HM Sampoerna saat ini sudah lebih dari satu abad. Suka duka silih berganti mendampingi perjalanan hidup perusahaan ini. Lewat kerja keras juga sedikit keberuntungan, HM Sampoerna mampu untuk tetap eksis hingga saat ini. Maka tidak berlebihan jika menyebut HM Sampoerna sebagai rajanya rokok Indonesia.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Penulis

Artikel Lainnya