logo boleh merokok putih 2

THR, Kemenkeu, dan 349 Triliun

thr

Andai Uang THR tidak dikorupsi sejumlah oknum dari Kemenkeu, niscaya rupa pekerja IHT akan tampak lebih bahagia

Problematika tentang dugaan korupsi atau pencucian uang yang dilakukan sejumlah oknum Kementerian Keuangan, dan di dalamnya terdapat Bea Cukai dan Pajak, masih belum selesai. Mega transaksi sebanyak 349 Triliun tampaknya tidak bisa diselesaikan dalam kurun waktu sebulan. 

Meskipun begitu, para oknum tersebut masih bisa menghirup udara segar. Sebab, sejauh ini baru segelintir orang yang menjadi tersangka. Statusnya belum menjadi terdakwa apalagi terpidana. Maka dari itu, mereka pun masih bisa menikmati lebaran dengan “tenang”. 

Uang sejumlah 349 Triliun bukanlah uang yang sedikit. Jika uang tersebut dalam satu waktu bisa digunakan tunjangan hari raya (THR) bagi pekerja Industri Hasil Tembakau (IHT), tentu akan sangat berfaedah sekali. 

Kira-kira apa yang bisa digunakan oleh pekerja IHT dengan uang sebanyak itu? Mari kita berandai-andai. 

THR untuk Membeli Prupuk

thr beli pupuk

Salah satu problem utama bagi pekerja IHT khususnya petani tembakau adalah tiada lagi subsidi pupuk. Entah kenapa dan alasan seperti apa, pemerintah tega menghapus kebijakan tersebut. Kebijakan yang pasti akan memberatkan petani tembakau. 

Dengan sumbangsih petani tembakau terhadap penerimaan negara yang selalu optimal, tampaknya bukan menjadi hal utama bagi pemerintah. Kebijakan menghapus subsidi adalah jalan terbaik, menurut pemerintah. 

Padahal, pupuk bukanlah sesuatu yang murah. Harganya melangit bahkan petani tembakau terpaksa menghitung ulang biaya pengolahan agar mampu membeli pupuk tersebut. Coba saja uang tidak dikorupsi para oknum tersebut, niscaya mudah bagi petani tembakau untuk membeli pupuk. 

Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari

toko kelontong

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa harga kebutuhan pokok cenderung fluktuatif. Kadang bisa rendah, dan kadang bisa tinggi. Semuanya dapat terjadi karena berbagai faktor seperti cuaca atau tangan panjang si oknum-oknum pemain impor beras, gula, bahkan tembakau. 

Penulis kira jelas bahwa uang THR tersebut jika dibagikan kepada setidaknya 5,98 juta pekerja IHT, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Uang tersebut tidak hanya digunakan untuk hal tersebut, melainkan juga dana pendidikan. 

Tentu saja ini hal baik, khususnya bagi pelaku IHT. Mereka bisa menyekolahkan anak atau bahkan cucu untuk mendapatkan informasi serta pengetahuan yang lebih banyak dari lembaga formal. Dengan demikian, pertanian tembakau berjalan, pendidikan untuk keluarga pelaku IHT lancar. 

THR untuk Dana Pendidikan

thr untuk biaya sekolah

Menabung adalah langkah yang dianjurkan boleh sebagian besar pemerhati finansial kepada masyarakat Indonesia. Namun, hanya sebagian kecil masyarakat, dan itu lapisan tertentu, yang mampu melakukannya. Mengapa demikian?

Sebab, uang tersebut kebanyakan habis untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya, bisa saja mereka, khususnya pekerja IHT, menabung untuk dana pendidikan. Lalu, dari mana dananya?

Tidak lain dan tidak bukan dari uang yang dikorupsi sejumlah oknum Kemenkeu. Andai uang tersebut bisa dibagikan dalam bentuk THR, niscaya para pekerja IHT tidak akan kebingungan untuk menyiapkan dana pendidikan bagi keluarganya. 

Bagi sebagian besar orang, menerima THR menjelang hari raya adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Sebab, penggunaannya bisa bermacam-macam. Ada yang digunakan untuk membeli tiket mudik, biaya operasional saat perjalanan mudik, atau membeli oleh-oleh untuk saudara, kerabat, dan tetangga.

THR menjadi tali kasih bagi pemilik modal kepada pekerja agar dalam momen lebaran bisa menjalankannya dengan lancar dan nyaman. Andai saja mega peristiwa 349 Triliun tidak pernah terjadi dan uang tersebut bisa digunakan untuk THR. Maka, akan ada banyak rupa para pelaku IHT yang ceria, bahagia, dan siap untuk melakukan pengolahan tembakau, cengkeh, dan lainnya. 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Penulis

Ali Nur Alizen

Ali Nur Alizen

Santri Milenial dan Perokok Berat