Soal Rokok, Hargai Perbedaan Seperti Penentuan Hari Raya

Soal Rokok, Hargai Perbedaan Seperti Penentuan Hari Raya

Bagi umat Islam, perbedaan dalam perayaan Idul Fitri, Idul Adha, dan dimulainya bulan Ramadhan adalah hal yang wajar. Organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama memiliki pendapat yang berbeda dan didasarkan pada pemahaman yang berbeda pula.

Jika terdapat perbedaan dalam menentukan tanggal, misalnya dalam menentukan akhir Ramadhan dan pelaksanaan shalat Idul Fitri, perbedaan ini terkait dengan penafsiran tentang kapan sebenarnya hilal terlihat. Perbedaan ini berdasarkan pemahaman bahwa hilal bisa saja sudah ada namun belum terlihat. Hal ini berkaitan dengan perbedaan dalam pemahaman tentang penampakan hilal.

Kelompok Muhammadiyah berpendapat bahwa yang penting adalah keberadaan hilal dalam berbagai derajat. Jadi, jika berdasarkan perhitungan (hisab) diketahui bahwa hilal sudah ada dalam wujud apapun, maka awal bulan Syawal dapat ditetapkan berdasarkan keberadaan hilal tersebut.

Di sisi lain, NU berpendapat bahwa yang penting adalah penampakan hilal atau rukyat al hilal. Jika hilal belum terlihat, maka secara otomatis awal bulan belum dapat ditetapkan. Keberadaan hilal belum menjadi jaminan bahwa hilal sudah terlihat. Oleh karena itu, penentuan awal bulan sebaiknya tetap mengacu pada penampakan hilal tersebut. Jika pada tingkat tertentu penampakan hilal belum memungkinkan, maka penentuan awal bulan dilakukan dengan mencukupkan durasi bulan menjadi 30 hari, yang disebut sebagai istikmal.

Perbedaan ini mirip dengan perdebatan antara kaum empiris rasional dan kaum empiris sensual. Bagi kaum empiris rasional, kebenaran ditentukan oleh rasio, termasuk dalam perhitungan, sedangkan kaum empiris sensual menyatakan bahwa kebenaran dapat diketahui melalui hal-hal yang dapat diamati. Keduanya menggunakan pendekatan dan metode yang berbeda, sehingga sulit untuk mencapai kesepakatan. Muhammadiyah menggunakan kebenaran rasional, sementara NU menggunakan kebenaran berdasarkan pengamatan.

Mengingat kenyataan ini, perbedaan antara kedua organisasi ini tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, akan terus terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Syawal jika tidak ada kesepakatan tertentu mengenai penampakan hilal. Selama masih ada perbedaan dalam penafsiran antara keberadaan hilal dan penampakan hilal, maka perbedaan dalam penentuan awal bulan Syawal akan terus terjadi.

Namun, dalam menghadapi perbedaan tersebut, kedua belah pihak saling menghormati dan tidak menjadikannya persoalan serius. Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, keduanya saling memaafkan satu sama lain. Demikian pula dalam perayaan Idul Adha tahun ini, keduanya juga berbagi momentum untuk saling berbagi daging kurban. 

Menghargai Perbedaan dalam Konteks Rokok

berbeda dalam perdebatan rokok itu biasa

Perdebatan seputar rokok sering terjadi, dan umat manusia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pendukung dan penentang rokok.

Kelompok pendukung berpendapat bahwa merokok adalah kebiasaan seperti minum teh atau kopi. Setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda, dan merokok menjadi pilihan bagi sebagian orang.

Namun, kelompok penentang tidak mengakui pendapat para perokok. Mereka berpendapat bahwa merokok bukanlah sekadar kebiasaan, tetapi merupakan kecanduan yang memberikan dampak negatif bagi perokok. Oleh karena itu, meskipun para perokok berperilaku sopan dengan merokok di ruang pribadi, tetap dianggap sebagai kesalahan.

Jika perbedaan pendapat tentang kebiasaan merokok ini bisa diterapkan dengan cara yang sama seperti perbedaan dalam perayaan hari-hari besar umat Islam di Indonesia, itu akan menjadi keunikan yang indah.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Total
0
Shares
Related Posts