Sri mulyani membunuh IHT

Apresiasi untuk Sri Mulyani: Menaikkan Cukai Rokok, Membunuh Indonesia

Piye to, Sri…..

Dari tahun ke tahun, sejak Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan, tidak ada ceritanya cukai rokok tidak naik. Yang ada naik dan semakin menjulang tinggi. Memang, cukai rokok pernah dua kali tidak naik yaitu tahun 2014 dan 2019. Namun ingat, tidak ada kenaikan cukai rokok pada saat itu disebabkan adanya intervensi politik. Kedua tahun tersebut adalah tahun politik dan lebih akrab disebut tahun pemilihan presiden

Sayangnya, hal tersebut tidak berlaku pada tahun 2024. Sebab, cukai rokok tetap saja naik. Bahkan, keputusan menaikkan cukai rokok telah dilakukan dua tahun sebelumnya yakni 2022. Langkah dan keputusan yang tidak biasa dari Sri Mulyani. Lebih anehnya lagi, beliau langsung memberi keputusan untuk dua tahun berturut-turut (2023 dan 2024) yang mana kenaikannya sama-sama sepuluh persen. 

Tentu saja, dengan berbagai langkah dan keputusan dari Sri Mulyani, kita patut memberikan apresiasi kepada beliau. Lalu, apresiasi seperti apa yang pantas? 

(Nir)Apresiasi terhadap Sri Mulyani

sri mulyani

Banyak kaum antitembakau atau lebih khusus antirokok pada kelimpungan ketika melihat kebijakan Sri Mulyani. Padahal, tidak perlu sampai limpung apalagi bingung. Ada hal-hal yang perlu kita beri apresiasi di antaranya:

Satu hal yang pasti dari kenaikan cukai rokok adalah harga rokok semakin mahal. Mau golongan I, golongan II, golongan III, semuanya naik. Alhasil, perokok pun dipaksa memutar otaknya agar mencari penggantinya. Minimal dengan harga yang terjangkau. 

Lalu, muncullah tren tingwe. Ini adalah tren yang dari hari ke hari semakin banyak. Tidak percaya? Cobalah cek di daerahmu. Pasti ada pebisnis kecil yang mencoba untuk berdagang tembakau. Alhasil, muncul toko yang menjual tembakau berbagai varian dan rasa. 

Dengan demikian, kenaikan cukai rokok berdampak pada munculnya bisnis baru yang bernama toko tembakau. Dan aktivitas membakar tembakau gaya baru bernama tingwe.

Tergerusnya jumlah pabrik rokok adalah sebuah keniscayaan. Alhasil banyak buruh pabrik rokok yang terpaksa terkena PHK karena ketidakmampuan pabrik untuk menghadang laju kenaikan cukai rokok. Namun, selalu ada hikmah di balik kenaikannya. Jumlah pabrik rokok gol. III justru meningkat. Kok bisa?

Hal ini tidak bisa terlepaskan dari jumlah pabrik rokok golongan I dan II merosot. Pabrikan tersebut mau tidak mau menyesuaikan kondisi dengan efisiensi tenaga kerja hingga terpaksa gulung tikar. Perilaku konsumen pun menjadi salah satu alasan mengapa pada akhirnya pabrikan gol. I dan II tidak berkembang. 

Konsumen pun beralih ke rokok golongan III dan tingwe. Padahal, penerimaan cukai rokok paling banyak disumbang dari rokok golongan I. Hampir 70 persen cukai rokok dari rokok golongan I. 

Sekarang, terlihat hasilnya, bukan? Penerimaan cukai rokok pada semester I tahun 2023 merosot tajam. Laporan APBN pada semester I pun menunjukkan hal tersebut. Sri Mulyani tampak kebingungan. Melarang-melarang sendiri, eh, akhirnya bingung.  

  • Lahan Tembakau di Temanggung Semakin Merosot Tajam

lahan tembakau di temanggung menyusut

Temanggung adalah sentra tembakau di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari luasan lahan tembakau serta predikat Temanggung sebagai Kota Tembakau. Namun, tampaknya akan berubah pada 2023. 

Luasan lahan tembakau yang sebelumnya mencapai 15.000 hektar, kini berubah menjadi 11.800 hektar. Selain karena petani masih menanam cabai, tembakau Temanggung merupakan bahan baku produksi untuk rokok golongan I. 

Ketika melihat kondisi saat ini, akan menjadi tidak heran luasan lahan tembakau menurun. Produksi dialihkan ke rokok golongan III yang mana bukan andalan di Temanggung. Tentu saja hal-hal seperti ini yang, entah dipikirkan atau tidak, belum menjadi perhatian Sri Mulyani dan kawan-kawan. 

Sri Mulyani memang pandai merawat atau mengelola keuangan makanya berhasrat menaikkan cukai rokok dari tahun ke tahun. Namun, beliau lupa bahwa ada aspek sosial dan budaya yang tidak dilihat secara holistik. Orang-orang yang dipinggirkan, pabrik yang kian dilipat oleh zaman, dan segala hal tentang Industri Hasil Tembakau (IHT) itu buruk, kecuali cukainya. 

Aah, negara memang selalu begitu. Melipatgandakan cuan dari cukai dengan memeras keringat manusia hingga tetes terakhir tanpa ampun. 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Total
0
Shares
Related Posts