sound of kretek
REVIEW

Sound of Kretek: Menjaga Kretek Tetap Menyala

Sabtu sore ketika angin Bandung bersemilir, DCDC (Djarum Coklat Dot Com) menggelar agenda “Sound of Kretek” di Lapangan Saparua yang sejuk. Pepohonan usia ratusan tahun mengelilingi. Anak-anak muda dari mana saja datang berkerumun. Mungkin ingin melihat musik, mungkin ingin bertemu teman lama. Bagaimanapun, agenda ini adalah sebuah pagelaran musik elektronik yang biasa kita sebut konser, juga aneka agenda soal kretek Indonesia. Kombinasi yang sekilas tampak tidak wajar. Tapi ini Bandung dan mungkin saja itu lazim.

Jadi sepanjang acara dari siang sampai hampir tengah malam, para pengunjung disuguhi aneka musik yang mengalun dari dua panggung. Beberapa penampilan adalah Bottlesmoker, Tuan Tigabelas, dan Dipha Barus. Mereka membawakan karya-karya mereka sambil sesekali meneriakkan sound of kretek.  

Di antara musik, ada pameran foto Eko Susanto mengenai proses pengolahan kretek dari hulu ke hilir, dari petani sampai konsumen. Kita yang terbiasa menghisap kretek dengan nikmat lalu membuang puntung di asbak jadi bisa membayangkan betapa banyak orang yang terlibat untuk satu batang kretek. Ia sudah berjalan sepanjang puluhan tahun dan begitu mengakar di kebudayaan kita. Kebunnya di Indonesia, pengolahannya di Indonesia, pekerjanya orang Indonesia. Produk satu ini memanglah pantas jadi kebanggaan Indonesia.

Kretek mula-mula dipopulerkan oleh Haji Jamhari di Kudus. Kisahnya bermula ketika ia merasakan sakit di dada lalu mengoleskan minyak cengkeh ke dadanya. Hasilnya bagus. Ia merasa lega. Lalu ia berinisiatif untuk mencampurkan cengkeh dengan rajangan tembakau yang ia bungkus dengan daun jagung. Ia bakar dan menghisapnya. Hasilnya sama, membantu melegakan bengek.

sound of kretek bandung

“Tapi anehnya, hari ini kretek malah dianggap sebagai produk berbahaya,” ucap Puthut EA di sesi “Kretek Talk” di acara ini.

Di “Kretek Talk” pula Eko Susanto menceritakan minatnya memotret semua hal tentang kretek sejak 2013. Salah satu fotonya paling menarik adalah tradisi petani tembakau jelang panen sebagai ucapan syukur. Eko menyebut bahwa petani punya hubungan spiritual dengan tembakau. Ia bermakna lebih dalam dari sekadar urusan tanam-panen. Hubungan ini sudah berjalan lintas-generasi mengakar begitu jauh dalam kebudayaan kita.

Maka cukup mengherankan jika hari ini banyak seruan untuk menjauhi kretek. Ia diposisikan seperti ancaman bagi masa depan Indonesia. Ini aneh. Padahal jelas ia merupakan budaya nusantara sejak dulu. Cengkeh sendiri sebagai salah satu bahan utama kretek merupakan tanaman endemik Indonesia dari Maluku. Lalu jika kita melihat peta persebaran kretek, sampai hari ini terdapat kebun-kebun tembakau dan cengkeh di semua pulau besar di Indonesia. Itu berarti, ada jutaan orang yang senantiasa merawatnya.

Di momen “Sound of Kretek” ini, kita belajar mendekat pada kretek. Kita mendapat pengalaman visual dari video sejarah kretek yang dipampang di layar besar. Kita juga mengenali satu per satu rempah khas kretek kudus di area pemeran, bahkan melihat langsung cara melinting Djarum Coklat. Semua pengalaman itu saya rasakan dalam waktu satu hari seolah jalan-jalan dari kebun sampai pabrik kretek. Saya pikir semua pengunjung pada hari itu juga merasakan hal yang sama.

DCDC juga memberi kesempatan bagi para pengunjung untuk menjajal sendiri melinting Djarum Coklat. Caranya dengan duduk di depan alat pelinting. Meletakkan sejumput tembakau dengan ukuran yang pas di atas kertas pembungkus lalu digulung. Setelah itu sebatang Djarum Coklat itu kita hisap. Ya, mungkin hasilnya tidak sesempurna para pelinting sebenarnya. Tapi itu bukan masalah karena poinnya adalah merasakan langsung kretek yang kita bikin sendiri. Pengalaman ini seru sekali.

Agenda ini benar-benar kombinasi yang menarik seperti museum kretek yang berjalan. Kemarin di Bandung, esok semoga bisa berkeliling di lebih banyak kota. Sebuah usaha untuk menyiarkan kretek di tanah Bandung bersama para musisi dan orang-orang di industri kreatif lainnya. Sinergi antara budaya dan musik elektronik yang modern. Sinergi antara cahaya-cahaya terang di panggung dan ketenangan para pelinting kretek. Sebab ya, kretek sudah jadi bagian dari keseharian masyarakat kita. Ia menemani banyak aktivitas dan cerita hidup. 

Festival ini merupakan edukasi bagi anak muda agar tahu lebih jauh tentang kretek yang mereka nikmati. Untuk tahu bahwa kretek merupakan warisan alam Indonesia sehingga pantas dibela dan dipertahankan. Kita tentu tidak mau menyadari ini sampai saat sudah terlambat. Jadi, mari menjaga kretek tetap menyala.