bansos dbhcht
OPINI

DBHCHT Digunakan untuk Bansos, buat Kebutuhan Kampanye?

Kehadiran bansos, baik itu berupa BLT atau dari DBHCHT, di tengah kampanye pemilu rawan dipolitisasi. 

Sejak kampanye pemilu yang berlangsung pada akhir tahun 2023, bansos menjadi “alat” untuk menarik perhatian masyarakat. Angkanya, dari era pemilu ke pemilu, selalu meningkat. Masalahnya, mengapa aliran dana bansos begitu besar ketika pra-kampanye dan saat kampanye?

Padahal, bansos bukanlah bantuan yang diberikan oleh presiden. Bansos berasal dari uang pajak rakyat. Jadi, rakyat, terutama yang mampu, membayar pajak agar nantinya uang tersebut disalurkan kepada rakyat tidak mampu. Dari sekian bansos yang hadir di tengah-tengah masyarakat, muncul kecurigaan bansos berasal dari DBHCHT.

Apalagi, secara kebetulan, bansos itu muncul bersamaan dengan bansos BLT Pangan. Alhasil, jika rakyat curiga, wajar, dong. Kemudian, pertanyaannya, mengapa harus menggunakan dana bansos untuk menarik perhatian rakyat?

Dana Bansos dari DBHCHT, Bukan Presiden

Pemerintah daerah memberikan DBHCHT sebanyak dua kali. Pada tengah dan akhir tahun, Dana ini peruntukannya sudah jelas. 50% untuk kesejahteraan masyarakat, 40% untuk alat kesehatan, dan 10% untuk penegakan hukum. Itu sudah termaktub dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 215/PMK.07/2021 tentang Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

Jadi, yang perlu rakyat tahu, pemberian DBH CHT merupakan sebuah kewajiban. Sehingga ketika rakyat menerimanya, itu memang sudah haknya. Masalahnya, yang ditangkap oleh rakyat adalah bansos ini bantuan dari presiden. Ini yang menjadi kekeliruan berpikir. 

Akhirnya, anggapan bahwa presiden Jokowi memiliki kepekaan tinggi dan jiwa dermawan menjadi salah persepsi. Seperti kita tahu, Jokowi yang merupakan ayah Gibran, menjadi sosok penting dalam pemberian bansos. Ia hadir dalam setiap kesempatan untuk memberikan dana bantuan langsung tunai (BLT), bukan barang, kepada rakyat. 

Pemberitaan yang Masif

Di berbagai media, telah terlihat bahwa pemberitaan Presiden Jokowi memberikan bansos sangat masif. Kemudian, tampak rakyat yang mengelu-elukan sambil mengucapkan, “Terima Kasih, Jokowi.” 

Itulah yang dinamakan kuasa simbolik. Seorang presiden datang ke kerumunan rakyat, memberikan secara simbolis kepada seseorang, dan mendapatkan riuh tepuk tangan. Namun, ini yang menjadi multitafsir. Sehingga, menjadi pertanyaan, mengapa harus Jokowi? Apakah ia ingin menjadikan pemberian dana tersebut sebagai legacy? atau bentuk kampanye kepada anaknya, Gibran?

Waspadalah, apalagi dalam beberapa hari ke depan, akan ada banyak bansos yang berkeliaran.