logo boleh merokok putih 2

Bisakah Prabowo Gibran Bersikap Adil dan Beradab dalam Mengelola IHT?

prabowo gibran iht

Prabowo Gibran sedang disorot karena tidak konkrit dalam memperjuangkan Industri Hasil Tembakau (IHT).

Pemilu sudah berakhir pada tanggal 14 Februari. Hasil sementara (quick count) memperlihatkan bahwa pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka menjadi yang terbaik di antara dua pasangan lainnya. Meskipun begitu, masyarakat harus bersabar untuk menanti kepastian karena menunggu hasil rekapitulasi dari KPU. 

Walaupun demikian, deklarasi kemenangan tampaknya telah diumumkan oleh pasangan nomor dua tersebut. Dengan begitu, rakyat siap menagih janji-janji dari Prabowo-Gibran saat kampanye. Salah satunya adalah upaya untuk mengelola ekosistem tembakau nasional. 

Industri Hasil Tembakau merupakan salah satu industri yang menyokong perekonomian nasional. Sayangnya, baik dalam debat capres maupun cawapres, itu tersebut tidak terbahas sama sekali. Bahkan, dalam kampanye terbuka pun, tidak ada capres-cawapres yang lantang bicara Industri Hasil Tembakau, termasuk Prabowo-Gibran.

Oleh karena itu, bagaimana sebenarnya arah kebijakan Industri Hasil Tembakau di tangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming?

Kebijakan Normatif Prabowo-Gibran tentang IHT

Melalui juru bicara TKN Prabowo-Gibran, Hasan Nasbi menegaskan bahwa harus ada jalan tengah untuk menyelesaikan ekosistem tembakau nasional. Sebab, menurutnya, ada banyak kepentingan yang hadir di Industri Hasil Tembakau.

Mulai dari petani tembakau, buruh tembakau hingga tenaga kesehatan. Menurutnya, semuanya harus ada ruang yang adil dan beradab. Sehingga, ada win-win solution di antara setiap pemangku kepentingan. Harapannya, tidak ada keputusan yang justru memberatkan pihak tertentu. 

Kalimat seperti yang dikemukakan oleh Hasan Nasbi adalah kalimat normatif. Seperti kalimat pereda bahwa setiap kepentingan pasti akan mendapatkan ruang yang sama. Namun, ia lupa bahwa selama ini ekosistem tembakau nasional cenderung lebih menitikberatkan ke pihak kesehatan. 

Pun, kalo ada ke kebijakan ekonomi, yang untung pun negara melalui kenaikan cukai hasil tembakau yang eksesif. Sedangkan petani tembakau, justru lebih sulit mengembangkan produktivitasnya. Gempuran impor tembakau, lahan yang semakin sempit, dan imbauan untuk diversifikasi tembakau adalah cara-cara menggerus produktivitas mereka. 

Oleh karena itu, sebenarnya jika terjadi pembiaran secara terus menerus, akan membuat para petani tembakau celaka. Hal itu akan menyebabkan Industri Hasil Tembakau kehilangan arah dan justru merosot. 

Prabowo-Gibran Harus Lebih Adil untuk IHT

Ketika melihat laju perkembangan IHT saat ini, agaknya sulit untuk mengharapkan presiden terpilih untuk membela IHT. Sebab, meskipun beliau adalah mantan ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), belum ada sedikit pun niat membela tembakau. 

Contoh saja pada 2019. Saat berpasangan dengan Sandiaga, Prabowo mengatakan bahwa perlu adanya diversifikasi tembakau. Ini yang berbahaya. Justru ini yang perlu dihindari dari kebijakan Prabowo. Lalu, apakah Prabowo-Gibran benar-benar membela IHT?

Ini yang menjadi pertanyaan besar. Sebagai seorang anak presiden, Gibran pernah sekali mengunjungi Temanggung. Dan, sama seperti bapaknya, ia mendengarkan aspirasi sembari akan memikirkan hal terbaik untuk kebijakan tembakau. 

Akan tetapi, patut diingat bahwa kebijakan tembakau era Jokowi justru mengerikan. Hal ini terbukti sejak Jokowi memimpin selama 10 tahun, cukai rokok naik terus kecuali 2019. Maka dari itu, meningkatkan kebijakan cukai rokok sama saja membumihanguskan petani tembakau perlahan-lahan. 

Lalu, bisakah Prabowo Gibran bersikap adil dan beradab dalam mengelola IHT? 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Penulis

Moddie Alvianto Wicaksono

Moddie Alvianto Wicaksono

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.