logo boleh merokok putih 2

Jokowi Tidak Dekat dengan Industri Rokok, Faisal Basri Keliru!

jokowi industri rokok

7 Maret 2024, melalui program Bocor Alus Politik di Youtube Tempoco, Faisal Basri mengungkapkan pernyataan bahwa Jokowi dekat dengan industri rokok. Pernyataan yang tendensius dan cukup janggal mengingat dalam satu dekade pemerintahannya, Jokowi telah menaikkan cukai rokok mendekati 100%.

Terlepas dari kedekatannya dengan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative (CISDI), Faisal Basri tampak menggebu-gebu ingin menyerang Jokowi dan industri rokok. Sepanjang hampir satu jam siniar, hanya sepuluh menit Faisal berbicara tentang cukai berpemanis. Lainnya, ia fokus tentang Jokowi yang tampak tidak pro terhadap pengendalian rokok.

Akan tetapi, apakah pernyataan yang ia kemukakan tidak bisa dikritisi? Tentu saja ada catatan sekaligus kritikan. Bahkan, ada kekeliruan dalam penyebutan data. Lalu, apa saja daftar kekeliruannya?

Daftar Kekeliruan Faisal Basri tentang Pernyataan Jokowi Dekat dengan Industri Rokok

Ada beberapa pernyataan Faisal Basri yang janggal dalam podcast Bocor Alus Politik di Tempo yang di antaranya:

  Efektivitas Lobi Industri Rokok Lebih Baik

Bagaimana cara mengukur efektivitas tersebut? Kalo ukurannya adalah kebijakan, ya keliru. Buktinya, sampai saat ini, cukai rokok dari tahun ke tahun selalu naik. Dampaknya mulai dari pabrik, buruh, hingga petani. Justru jika ukurannya adalah efektivitas kebijakan, bisa lebih terlihat dengan hadirnya beragam regulasi tentang pengerdilan industri rokok.  

  Konsensus yang Menyatakan Rokok Itu Buruk

Konsensus berdasarkan siapa? Kalo berdasarkan WHO, iya. Sebab, WHO ingin menguasai tafsir kesehatan bahwa yang baik itu tidak merokok dan yang buruk itu merokok. Bahkan, penguasaan tafsir kesehatan itu baru ada semenjak WHO berdiri. Artinya, WHO ingin menekankan bahwa melakukan hal ini menjadi baik dan melakukan hal lain menjadi buruk.

  Perokok Anak Naik Terus bahkan Mencapai 9%

Data yang dipakai adalah data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Sementara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 menyatakan bahwa persentase perokok anak sudah menurun hingga 3,69%. Artinya, jika mengacu RPJMN yang targetnya 5%, sudah terpenuhi.

  Diversifikasi Tanaman Tembakau Itu Berhasil

Aneh. Barangkali Faisal Basri tidak tahu bahwa lereng Sindoro dan Sumbing hanya cocok untuk tanaman tembakau. Faisal Basri ingin menyamaratakan ke seluruh tanah di Indonesia bahwa tidak ada tanah yang cocok untuk ditanam tembakau. 

  Membuat Hipotesa Tembakau Itu Tanaman Tidak Baik

Kalo tidak baik, kenapa industri farmasi berusaha mengambil senyawa nikotin yang ada di tembakau? Kemudian mengeluarkan obat koyo, permen nikotin, dan sebagainya. Maka, pernyataan bahwa tanaman tembakau itu tidak baik adalah klise.

  Presiden Tidak Pro terhadap Pengendalian Rokok

Justru dalam satu dekade, presiden lebih pro kepada pengendalian rokok. Segala peraturannya, khususnya cukai rokok ya selalu naik. Ingat, pada zaman Jokowi, cukai rokok telah naik lebih dari 100%.

  ⅓  Tagihan BPJS karena Rokok

Bagaimana cara membuktikan bahwa rokok merupakan penyebab utama kematian? Ingat kata pakar kesehatan masyarakat UI. Rokok bukan penyebab tunggal kematian. 

  DBHCHT Seharusnya Diberikan kepada Daerah yg Banyak Perokok

Aneh. Logical fallacy. Temanggung atau Jember layak mendapatkan DBHCHT lebih besar daripada yang lain karena mereka daerah penghasil tembakau. Bukan sebaliknya. Ingat, DKI termasuk 5 provinsi terendah perokok di Indonesia. DBHCHT memang sudah tercantum ke dalam peraturan bahwa daerah penghasil tembakau lebih diutamakan ketimbang lainnya. 

Delapan kejanggalan ini seharusnya benar-benar diperhatikan oleh Faisal Basri, kecuali Faisal Basri enggan mendengarnya. Dan delapan hal ini yang membelalakkan mata bahwa Jokowi tidak dekat dengan industri rokok. 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Penulis

Moddie Alvianto Wicaksono

Moddie Alvianto Wicaksono

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.