logo boleh merokok putih 2

Rokok Bukan Barang yang Sebabkan Inflasi

rokok inflasi

Pernyataan yang keliru bahwa rokok merupakan penyebab inflasi.

Apa yang mudah naik di Indonesia? Yap, antara lain kebutuhan pokok (beras, telur, cabai, dll), skincare, harga rokok, dan suara PSI. Mengenai kebutuhan pokok kita baru saja tergopoh-gopoh karena harga beras melonjak tinggi. Tercatat di Februari 2024 ini harga beras mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, dalam konferensi pers, Jumat (1/3/2024) yang saya salin dari Detik.com mengatakan bahwa rata-rata harga beras di level eceran mencapai Rp 15.157 per kg pada Februari 2024 ini. Harga itu naik 6,7% dibandingkan bulan Januari lalu dan naik 24,65% secara tahunan.

Beras yang melonjak tinggi ini sangat mungkin untuk menyebabkan inflasi. Lalu apa hubungannya dengan rokok? Tidak menutup kemungkinan rokok kedepannya akan disalahkan. Padahal tidak begitu. Rokok tidak ada sangkut pautnya dengan inflasi.

Kalau beras sudah pasti iya. Sebab nyaris semua orang di Indonesia mengkonsumsi beras. Begitu pula dengan kenaikan BBM misalnya tentu juga akan sebabkan inflasi karena BBM, beras, dan kebutuhan lainnya masuk di setiap saat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Makanya tak ayal ketika kebutuhan pokok naik, maka barang-barang lain juga bisa mungkin ikut naik.

Rokok Bukan Penyebab Inflasi 

Nah kalau rokok? Kan barang ini tidak masuk ke segala lini kehidupan masyarakat Indonesia. Rokok bukan barang primer yang tidak semua orang Indonesia mengkonsumsi rokok. Memang cukai rokok setiap tahunnya dinaikan yang otomatis berpengaruh di harganya, tapi hal itu tidak lantas menyebabkan inflasi yang signifikan.

Seperti kasus pada 2022 lalu rokok dituduh menyebabkan inflasi di Sumatera Utara oleh Edy Rahmayadi, katanya inflasi di Sumut karena banyak orang merokok. Padahal waktu itu rokok sekadar menyumbang 0,23% saja. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan imbas kenaikan BBM yang menyumbang 1,23% inflasi di Sumut pada 2022 lalu.

Logika angka di atas sudah menunjukkan bahwa inflasi yang terjadi di Sumut adalah imbas dari kenaikan BBM. Sehingga efeknya bisa menjalar ke berbagai kebutuhan pokok, barang dan jasa yang ikut-ikutan naik. Jadi bukan ada pada rokoknya.

Tapi sayangnya pemerintah selalu mengait-ngaitkan antara rokok dengan inflasi. Rokok selalu mendapatkan stigma sebagai barang ketiga setelah beras dan telur yang menyebabkan inflasi. Dari situ logika pemerintah secara tidak langsung menyamakan posisi rokok dengan telur dan beras. Bahkan sialnya narasi pemerintah mengatakan bahwa masyarakat lebih memilih rokok daripada membeli kebutuhan protein. 

Mengenai hal itu saya sangat tidak sepakat. Sebab salahnya bukan ada pada rokoknya, masyarakat tidak mengakses protein karena mereka belum tahu bagaimana protein menjadi kebutuhan yang bagus untuk sehari-hari. Ini terletak pada mindset masyarakat. Jadi tidak serta merta menyalahkan rokok sebagai penyebab inflasi!

Pun kalau harga rokok naik, masyarakat kita sudah cerdas untuk bergeser ke rokok-rokok murah atau bahkan tingwe yang sesuai dengan isi kantong mereka tanpa meninggalkan kebutuhan pokok. Dan narasi yang mengatakan bahwa rokok penyebab inflasi justru menghantam ekonomi Industri Hasil Tembakau (IHT). Padahal industri ini penopang ekonomi kerakyatan dan penyumbang utama pendapatan negara.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Penulis