logo boleh merokok putih 2

Rokok Bukan Takjil? Sebuah Perdebatan yang Tidak Layak di Bulan Ramadan

rokok takjil

Jika kamu sedang senggang di bulan Ramadan, cobalah berselancar ke Google. Ketik kata “rokok” dan cek hasilnya. Pasti ada artikel yang mengarahkan tentang “merokok membatalkan puasa”. Namun, yang tak kalah hebohnya adalah menyejajarkan rokok sebagai pembuka atau takjil. Bolehkah?

Rokok untuk Takjil, Bolehkah?

Ada pertanyaan menarik dari seorang teman kepada saya. Apakah rokok bisa berfungsi sebagai takjil? Sependek pengetahuan saya, boleh. Alasannya merokok dapat membatalkan puasa. 

Akan tetapi, beberapa ahli kesehatan mengatakan bahwa merokok jangan sampai digunakan cara untuk membatalkan puasa. Alasannya sederhana. Dalam perut kosong, zat beracun yang konon di dalam rokok, tidak boleh berfungsi untuk berbuka puasa. 

Itu tentu saja menuai perdebatan. Namun, ada pertanyaan yang lebih spesifik dari saya. Pernahkah sahabat sebat melihat takjil dalam bentuk rokok, baik itu di masjid atau di warung? Sependek pengetahuan dan pengalaman saya, tidak ada. 

Yang lebih sering ditemukan adalah kurma, teh manis, dan gorengan. Bahkan, dua yang terakhir, yang konon sama-sama bisa menyebabkan kolesterol dan diabetes, lebih sering tersaji di depan mata dan mulut Anda. 

Lalu, manakah yang lebih baik. Berbuka takjil dengan rokok atau makanan manis?

Adakah Masalah Besar jika Berbuka Puasa dengan Rokok?

Sebenarnya, saya yakin akan sangat jarang menemukan orang berbuka puasa langsung dengan rokok. Secara alam bawah sadar, biasanya orang akan mencari dan minum air terlebih dahulu. Setelah itu makan, dan terakhir baru merokok. 

Jika kamu pernah menemukan orang yang merokok terlebih dahulu daripada minum atau makan makanan manis, itu pasti ada suatu hal yang mendesak. 

Misal, minuman memang tidak disediakan, dan dia harus antri untuk mendapatkannya. Maka dari itu, untuk anjuran menyegerakan berbuka, bisa jadi dia perlu merokok. Baru setelahnya minum. 

Hal-hal seperti ini semestinya tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebab, bukan rokok atau teh atau makanan manis yang berfungsi untuk berbuka puasa melainkan apa yang tersaji di hadapannya. 

Dan, apa pun pilihannya, yang penting jangan sampai tidak berbuka. Malah justru itu yang berbahaya. 

Mau Apa pun Peristiwanya, Memang Rokok yang Selalu Disalahkan

Tidak hanya bulan Ramadan, melainkan pada bulan apa pun dengan peristiwanya beraneka ragam, rokok memang selalu tersudut. Salah satunya, permasalahan yang tadi di atas. Bolehkah rokok sebagai takjil berbuka.

Itu saja bisa menjadi masalah besar dan membuat, “ini lho alasannya mengapa rokok perlu diharamkan” atau “inilah alasan yang tepat untuk berhenti merokok” dan sebagainya. 

Padahal, rokok, merokok atau perokok itu biasa saja. Seperti yang pernah terungkap sebelumnya bahwa tidak merokok saat bulan puasa itu biasa saja. Perokok juga mampu menahan hawa nafsu untuk merokok selama kurang lebih 13 jam. Tidak bikin kejang-kejang ataupun lainnya. 

Oleh karena itu, sudah semestinya, kurang-kurangilah stigma bahwa rokok itu produk yang begini dan begitu. Kalo untuk permasalahan takjil, ya perokok tahu prioritas kok. Selama masih ada minuman dan makanan di depan mata, pasti akan memilih itu terlebih dahulu. 

Wong, sudah jelas. Puasa itu menahan dahaga, lapar, dan hawa nafsu. Klir. 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Penulis

Moddie Alvianto Wicaksono

Moddie Alvianto Wicaksono

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.