WHO
OPINI

Benarkah WHO Serius Melindungi Anak-anak dari Rokok?

WHO, sebagai lembaga kesehatan dunia, justru menjadi operator dari agenda kepentingan kapitalisme kesehatan.

Lebih dari dua dekade gerakan antirokok melancarkan siasat kebenciannya di Indonesia. Kebencian terhadap rokok ini berdasarkan dalil-dalil kesehatan yang di baliknya sarat dengan agenda bisnis nikotin. Salah satu tujuan terselubungnya agar rokok alternatif mendapatkan pasarnya dengan slogan; lebih aman dari rokok.

Selama ini, dalih pengendalian tembakau dengan menyasar isu anak justru menampakkan sesat pikir gerakan tersebut. WHO, sebagai lembaga kesehatan dunia, sejak awal hadir sebagai operator dari agenda kepentingan kapitalisme kesehatan (big pharma) itu.

Agenda yang mengikat lewat traktat FCTC (Framework Convention Tobacco Control) itu mendikte 168 negara dan mengikat secara hukum di 182 negara. Indonesia termasuk negara peserta yang kelewat berlebihan mengaksesi traktat pengendalian tembakau, meski sejatinya belum meratifikasi FCTC.

Tilik saja, pemerintah kita mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendikte Industri Hasil tembakau (IHT), mulai dari UU 36/2009 tentang Kesehatan hingga yang terbaru penyusunan RPP Kesehatan. Alih-alih menjawab problem kesehatan di masyarakat, penekanan aturan turunannya lebih tajam justru ke sektor tembakau.

Polemik Regulasi dan Lembaga Kesehatan yang Menyasar Tembakau

Persoalan stunting dan gizi buruk merupakan tameng yang digunakan oleh regulasi. Yang penting, perokok dan segala hal yang berkaitan dengannya harus musnah. Mengerikan, bukan?

Jika kita dalami lanjut, perkara gizi buruk ini berakar dari tiadanya keadilan gizi sebagai akses dari kemiskinan yang struktural. Namun, lagi-lagi rokok dan perokok yang menjadi tumbal. Kenapa bukan akar kemiskinannya yang dipangkas? Sementara, negara sendiri terus menaikkan target penerimaan cukai tembakau setiap tahun lebih dari 200 triliun rupiah.

Gerakan antirokok yang sebagian besar didanai lembaga asing itu memainkan isu kesehatan yang justru kian memperuncing kebencian. Menempatkan rokok sebagai pembunuh paling menakutkan.

Kocaknya, benci rokok tetapi mereka malah menikmati hasilnya via cukai. Di sinilah betapa oksimoronnya antirokok dan pemerintah.

Sementara itu ditilik secara global, WHO menyebutkan tingkat penggunaan rokok elektrik pada anak-anak usia 13-15 tahun lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Di Kanada, penggunaan rokok elektrik di kalangan anak usia 16-19 tahun meningkat dua kali lipat antara tahun 2017-2022, sedangkan di Inggris jumlah pengguna rokok elektrik meningkat tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Nah loh…

Artinya, jika memang barang kontroversial bernama rokok ini mengancam nyawa umat dunia. Harusnya sejak awal WHO menolak campur tangan para filantropis farmasi yang bermesra dengan kapitalisme rokok global mendanai instrumen pengendalian. Tahu sendiri kan para filantropis yang mendanai agenda pengendalian tembakau yang mengamanatkan WHO sebagai operator?

Filantropis Farmasi, Dalang di Balik Antirokok

Yap. Betul. Paling mencuat sepak terjangnya di Asia dan Afrika adalah Bloomberg Philantropies dan Bill and Melinda Gates Foundation. Sebagai catatan, Yayasan Bill Gates pernah dibongkar New York Time dan menjadi sasaran kritik publik karena ketahuan memiliki investasi di perusahaan-perusahaan rokok besar (Big Tobacco), mereka dituduh sebagai hipokrit. Namun, konon, Yayasan Bill Gates sudah menarik investasinya dari Big Tobacco.

Untuk menghilangkan jejak bermain di dua kaki ini, Bill dan Melinda Gates membayar media agar memberitakan secara positif atas apa yang mereka lakukan. Bloomberg sendiri di Indonesia tak kalah vital dalam mendanai sejumlah lembaga penelitian, LSM dan jaringan media untuk mendiskreditkan rokok. Bahkan, tanpa tedeng aling-aling menggunakan isu anak untuk mendelegitimasi industri kretek kita.

Jadi, jika memang WHO benar-benar melindungi anak dalam konteksi isu pengendalian tembakau. Tentu sejak awal sudah menolak keterlibatan para filantropis itu mensponsori instrumen pengendalian tembakau. Faktanya, isu anak terus dimainkan tetapi akar kemiskinan yang menjerat negara-negara berkembang tidak diselesaikan. Lagi-lagi rokok yang ditamengkan.