Ada Apa di balik Kampanye “Harga Rokok Harus Mahal”?

“Harga Rokok Harus Mahal”. Tagline tersebut terus saja digaungkan oleh kelompok antirokok akhir-akhir ini. Alasannya pun macam-macam, mulai dari harga rokok dianggap terlalu murah sehingga dapat dijangkau oleh anak-anak, harga rokok di Indonesia lebih murah ketimbang negara lain, hingga dianggap sebagai salah satu solusi agar perokok berhenti mengonsumsi tembakau. rokok

Antirokok dalam melemparkan wacana kepada publik selalu mengandalkan hitung-hitungan dampak dari tembakau versi subjektif mereka. Seperti, menganggap tembakau sebagai musuh utama dalam kesehatan. Dari sini saja sudah terlihat bahwa mereka tidak objektif, karena terselip rumus kebencian di dalamnya.

Baik, mari kita bedah pendapat rokok harus mahal dengan memulai pertanyaan, benarkah harga rokok di Indonesia termasuk murah?

Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai, Deni Surjantoro pernah mengatakan, harga rokok secara nominal absolut memang murah. Namun, dengan mempertimbangkan daya beli, harga rokok di Indonesia sudah mahal.

Apa yang dikatakan oleh Deni Surjantoro lebih rasional. Perbandingan harga rokok di Indonesia dengan negara-negara lain tidak bisa disamakan. Sebab kita harus menghitung kurs mata uang negara kita yang berbeda dengan negara lain. Belum lagi persoalan hitungan daya beli masyarakat di Indonesia yang juga berbeda ketimbang negara lain.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis, Yustinus Prastowo menyebut, harga rokok di Indonesia lebih mahal dibandingkan beberapa negara seperti Jepang, Korea, China, Hong Kong, Australia, Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam.

Penilaian ini berdasarkan indeks keterjangkauan yang diukur melalui rasio Price Relative to Income (PRI), rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.

Mari kita bandingkan dengan Jepang. Rerata pendapatan masyarakat Indonesia berdasarkan UMR berkisar antara Rp 2-4 juta. Sedangkan di Jepang, Upah Minimum Regional di Tokyo, Jepang sebesar 200.000 yen dalam setiap bulannya. Jika dikurs ke rupiah maka pekerja di Jepang itu bergaji sekitar Rp 24 juta.

Harga rokok di Indonesia jika diukur dengan pendapatan masyarakat Jepang, sampai dengan harga Rp 100 ribu pun masih dapat dibilang murah. Sementara harga rokok sebesar Rp 20 ribu bagi masyarakat Indonesia sudah termasuk mahal, karena pendapatannya tidak sebesar di Jepang, dan daya belinya pun rendah.

Sampai sini paham?

Lalu ada juga alasan yang mengatakan bahwa harga rokok di Indonesia murah, buktinya anak-anak masih bisa membeli rokok. Kalau untuk alasan yang satu ini sepertinya sangat jelas kalau antirokok terlalu mengada-ada dan menjadikan anak-anak sebagai tameng bagi kampanye mereka.

Untuk poin yang satu ini, semua masyarakat Indonesia tahu bahwa secara regulasi, rokok adalah produk yang boleh dikonsumsi oleh orang-orang yang telah berumur 18 tahun ke atas. Artinya, rokok memang bukan produk yang boleh diperjual-belikan kepada anak di bawah umur. Hal ini membenarkan bahwa logika kampanye antirokok sudah salah, karena mereka menyeret anak-anak dalam persoalan rokok.

Kasus anak di bawah umur, membeli rokok memang ada, tapi ini bukan perkara anak-anak membeli rokok karena harganya terjangkau. Ini menyoal edukasi mengenai regulasi kepada pedagang, orang tua, lingkungan sekitar dan si anak itu sendiri. Kalau dilihat bahwa harga rokok terjangkau oleh anak-anak, kondom pun yang harganya Rp 7 ribu/pack sangat terjangkau bagi mereka. Bahkan ada anak-anak yang mendapatkan uang jajan Rp 100 ribu rupiah oleh orang tuanya. Lantas apakah sebotol bir yang harganya Rp 40 ribu langsung kita tuding harganya terjangkau oleh anak-anak?

Wacana ngawur harga rokok harus mahal yang dilempar oleh kelompok antirokok kepada publik, jelas-jelas memiliki tujuan agar agenda pengendalian tembakau dapat dilaksanakan sepenuhnya di Indonesia. Harus diingat bahwa pengendalian tembakau bukan lagi bicara tentang kesehatan publik yang selama ini masih menjadi kedok bagi antirokok.

Pengendalian tembakau adalah sebuah rumusan agar rokok sebagai produk hasil tembakau bisa digeser keberadaannya dengan produk-produk alternatif tembakau ciptaan industri kesehatan. Yang nantinya akan terlihat dengan jelas bahwa ada kepentingan bisnis nikotin di dalamnya. Sampai sini kita masih mau percaya dengan kampanye “Harga Rokok Harus Mahal”?

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

ARTIKEL TERKAIT

Benarkah Harga Murah Rokok Sebabkan Anak Kecil Merokok?

Setelah survei yang dikeluarkan oleh Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) merilis hasil survei…

Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa

Kita seringkali melontarkan pernyataan “Bangsa ini harus mandiri dan berdaulat” dengan berbagai argumentasi dan konsep. Tapi kita seringkali lupa bahwa…

Alasan Pemerintah Melawan Aturan Kemasan Polos Rokok Sudah Benar

FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) membawa dampak buruk bagi negara-negara yang memiliki kepentingan terhadap industri hasil tembakau. Salah satunya…

Rokok: Menimbang Antara Isu Kesehatan dan Kedaulatan Nasional

Di Indonesia, permasalahan rokok merupakan perdebatan panjang menyangkut mau dikemanakan isu ini sebenarnya. Karena bagaimanapun berbagai pendapat mempunyai alur argumentasi…