\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Panen Tembakau Usai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-panen-tembakau-usai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 11:15:16","post_modified_gmt":"2024-01-05 04:15:16","post_content_filtered":"\r\n

Saya masih sering tertawa jika mengingat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh mereka para anti-rokok terutama kampanye-kampanye yang menyasar langsung ke para petani tembakau. Salah satu kampanye yang mereka lakukan adalah menggelontorkan usulan sekaligus anggaran agar para petani tembakau mau menyudahi kegiatan mereka menanam tembakau tiap musimnya, diganti dengan komoditas pertanian lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa saya tertawa? Karena jika melihat langsung kampanye mereka, apa yang mereka suarakan, saya yakin mereka sama sekali tidak mengerti pertanian tembakau. Dan saya yakin kebanyakan dari mereka tidak pernah langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa para petani itu bekerja di ladang-ladang milik mereka. Para anti-rokok itu, bergerak di tataran elitis tanpa mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan para petani tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka sama sekali tidak paham bahwa tembakau itu ditanam di musim kemarau. Hanya di musim kemarau karena pertanian tembakau memiliki kekhasan tersendiri, ia tidak bisa menghasilkan tembakau yang baik jika ditanam di musim penghujan. Jangankan di musim penghujan, ditanam di musim kemarau saja, namun ternyata ada anomali di musim kemarau sehingga hujan masih tetap turun meskipun tidak terlalu sering, lebih lagi saat mendekati musim panen, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan buruk, tidak laku di pasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, jika mereka para anti-rokok itu datang ke Temanggung, Jember, Bojonegoro, Boyolali, Madura, dan beberapa sentra pertanian tembakau lainnya pada musim penghujan seperti sekarang ini, mereka akan merasa berhasil dengan kampanyenya karena di wilayah-wilayah itu, tidak ada sebatang pun petani menanam tembakau. Mereka lalu akan koar-koar, bahwasanya saat ini petani juga bisa menanam komoditas lain yang bernilai ekonomis, tanpa perlu menanam tembakau lagi. Lucu. Iya, lucu karena mereka tidak memahami konteks keseharian para petani di wilayah-wilayah penghasil tembakau dalam siklus tanam sepanjang satu tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di sentra-sentra penghasil tembakau, bukanlah petani satu komoditas pertanian saja. Mereka sudah sejak lama menanam komoditas lain di luar tembakau pada musim hujan. Mereka hanya menanam tembakau di musim kemarau saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari saya ajak Anda ke Temanggung, melihat bagaimana para petani bergeliat dengan lahannya sepanjang tahun bergulir. Pada masa-masa seperti sekarang ini, para petani di Temanggung sudah selesai dengan tembakaunya. Mereka tak lagi menanam tembakau, beralih ke komoditas lainnya. Nanti saat musim hujan hampir usai pada bulan Maret hingga April, mereka baru kembali menanam tanaman tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas apa yang mereka tanam pada musim seperti sekarang ini, di musim penghujan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Para petani di Temanggung mengklasifikasikan lahan mereka menjadi tiga kategori: lahan gunung, lahan tegalan, dan lahan sawah. Di tiga kategori lahan itu, selepas musim tembakau, para petani menanam komoditas yang berbeda-beda.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di lahan gunung, yang didominasi lahan berkontur miring dengan kemiringan yang kadang mancapai titik ekstrem, para petani biasanya menanam bawang merah, bawang putih, kobis, dan beberapa jenis sayuran yang memang sangat cocok ditanam di wilayah pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Memahami Seluk-beluk Regulasi dan Kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, di lahan tegalan, para pemilik lahan di luar musim tembakau akan menanami lahan mereka dengan komoditas jagung, cabai, terong, tomat, dan beberapa komoditas lainnya sesuai selera petani pemilik lahan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang terakhir, di lahan persawahan, para petani menanami lahan mereka dengan tanaman padi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jadi, pada lahan yang sama, dalam satu tahun, ada minimal dua jenis komoditas yang ditanam oleh petani sebagai komoditas pertanian mereka. Selang-seling penanaman komoditas ini, selain untuk tetap memproduktifkan lahan sepanjang tahun, juga menjamin kesuburan lahan milik mereka. Karena, menurut keterangan beberapa petani di Temanggung yang saya temui, menanam selang-seling seperti itu lebih menjamin kesuburan lahan dibanding jika hanya menanam satu komoditas saja sepanjang tahun.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada musim penghujan, memang ada beragam tanaman produktif yang bisa dipilih petani untuk ditanam di lahan mereka. Maka pada musim seperti sekarang ini, lahan-lahan di sentra penghasil tembakau akan ditanami komoditas lain yang bervariasi tanpa ada tanaman tembakau sebatang pun. Nanti, ketika musim hujan akan segera berakhir, dan musim kemarau siap datang lagi, tembakau-tembakau akan kembali ditanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mengapa hanya tembakau yang ditanam di musim kemarau? Karena sejauh ini, hanya tembakaulah yang cocok ditanam. Ia tak memerlukan banyak air, bahkan sebaliknya, dan nilai ekonominya berada pada posisi puncak dibanding komoditas lain jika ditanam di musim kemarau. Di daerah tertentu, pada musim kemarau, jangankan komoditas bernilai ekonomis tinggi namun membutuhkan banyak air, rumput-rumput sekalipun tak mampu tumbuh, ia mengering karena kemarau di wilayah pegunungan begitu kering. Namun tembakau, ia malah tumbuh subur dan memberi banyak rezeki kepada para petani.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6270","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6267,"post_author":"878","post_date":"2019-12-12 09:42:09","post_date_gmt":"2019-12-12 02:42:09","post_content":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_title":"Sinergitas Pertanian Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sinergitas-pertanian-tembakau-dengan-kondisi-alam","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-05 10:32:35","post_modified_gmt":"2024-01-05 03:32:35","post_content_filtered":"\r\n

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertanian tembakau di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Baik atau buruk hasil tembakau pada tiap musimnya, sangat bergantung pada kondisi cuaca ketika tembakau mulai ditanam hingga kelak dipanen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau yang bagus, salah satunya dihasilkan dari perkebunan dengan cuaca yang ramah bagi tanaman tembakau. Yang saya maksud cuaca ramah bagi tanaman tembakau adalah, masih ada hujan pada masa awal tembakau ditanam, dan panas yang cukup setelahnya hingga tembakau dipanen. Jika menjelang musim panen hujan masih turun, bisa dipastikan tembakau yang dihasilkan akan buruk. Bahkan, sangat buruk hingga tembakau yang dihasilkan tidak laku di pasar tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Anomali Kondisi Tanaman Tembakau<\/h3>\r\n

Kondisi tanaman tembakau ini memang menjadi anomali. Di saat tanaman-tanaman semusim lain kebanyakan membutuhkan asupan air yang cukup sepanjang waktu, tembakau malah membutuhkan panas yang baik setidaknya sebulan setelah tembakau ditanam hingga datang masa panen. Di saat itu, jika hujan turun lebih lagi turun dengan intensitas yang besar, tembakau hancur lebur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Itulah sebabnya, ada anekdot yang muncul di kalangan petani tembakau, jika petani lain berharap hujan turun agar tanaman mereka tumbuh subur, petani tembakau sebaliknya, doa mereka berisi permintaan agar kemarau terus terjadi selama masa mereka memasuki musim tanam tembakau hingga musim panen tiba. Mereka tidak mengharap hujan yang banyak, hanya sedikit saja di masa awal tembakau di tanam.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini membikin para petani tembakau biasa mulai menanam tembakau pada penghujung musim hujan tiap tahunnya dan memanen tembakau mereka pada puncak musim kemarau hingga sesaat sebelum musim hujan kembali tiba. Sebetulnya ini sangat membantu petani-petani di wilayah-wilayah sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Mereka menanam tembakau di musim kemarau yang sangat kering dan sulit air, lantas menanam komoditas pertanian lain semisal cabai, bawang, jagung, tomat, atau padi ketika musim hujan tiba.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\r\n

Cuaca, Faktor Penting Pertanian Tembakau di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Musim kemarau yang biasanya menjadi masa paceklik bagi banyak petani lain, tidak berlaku untuk para petani yang biasa menanam tembakau. Mereka masih bisa menghasilkan banyak uang dari perkebunan tembakau mereka. Jadi unik sekaligus aneh jika ada yang mewacanakan perihal penggantian tembakau dengan tanaman lain karena tembakau dianggap buruk bagi kesehatan. Mereka yang mengusulkan itu tidak paham kondisi pertanian tembakau di lapangan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di luar cuaca, ada faktor alam lainnya yang begitu berpengaruh terhadap tanaman tembakau. Tanah tempat tembakau ditanam misal. Di wilayah Temanggung, ada jenis tembakau srintil yang harga perkilogramnya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Ini jenis tembakau istimewa, sangat istimewa.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk mendapatkan tembakau srintil, bukan bibit yang berpengaruh. Bibit dari jenis kemloko, semua bisa berubah menjadi tembakau srintil yang berharga mahal. Ia bisa menjadi srintil jika ditanam di wilayah-wilayah tertentu di lereng timur Gunung Sumbing. Hanya tanah-tanah tertentu saja yang bisa menghasilkan srintil. Bukan dari jenis bibit, bukan pula dari cara pengolahan pasca panen. Ada bentang alam tertentu (dalam hal ini lereng timur Gunung Sumbing), kondisi tanah tertentu, hingga asupan sinar matahari yang cukup yang bisa menghasilkan tembakau jenis srintil. Sinergitas antara alam dan pertanian tembakau sangat terasa di sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\r\n

Sinergitas Tembakau dengan Kondisi Alam di Indonesia<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, sinergitas antara kondisi bentang alam dengan pertanian tembakau yang baru-baru ini saya ketahui adalah perihal lokasi penjemuran daun tembakau yang sudah dipanen. Informasi ini saya dapat dari rekan saya yang sedang melakukan riset tesis S2-nya di Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasar informasi yang ia terima dari petani tembakau di Temanggung, lokasi penjemuran daun tembakau sangat perpengaruh dengan citarasa dari daun tembakau tersebut. Jika petani ingin mendapat rasa tembakau yang cukup kuat dan keras, tembakau-tembakau mereka harus dijemur di lokasi A, lantas jika petani ingin mendapat jenis tembakau dengan kualitas rasa yang lembut, ia harus ditanam di lokasi B, tentu saja di lokasi yang berbeda dari lokasi A.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ratusan tahun menanam tembakau, para petani tembakau di negeri ini hingga hari ini masih memanfaatkan tanda-tanda alam dan masih sangat bergantung dengan kondisi alam untuk bisa mendapatkan kesuksesan dalam pertanian tembakau. Sinergitas antara alam dan para petani, mutlak diperlukan jika mereka ingin sukses bertani tembakau. Itulah sebabnya, hingga hari ini, keahlian membaca tanda-tanda alam menjadi pengetahuan penting yang mesti dikuasai oleh para petani tembakau.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6267","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6247,"post_author":"878","post_date":"2019-11-23 10:34:58","post_date_gmt":"2019-11-23 03:34:58","post_content":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_title":"Nasib Harga Cengkeh Setelah Cukai Rokok Naik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:15:15","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:15:15","post_content_filtered":"\r\n

Harga cengkeh, dulu dan masa kini, jauh berbeda<\/em>.<\/p>\r\n

Dahulu, pada masa jaya komoditas bernama cengkeh, cukup bermodal 10 kilogram cengkeh kering kualitas baik agar seseorang bisa berangkat pergi haji ke tanah suci di Mekah dan Madinah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, seperti apa kondisi komoditas cengkeh terkini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pagi tadi, tiba-tiba masuk pesan Whatsapp di telepon seluler saya. Pesan Whatsapp dari sahabat saya, seorang petani asal Bali yang sesungguhnya sudah cukup lama meliburkan diri menggunakan aplikasi whatsapp sehingga ia sangat sulit dihubungi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pesan Whatsapp itu berisi sebuah foto. Foto itu diambil oleh si pengirim pesan. Dalam foto, ada saya dan Rahung Nasution ketika sedang menyantap masakan khas Bali di Desa Munduk, tempat si pengirim foto berasal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengirim foto itu, Komang Armada. Seorang petani asal Desa Munduk di utara Bali. Dua tahun lalu, kali terakhir saya berkunjung ke Desa Munduk. Desa dengan lanskap perbukitan yang didominasi pohon cengkeh dan kopi sebagai komoditas utama penggerak perekonomian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Komang Armada, atau biasa saya sapa Bli Komang, adalah petani cengkeh sekaligus kopi yang cukup serius menggarap perkebunan miliknya. Sudah sejak sekira sepuluh tahun lalu, Bli Komang menerapkan pertanian organik untuk kebun cengkeh dan kopi, dan beberapa komoditas lain yang coba ia tanam di lahan pribadinya di Munduk.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menerapkan pertanian organik untuk kebun pribadinya, pelan-pelan Bli Komang juga mengajak warga di desanya untuk ikut bertani organik demi menjaga tanah agar tidak hancur digerus pupuk kimia sintetis. Ia juga aktif memberikan pengertian kepada para pemilik kebun cengkeh di desanya agar tidak mengambil daun-daun cengkeh yang berguguran untuk dijual. Karena daun cengkeh itu bermanfaat menjaga kesuburan tanah sekaligus menjaga tanaman cengkeh dari serangan penyakit.<\/p>\r\n

Aktivitas Bli Komang di Desa Munduk<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lama tak berkirim kabar dan berkomunikasi dengan Bli Komang, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya beberapa hal ke Bli Komang sesaat setelah tiba-tiba ia kembali menghubungi saya. Tak ada basa-basi semisal menanyakan kabar atau aktivitas terbaru. Sama sekali tak ada. Saya langsung bertanya kepada pokok persoalan yang memang ingin segera saya dapat informasinya dari Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Munduk, dan di beberapa tempat penghasil cengkeh lain di negeri ini, musim panen cengkeh baru saja usai. Tentu saja saya ingin tahu seperti apa hasil panen cengkeh di Munduk tahun ini. Baikkah dari segi kuantitas dan harga, atau malah sebaliknya. Saya betul-betul ingin tahu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua tahun lalu, selama lebih sebulan saya betul-betul merasa menyatu dengan pertanian cengkeh di Munduk. Rutin berkunjung ke kebun, bergaul dengan banyak petani cengkeh, hingga ikut panen di musim panen membikin saya memiliki ikatan lebih dengan cengkeh dan Munduk. Oleh sebab itu rasa ingin tahu saya tentang kondisi cengkeh terkini di Munduk selalu hadir. Lebih lagi kesempatan untuk mencari tahu itu ada lewat Bli Komang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Hasil cengkeh<\/a> tahun ini tidak bagus, Waz. Hanya menghasilkan rata-rata 40% saja dari hasil maksimal yang bisa didapat.\" Terang Bli Komang lewat pesan whatsapp terkait panen cengkeh di tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bli Komang melanjutkan, menurutnya yang menjadi sebab hasil panen tahun ini berkurang drastis karena pada musim hujan di akhir tahun lalu, hujan terlalu lebat. Hal ini menyebabkan bakal-bakal bunga cengkeh yang mulai tumbuh berubah menjadi tunas dan daun karena terlalu banyak asupan air. Tidak berubah menjadi bunga cengkeh yang kelak akan di panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sekira dua tahun lalu, hasil panen cengkeh bahkan jauh lebih buruk lagi karena sebab yang sama seperti tahun ini. Maka, faktor cuaca mau tak mau memang menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil cengkeh setiap tahunnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga Cengkeh<\/h3>\r\n

Kaidah-kaidah ekonomi dan hukum pasar menyebutkan, jika sebuah komoditas berkurang kuantitasnya, akan berbanding lurus dengan kenaikan harga dari komoditas tersebut. Maka saya menduga tahun ini harga cengkeh naik karena kuantitasnya yang sedang menurun, setidaknya di Munduk dan sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada tahun-tahun sebelumnya, rerata harga cengkeh kering per kilogram minimal berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Terkadang pada saat tertentu bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu. Perkiraan saya, untuk tahun ini, setidaknya harga bukaan termurah berada pada angka Rp90 ribu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nyatanya, berdasar informasi dari Bli Komang, harga cengkeh kering tahun ini tidak sebaik biasanya. \"Harganya pun anjlok, per hari ini 62.000\/kg, itu yang grade super. Yang asalan sekitar 58.000.\" Terang Bli Komang perihal harga cengkeh tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika berita perihal kenaikan nilai cukai rokok sebanyak 23 persen per tahun depan, dan harga rokok rerata naik sebanyak 35 persen dari harga jual saat ini, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa kerugian paling awal dari kebijakan ini akan langsung dirasakan petani yang mensuplai bahan baku rokok. Petani cengkeh dan petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun saya tidak menduga bahwa imbasnya sudah begitu cepat dirasakan hingga jauh ke perkebunan-perkebunan cengkeh di pelosok negeri. Begitu kabar cukai naik dan otomatis mendongkrak harga rokok di pasaran, para petani cengkeh langsung merasakan efeknya bahkan ketika cukai dan harga rokok belum benar-benar naik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain petani, tentu saja produsen rokok akan merugi dari kenaikan cukai ini, dan para konsumen rokok di seluruh Indonesia. Yang untung lantas siapa? Negara dan hanya negara saja.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya lantas teringat, kehancuran cengkeh dari masa ke masa, yang semuanya terjadi karena intervensi pihak luar yang berlaku jahat terhadap produk ini dan turunan-turunannya. Lalu, apakah cengkeh dan akan kembali mengalami titik nadir kehancuran setelah kenaikan cukai yang angkanya tak masuk akal kini, seperti pernah terjadi pada masa BPPC dan revolusi industri? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Sebelum itu terjadi, perlawanan demi perlawanan saya yakin akan terus dilakukan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6247","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n

Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.

Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.

Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.

Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.

Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.

Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n

Industri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n

Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.

Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.

Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.

Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6209,"post_author":"878","post_date":"2019-11-08 11:20:23","post_date_gmt":"2019-11-08 04:20:23","post_content":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6175,"post_author":"878","post_date":"2019-10-25 09:13:53","post_date_gmt":"2019-10-25 02:13:53","post_content":"\n

Dengan jumlah penduduk yang hampir selalu menempati peringkat lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia di mata para pengusaha, penggerak bidang industri, dan marketing ragam bentuk produk, merupakan pasar yang begitu potensial dan menjanjikan. Pasar bernama Indonesia ini, sudah sejak lama menjadi bidikan beberapa pihak yang mampu membaca potensi yang dimiliki Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada tiga aspek di Indonesia yang menjadi incaran para pengusaha kelas kakap untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya dari negeri ini. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang melimpah, dan lahan yang murah dan luas untuk memproduksi beragam produk yang akan di pasarkan. Di luar tiga aspek tersebut, ada satu faktor penting lainnya yang membikin pengusaha-pengusaha besar dari luar negeri mengincar Indonesia. Faktor itu adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Indonesia dan penduduknya, adalah pasar itu sendiri. Pasar yang sangat potensial. Tinggal menggenjot pola hidup konsumif kepada warganya, dengan dibumbui beragam bentuk promosi yang menggiurkan, jadilah pasar Indonesia ini menjadi pundi-pundi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua, kepentingan bisnis dan ekonomi semacam ini, memicu persaingan dagang yang kerap kali tidak adil. Persaingan bisnis membikin beberapa pihak memilih cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan bisnis mereka. Pada pekan lalu, saya menyinggung persaingan bisnis yang menghancurkan industri minyak kelapa dan kopra di negeri ini. Yang dirugikan, tentu saja para petani kelapa dan pengusaha kecil berbasis rumah tangga yang memproduksi kelapa. Celakanya, guna memenangkan persaingan bisnis semacam ini, mereka para pengusaha besar itu berkomplot dengan penguasa untuk mengeluarkan regulasi yang menindas pengusaha kecil pribumi. Lebih dari itu, mereka memakai akademisi (dalam hal ini di bidang kesehatan) untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dampak Kenaikan Cukai bagi Perokok, Petani, dan Buruh Pabrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika pekan lalu saya menulis tentang kehancuran industri minyak kelapa dan mengapa industri kretek harus belajar dari sana, kali ini, mari kita belajar dari kehancuran industri gula di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Setelah cengkeh dan rempah-rempah lain sudah mulai menurun pamornya di pasar Eropa, Kolonialisme yang di praktikkan Belanda di negeri ini menemukan produk baru dalam bentuk gula untuk mendulang keuntungan sebesar-besarnya. Gula menjadi primadona baru. Manisnya gula perlahan membikin penjajah lupa akan harumnya aroma rempah-rempah di masa sebelumnya. Industri gula dibangun besar-besaran dengan pulau Jawa menjadi sentra penanaman bahan baku sekaligus sentra produksi gula.<\/p>\n\n\n\n

Selepas kolonialisme berakhir dan negeri ini merdeka, industri gula tetap menjadi salah satu industri penting yang menggenjot roda perekonomian negeri yang baru merdeka ini. Pada masa jayanya, sebelum Soeharto berkuasa bersama pasukan militernya di negeri ini, industri gula nasional mampu bersaing dengan Kuba. Kedua negara ini bersaing menjadi pengekspor terbesar produk gula di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Pada puncak kejayaannya, industri gula di negeri ini disokong oleh 179 perusahaan gula dalam negeri. Produksi total tahunan ketika itu mencapai 3 juta ton dan bisa mengekspor gula hingga 2,4 juta ton. Setelah itu, industri gula dalam negeri pelan-pelan mengalami kemunduran. Pemerintahan Soeharto seolah membiarkan perusahaan-perusahaan gula yang kebanyakan milik negara (BUMN) berjuang sendirian. Pemerintahan di bawah kuasanya lebih memilih mulai usaha mengimpor gula alih-alih mempertahankan industri gula dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Pada 1967, setahun setelah Soeharto berkuasa, Indonesia kali pertama mengimpor gula. Saat itu pemerintah mengimpor gula sebanyak 33 ton. Jumlah impor gula itu kian tahun kian bertambah hingga pada penghujung kekuasaan Soeharto, pemerintah mengimpor gula sebanyak 1,384 juta ton. Imbasnya, industri gula dalam negeri berantakan. Dari sebelumnya ada 179 perusahaan gula dalam negeri, pada permulaan abad 21 perusahaan gula tersebut sisa sepertiganya saja.<\/p>\n\n\n\n

Kehancuran industri gula dalam negeri kian diperparah usai IMF berhasil mendesak pemerintah Indonesia meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy <\/em>(MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent <\/em>itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Pada Butir 44 letter of intent <\/em>disebutkan kewajiban pemerintah membebaskan tata niaga <\/em>pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.<\/p>\n\n\n\n

Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Bulan Februari 1998, bea masuk gula ditetapkan menjadi 0% alias dihapuskan. Impor gula dibebaskan tanpa hambatan apa pun. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity<\/em> dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy<\/em> (Khudori, Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, LP3ES, Jakarta: 2005). Gula impor kian membanjiri negeri ini. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan PG ambruk. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara PG satu per satu ber tumbangan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gula yang sebelumnya menjadi primadona di negeri ini, membantu penghidupan banyak petani tebu, hingga para pekerja di pabrik gula, perlahan terseok. Pasar gula dalam negeri dikuasai asing, hingga kini.<\/p>\n\n\n\n

Secara kasat mata, memang ada pihak-pihak yang ingin merebut pasar di Indonesia. Mereka bersikukuh bahwa Indonesia harus menjadi konsumen saja, jangan lagi jadi produsen. Segala cara dilakukan untuk mewujudkan itu semua. Industri minyak kelapa, juga industri gula, dan masih banyak beberapa contoh lainnya, sudah merasakan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Dan saat ini, setidaknya sudah dua dekade belakangan, industri kretek sedang coba diperlakukan seperti itu. Cara-cara yang dilakukan untuk merebut industri minyak kelapa dengan isu kesehatan dan kampanye turunannya, juga pada industri gula dengan ragam rupa regulasi yang merugikan, sedang diterapkan langsung terhadap industri kretek dalam negeri. Celakanya, lagi-lagi, pemerintah selaku penguasa negeri ini, tetap berlaku sama seperti perlakuan mereka ketika industri gula dan minyak kelapa diserang seperti itu. Pemerintah malah ambil bagian dalam kampanye yang menyerang industri kretek, bukannya malah melindungi industri yang membanggakan negeri ini dari rongrongan asing.
<\/p>\n","post_title":"Akankah Industri Kretek Bernasib Seperti Industri Gula di Negeri Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akankah-industri-kretek-bernasib-seperti-industri-gula-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-25 09:13:55","post_modified_gmt":"2019-10-25 02:13:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6175","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":6},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};