Arsitektural Borobudur adalah penggambaran dari tiga lingkungan (dhatu). Kamadhatu yaitu pada bagian dasar, melambangkan lingkungan nafsu rendah. Rupadhatu adalah lingkungan bentuk yang berada pada teras tengah. Teras ini menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, namun masih terikat oleh suatu pengertian atau konsep tertentu tentang realitas nyata.

 

borobudur-upload-03
Foto Borobudur pada tahun 1872 koleksi Tropenmuseum Belanda

[dropcap]S[/dropcap]iapa bilang Indonesia tak memiliki piramida? Sudah menjadi jamak jika kita mendengar kata piramida, maka pikiran serta merta melayang pada bangunan monumen di Mesir. Itulah problemnya, istilah piramida, seolah-olah harus merujuk model piramida Mesir. Padahal Candi Sukuh dan Borobudur, juga memiliki struktur bangunan berbentuk piramidal, dan banyak disebut sebagai piramida.

Borobudur, meskipun istilah piramida tak jua disematkan di depan namanya toh ini bukan berarti mengurangi segala capaian ekspresi keagungan dan keindahan karyanya; juga kebesaran sekaligus ketenaran candi itu di mata dunia. Merujuk data Van Erp sebagaimana dikutip oleh Claire Holt (2000), candi Borobudur dibangun dari dua juta kaki kubik batu andesit yang telah dipotong-potong, diangkut, ditumpuk serta dipahat. Terdiri 1.460 panel bergambar dan 1.212 panel dekoratif. Juga 504 patung Buddha yang dipahat tiga dimensi, di mana 72 patung di antaranya berada di dalam stupa-stupa kecil. Stupa terbesar berbentuk genta yang memahkotai bangunan paling atas candi ini memiliki diameter 52 kaki. Kebesaran dan ketenaran sejati tentu karena bobot substansi yang diembannya dan bukan karena penamaan semata. Dan Borobudur jelas memiliki semua itu.

Nama Borobudur diambil dari prasasti tahun 842. Dari kata “Bhu -misambharabudara”  yang artinya Gunung Timbunan Kebajikan dalam Sepuluh Tingkatan Bodhisattva. Mengutip analisis De Casparis, Claire Holt (2000) menaksir pada tahun ketika prasasti itu ditulis Borobudur jelas telah selesai dibangun. Atau sedikit lebih awal yaitu pada masa raja Syailendra Simaratunga tahun 824.

Arsitektural Borobudur adalah penggambaran dari tiga lingkungan (dhatu). Kamadhatu yaitu pada bagian dasar, melambangkan lingkungan nafsu rendah. Rupadhatu adalah lingkungan bentuk yang berada pada teras tengah. Teras ini menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, namun masih terikat oleh suatu pengertian atau konsep tertentu tentang realitas nyata. Dan terakhir adalah lingkungan tanpa bentuk yaitu pada teras tertinggi disebut arupadhatu.

Selain merupakan monumen pengejawantahan doktrin Buddhis-Mahayana, nama Borobudur menurut Claire Holt barangkali juga berisi dua kiasan. Pertama, monumen dengan bentuk arsitektural sebuah gunung dengan sebuah susunan teras-teras. Seperti kita tahu, di sekeliling lokasi terhampar gunung-gemunung yang membentuk lanskap indah bagi berdirinya ‘gunung’ batu buatan itu. Kedua, candi ini dibangun bagi leluhur pendiri dinasti dan wangsa Syailendra, yang dimuliakan secara anumerta sebagai Bodhisattva. Sementara istilah Syailendra itu sendiri bermakna ‘Yang Dipertuan dari Gunung’.

Apa yang penting dicatat di sini ialah: Walaupun ribuan relief-relief Borobudur tak bakalan bisa ditafsir tanpa adanya risalah-risalah dari India tentang Buddha-Mahayana, namun demikian menurut Denys Lombard (1996) di India ternyata justru tidak dikenal satu pun bangunan sejenis atau setipe Borobudur.

Masih menurut tafsiran Lombard (1996), konon masyarakat Jawa telah memuja gunung api sejak sebelum masuknya pengaruh Hindu dan Buddha. Proses adopsi budaya Jawa terhadap konsep kosmologi India nampaknya tak serta merta menghilangkan bentuk-bentuk pemujaan asli yang lebih kuno, yang ditujukan kepada gunung-gunung dan dikaitkan dengan diri sang raja. Orang-orang Jawa Kuno menyembah gunung-gunung berapi tertentu, seperti orang Bali dewasa ini memuja Gunung Agung dan penduduk Tengger di Jawa Timur memuja kawah Gunung Bromo.

borobudur-upload-02
Foto Borobudur setelah direstorasi oleh Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNESCO pada tahun 1968-1983

Dalam kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa, Lombard mengungkap bahwa salah satu catatan penting karya susastra abad ke-11 ialah tentang adanya ritual pemujaan Raja Airlangga kepada puncak Gunung Indraparwata. Juga dalam Nagarakertagama pun diceritakan bagaimana Mpu Prapanca memohon perlindungan kepada Parwanatha (penguasa gunung), yang tiada lain adalah raja Majapahit yang tengah berkuasa, Hayam Wuruk. Sedang Mpu Tantular dalam karya Sutasoma mencatat, ia mempersembahkan salah satu lagu pujian gubahannya kepada Girinatha (Raja Gunung). Sementara dalam dunia pewayangan, bagaimana pentingnya ritus pemujaan terhadap gunung api terungkap pada “kayon” atau “gunungan” yang berfungsi membuka atau menutup sebuah babak cerita (tancep kayon). Gambar-gambar yang terdapat pada kayon itu secara simbolik menggambarkan alam semesta lengkap dengan segala isinya.

Tafsiran Lombard tentu relevan membaca konteks geografis Indonesia yang terletak pada jalur “cincin api” Pasifik. Seperti diketahui, Indonesia memiliki jumlah gunung berapi paling banyak di dunia. Setidaknya tercatat kurang-lebih 130 gunung berapi aktif yang merupakan 10% dari jumlah keseluruhan gunung api di dunia. Banyaknya gunung berapi ini secara antropologis memberi lanskap budaya lahirnya bentuk-bentuk ritual pemujaan terhadap gunung api beserta konsep kosmologi gunung. Tidak berlebihan sekiranya Lombard mengingatkan kita, bahwa kedekatan masyarakat Jawa dengan gunung berapi telah memberikan ciri-ciri plutonis tertentu kepada para raja Jawa.

Andai tafsiran antropologis Lombard itu benar, maka tafsiran Claire Holt bahwa Borobudur merupakan perwujudan ‘gunung’ batu juga dapat dibaca sebagai upaya membangun simbolisasi sekaligus monumen arsitektural terhadap eksistensi gunung api. Bagaimanapun cincin api Pasifik, dunia gunung-gemunung api dan piramida Borobudur merupakan satu kesatuan geografis dan geokultural yang terbentuk secara sinkretis. Berpijak dari tafsiran itu, selain merupakan pengejawantahan aspek doktrin Buddhisme-Mahayana, jelas bukan mustahil seandainya pembangunan Borobudur yang mengambil bentuk piramida itu justru dimaksudkan sebagai upaya stilasi keberadaan gunung api secara ornamental sebagaimana kayon atau gunungan dalam dunia pewayangan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun