Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n
Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n
Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n
Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun. <\/p>\n\n\n\n Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun. <\/p>\n\n\n\n Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun. <\/p>\n\n\n\n Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun. <\/p>\n\n\n\n Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun. <\/p>\n\n\n\n Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun. <\/p>\n\n\n\n Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun. <\/p>\n\n\n\n Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi. <\/p>\n\n\n\n Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi. <\/p>\n\n\n\n Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi. <\/p>\n\n\n\n Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi. <\/p>\n\n\n\n Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007, Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi. <\/p>\n\n\n\n Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Pertama, undang-undang cukai dan kejahatan rezim kesehatan. Cukai merupakan komponen pendapatan negara yang mempunyai peran penting untuk terlaksananya tugas Negara. Pungutan cukai sudah terlaksana sejak zaman kolonial dalam Staatsblad No. 517 tahun 1932. Giroh pungutan ini hanya berdasar pada penguatan pendapatan dan keungan kolonial. Karena dirasa salah satu industri yang mampu menopang keuangan kolonial saat itu. <\/p>\n\n\n\n Setelah merdeka, pungutan cukai tetap dilanjutkan sebagai bagian penguatan keuangan Negara, diatur pada Undang-undang No. 28 Tahun 1947 hingga Undang-undang No.11 Tahun 1995. Pada tahun 2007, terjadi pergeseran alasan pungutan cukai yang awalnya untuk penguatan keuangan Negara, kemudian bertujuan sebagai sarana pembatasan peredaran dan pemakaiannya. Pergeseran tujuan ini, karena dominasi rezim kesehatan. Yaitu munculnya UU No. 39 Tahun 2007, Tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 1995. Dalam UU No. 39 tahun 2007 ini terlihat sangat kuat dominasi kesehatan. Sehingga memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi tiap tahun. Jadi naiknya tarif cukai menjadi jalan paling efektif untuk menekan lajunya peredaran rokok kretek. Terlihat, dari awal kemunculan pada abad 19 hingga tahun 1995, keberadaan industri kretek sangat berarti sebagai satu budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Mulai tahun 2007 sampai sekarang rezim kesehatan mendominasi aturan kretek. Kejadian ini akibat desekan dan tekanan dunia internasional setelah terjadi perselingkuhan WHO dengan perusahaan farmasi multinasional di Swiss pada tanggal 30 Januari 1999. Direktur Jenderal WHO, Gro Harlem Brundtland mengumumkan proyek kemitraan antara WHO dan perusahaan farmasi multinasional Pharmacia & Upjohn, Novartis dan Glaxo Wellcome untuk pengembangan nicotine replacement therapy (NRT). Dalam pidatonya, Brundtland terang-terangan mendeklarasikan kampanye anti rokok untuk mensukseskan tujuan bersama. <\/p>\n\n\n\n Kemitraan antara WHO dan industri farmasi multinasional , setelah adanya riset di Amerika Serikat yang dilakukan lembaga penelitian kesehatan Surgeon General yang mengaitkan konsumsi nikotin tembakau dengan kesehatan. Riset tersebut memicu pengambilalihan bisnis nikotin diberbagai Negara termasuk Indonesia. Karena secara alamiah, kandungan nikotin terbesar ada di daun tembakau. Nikotin bagi ilmuwan kesehatan mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan dan aneka terapi. <\/p>\n\n\n\n Organisasi kesehatan dunia WHO sebagai organisasi pemegang otoritas tertinggi kesehatan dunia, dengan lantaran mendapatkan sokokngan dana industri farmasi menjadikan organisasi WHO tidak lagi bertindak demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dunia. Melainkan muncul liberalisasi kesehatan modern. WHO menjadi panjang tangan industri farmasi, dokter atau ilmuwan kesehatan menjadi alat perusahaan obat, menjadi ujung tombak industri farmasi. <\/p>\n\n\n\n Tidak menngherankan, jika di Indonesia sampai detik ini keberadaan dokter atau ilmuwan kesehatan penopang utama peredaran obat dan apotek. Yang terjadi ada take and give, saling memberi dan menerima. Bisa jadi pendapatan dokter di Indonesia lebih besar penjualan obat dari pada hasil dari konsumen atau pasien. Tak berhenti disitu, akibat di atas, memicu maraknya berdirinya apotek di Indonesia sampai tingkat Kecamatan dan desa. Masyarakat Indonesia dibuat hidupnya tergantung obat-obatan, mulai meninggalkan pengobatan alamiah tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Bahkan masyarakat Indonesia dalam benaknya sudah terkontaminasi rezim kesehatan, semua penyakit harus disembuhkan dengan mengkonsumsi obat. Yang lebih menyedihkan lagi, praktek-praktek tradisional mulai terkikis dan hilang dari peredaran. Ambil contoh, dukun bayi, jamu tradisional, tumbuhan obat-obatan mulai tertelan bumi. <\/p>\n\n\n\n Turunan dari UU No. 39 tahun 2007 diatas, muncul Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, tentang aturan tata cara pemberian, pembekuan dan pencabutan nomor pokok pengusahaan barang cukai untuk pabrik atau industri hasil tembakau. Dalam aturan ini, memberlakukan ketentuan yang sangat berat bagi industri rokok kretek rumahan (industri kecil). Yaitu salah satunya, aturan industri kretek bangunan luasnya harus 200 meter persegi, tidak berhubungan langsung dengan bangunan rumah tempat tinggal, halaman rumah dan tempat lain yang bukan bagian pabrik, dan diharuskan bangunan tersebut di pinggir jalan umum. Gara-gara aturan ini, banyak industri kecil rumahan mati. Sebelum ada aturan ini, di kota Kudus sendiri banyak sekali industri kretek rumahan belum lagi di kota lain seperti kabupaten Jember, Malang dan lainnya. <\/p>\n\n\n\n Setelah Permenkeu No. 200\/PMK\/04\/2008, muncul Permenkeu lainnya, seperti Permenkeu No. 191\/PMK.04\/2010, Permenkeu No. 78\/PMK.011\/2013, Permenkeu 84\/2008, Permenkeu 20\/2009. Dari semua Permenkeu tersebut, semuanya mengarah pelemahan industri rokok kretek nasional yang didasari dari intervensi rezim kesehatan. <\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2009 muncul Undang-undang No. 28 Tentang pajak daerah dan retribusi daerah atau lebih sederhanya di sebut pajak daerah selain cukai. Besaran pajak daerah ini 10% atas produk tembakau. Unduang-undang ini adopsi dari framework convention on tobacco control (FCTC). Tujuan utama pungutan pajak daerah ini sama halnya pergeseran paradigma pungutan cukai, yaitu untuk menekan peredaran rokok kretek nasional. Kemudian muncul PP 109 tahun 2012 yang didalamnya tembakau dimasukan sebagai bahan zat adiktif, ini sebagai upaya ektrim untuk mematikan rokok kretek Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Kedua, kampanye isu negatif terhadap rokok kretek. Hampir semua penyakit yang diderita manusia dikaitkan dampak dari rokok, baik bagi perokok maupun yang tidak merokok. Tanpa dasar, tanpa bukti keberadaan rokok kretek sebagai sumber dari segala penyakit. Lebih tidak rasional lagi, semua dampak yang terjadi di masyarakat selalu dikaitkan dengan rokok kretek. Ambil contoh, kemiskinan di Indonesia salah satu penyebabnya karena mengkonsumsi rokok kretek. Naiknya iuran BPJS gara-gara banyak tunggakan yang belum terbayar, gara-gara pengurusan yang tidak akuntabel dikaitkan dengan konsumsi rokok kretek, memberikan nuansa negatif pada perokok. Sampai hal-hal yang terkecil seperti keberadaan sampah, polusi udara selalu keberadaan rokok kretek selalu disalahkan. Inilah bentuk kampanye anti rokok, bertujuan mematikan industri rokok kretek nasional. Setelah industri mati, farmasi melenggang memonopoli perdagangan nikotin. <\/p>\n\n\n\n Pengaruh wacana kesehatan global yang dikampanyekan kelompok anti tembakau dan rokok kretek telah menyusup dalam regulasi di Negara Indonesia. Melalui kebijakan pengaturan peredaran tembakau dan membuat isu negatif rokok kretek sangat didominasi rezim kesehatan, menafikan aspek ekonomi, sosial dan budaya yang telah mengakar berates tahun. Pada akhirnya kebijakan tembakau di Indonesia melemahkan industri kretek nasional, yang selama ini menjadi sumber penghidupan berpuluh-puluh juta rakyat yang terintegrasi dengan insdustri rokok kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Beratnya Perjalanan Rokok Kretek di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beratnya-perjalanan-kretek-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-12 10:28:19","post_modified_gmt":"2019-10-12 03:28:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6142","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n