Kopi dan Kretek untuk Sukarelawan

Hingga hari ini, satu-satunya film seri yang selesai saya tonton hingga episode terakhir adalah Prison Break. Satu yang hingga kini masih membekas dalam ingatan saya adalah penyakit aneh yang diderita Michael Scofield, tokoh utama dalam film seri itu. Ia menderita penyakit empati berlebih atau lazim disebut bleeding heart syndrome. Syndrome ini membikin seseorang tidak bisa melihat orang lain menderita. Ia harus dan selalu membantu siapa saja yang menderita semampunya.

Dalam dunia nyata, orang-orang semacam Michael Scofield ini ada. Paling mudah menemui mereka dengan datang ke lokasi-lokasi bencana yang kerap terjadi di negeri ini. Mereka kini sedang berkumpul di beberapa tempat di Sulawesi Tengah. Sebagian lagi masih berkumpul di Pulau Lombok. Menjadi sukarelawan membantu apa saja yang bisa mereka bantu untuk meringankan beban para penyintas akibat bencana.

Tentu saja mereka sukarelawan ini manusia biasa. Mereka juga lelah dan punya kebutuhan pribadi. Sebagai sukarelawan yang siap terjun ke lapangan untuk membantu apa saja yang mereka bisa sesuai kemampuannya, kebutuhan pribadi yang pokok sudah mereka siapkan. Sesuai standar prosedur operasional. Di luar itu, ada kebutuhan lain yang mungkin tidak terlalu pokok, namun tetap mereka persiapkan dengan baik. Seiring berjalan waktu, kebutuhan itu stoknya menipis, bahkan habis. Memang kadang dianggap sepele, namun ini penting. Terutama kebutuhan untuk relaksasi usai bekerja keras sepanjang hari. Kopi dan rokok kretek misalnya.

Pada bencana gempa dan tsunami Aceh, gempa Yogya, letusan Gunung Merapi Yogya, ada kesamaan kasus yang bisa saya pelajari. Stok kopi dan rokok kretek yang dibawa menipis, lalu habis. Mencari toko yang menjual keduanya di lapangan kadang susah. Kalau pun ada, keuangan sudah agak menipis. Saya kira di Lombok dan yang terbaru di Donggala, Sigi, Palu dan sekitarnya mengalami kasus yang mirip terkait kopi dan rokok.

Saya pernah mendengar kisah, saking kekurangannya mereka akan rokok, padahal rokok itu salah satu kebutuhan mereka untuk relaksasi selepas kerja berat, beberapa sukarelawan di Aceh sampai melinting bubuk teh karena kebutuhan relaksasi dengan rokok.

Sekali lagi, ini mungkin sepele, namun saya kira ini begitu penting bagi para sukarelawan. Saya kira, sudah saatnya kita memikirkan itu juga. Selain kebutuhan pokok bagi para penyintas, kebutuhan produk relaksasi bagi sukarelawan semisal kopi dan rokok kretek layak dikirim pula ke lokasi-lokasi bencana. Dari Sulawesi Tengah, hari ini, saya sudah mendengar suara-suara semisal itu. Kebutuhan kopi dan rokok kretek bagi pahlawan-pahlawan tanpa pamrih itu, yang bekerja sepenuh hati dalam sunyi. Mari kita usahakan bersama.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

ARTIKEL TERKAIT

Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional

Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok…

Kisah Sebatang Kretek

Usai sebuah diskusi tentang Aceh, jelang akhir bulan Mei 2005, kami diundang untuk sebuah santap sore di sebuah gedung tidak…

Para Wali yang Mendidik dengan Rokok

Di dunia ini terdapat banyak hal yang meluluhlantakkan nalar kita sebagai manusia. Salah satunya adalah bagaimana cara kiai mendidikan umat…

Tempo dan Matinya Keberimbangan Dunia Jurnalistik dalam Membahas Rokok

Kerja-kerja jurnalisme di Indonesia sudah tidak beres. Sebab, banyak media yang menganut rating sebagai Tuhan atas pekerjaan mereka. Selain rating…