Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek

Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek || Dua minggu ke belakang menjadi sebuah perdebatan sengit bagi batin saya. Bagaimana tidak, persoalan memilih jenis rokok perlahan menjadi suatu hal yang sangat penting. Ini bukan perkara sekadar menyalakan korek lalu menghisap batang rokok hingga habis. Lebih dari itu, ini perkara kita memilih jalan hidup seperti apa.

Setiap rokok tentu memiliki ciri khas yang berbeda. Bukan hanya dari rasa, setiap rokok akan menyimbolkan bagaimana pemiliknya. Rokok-rokok ringan dengan daya bakar yang cepat cenderung dikonsumsi oleh para pekerja kantoran yang buru-buru. “Setidaknya di waktu luangku yang tipis aku bisa memanfaatkannya untuk menikmati sebatang rokok,” tukas mereka tanpa ragu.

Sebaliknya berbeda dengan rokok kretek, ia begitu berat dan memiliki daya bakar yang lambat (setidaknya kamu butuh sekitar 20 menit untuk menghabiskan sebatang SKT). Belum lagi sebelum menghisapnya masih harus dilakukan beberapa ritus. Batang kretek harus dipijat-pijat agar pembakaran tembakau lebih merata, pijatan ini pun terkadang harus dilakukan dengan seksama layaknya pijatan terhadap orang-orang tersayang.

Tak cukup dengan pijatan, terkadang beberapa orang masih harus menjilat batangnya dari ujung ke ujung yang entah apa alasannya dan memanaskan kedua lubang rokok, katanya sih biar ‘plong’. Ritus permulaan ini saja sudah bisa menghabiskan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit. Bila ditotal, ritus untuk menikmati satu batang kretek bisa menghabiskan waktu hingga setengah jam.

Maka tak heran bila beberapa kawan saya memutuskan berpindah dari rokok kretek menuju rokok yang lain karena permasalahan waktu menikmatinya, rasanya yang terlalu berat, dan harganya yang lebih mahal dari rokok lainnya.

Padahal di sisi lain kretek menggambarkan bagaimana jalan hidup yang santai, penuh kehati-hatian, dan terus dinikmati dari awal hingga akhir, walaupun terasa berat namun hal itu juga bagian dari kenikmatan. Bahkan perkara waktu untuk menghabiskan satu bungkusnya, kretek bisa dihabiskan lebih lama dari rokok-rokok lain dengan harga yang lebih murah.

Memperlambat hidup dengan kretek bukanlah suatu kemalasan, ia adalah sebuah perlawanan terhadap gaya hidup sekarang yang serba cepat dan tergesa-gesa. Menghargai waktu bukanlah dengan slogan “time is money”yang menganggap ia harus digunakan seefektif dan seefeisien mungkin, semua hal harus dilakukan dengan cepat mulai dari makan, berjalan, berkendara, merokok, dan tidur hingga kita tak ingat lagi untuk apa kita hidup dan berakhir dengan penderitaan karena cara hidup kita sendiri.

Jika memperlambat hidup adalah salah satu cara untuk melawan modernitas yang memperkaku manusia, maka menghisap kretek adalah salah satunya.

Tabik!

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Penikmat Sigaret Kretek Tangan

ARTIKEL TERKAIT

Rokok Tingwe di Antara Jemari Pejuang Kemerdekaan

Pak Besar, begitulah ia akrab di sapa, seorang prajurit pejuang perang gerilya yang setia menemani Jenderal Abdul Haris Nasution. Ia…

Pangeran Diponegoro, Rokok Klobot dan Perlawanan Simbolis

Dari sekian banyak tokoh nasional yang merokok, ada tiga tokoh yang selalu mendapat sorotan lebih besar dibanding lainnya terkait aktivitas…

Jenderal Perokok Berat Itu Bernama Soedirman

Dalam keadaan sakit parah, paru-paru tinggal sebelah, Soedirman memaksakan diri terus bergerilya melawan penjajah. Berjuang dengan senjata seadanya, melawan musuh…

Agus Salim dan Sebatang Kretek di Istana Buckingham

Di Istana Buckingham Agus Salim membakar sebatang kretek. Ia hisap dalam-dalam kretek di mulutnya, lalu dengan elegan dihembuskan asapnya ke…