Menjadi Miskin karena Merokok?

Hasil survei Susenas Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, menframing rokok sebagai salah satu penyebab kemiskinan masyarakat miskin di Indonesia. Rokok dimasukkan dalam kategori makanan, walaupun tidak mengandung kalori. Ketentuan ukuran kemiskinan BPS berpatokan pada pengeluaran belanja makanan dan bukan makanan.

Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di pedesaan adalah beras, rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir.

Sementara komoditi bukan makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis kemiskinan di perkotaan maupun pedesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Logikanya, semakin besar pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan, maka masyarakat semakin miskin, begitu sebaliknya. Sedangkan pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan tidak akan bisa terelakkan dan merupakan kebutuhan primer masyarakat.

Sementara, pemerintah sampai saat ini belum dapat mengendalikan harga kebutuhan primer masyarakat dengan baik. Justru harga kebutuhan primer selalu naik dari tahun ke tahun. Ambil contoh, harga beras di pasaran selalu naik, harga perumahan selalu melonjak. Belum lagi harga barang yang disengaja dinaikkan per tahunnya oleh kebijakan pemerintah, seperti cukai rokok, dan rokok masuk dalam kategori makanan.   

Seakan-akan pemerintah tutup mata dan terkesan mengalihkan tanggungjawabnya untuk pengentasan kemiskinan menuju kesejahteraan. Selalu masalah kemiskinan dikaitkan dengan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat. Masih banyak dimensi lain yang menjadi sebab kemiskinan, seperti minimnya lapangan kerja dan lain sebagainya.  

Secara umum, pemerintah mempermasalahkan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat sebagai faktor penyebab kemiskinan. Laporan hasil survey Susenas 2015, pengeluaran tertinggi belanja keluarga miskin pada makanan jadi sebesar 32,30%, nomor dua belanja beras dan belanja rokok 13,55%.

Dalam pengeluaran masyarakat muncul belanja rokok. Namun tidak semua masyarakat miskin merokok. Sehingga ketika rokok dimasukkan dalam kelompok penyebab kemiskinan secara umum, tidaklah tepat.

Orang miskin yang masih merokok perlu adanya kajian yang mendalam, tentang kenapa masih merokok? Seperti halnya pertanyaan kenapa masih belanja beras? Kalau belanja beras masuk kategori pengeluaran besar dalam rumah tangga dan dapat berdampak menjadi miskin.

Kajian terhadap perokok miskin dilakukan dengan melakukan survei di daerah yang termiskin sebagai sampling. Berdasarkan laporan BPS tahun 2016, daerah yang termiskin ada di pulau Jawa, yaitu Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.

Menurut Maman Suherman Kepala Bidang Perencanaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapedda) DIY, ada 18 Kecamatan di Gunungkidul yang tercatat daerah miskin. Dari 18 Kecamatan, sebagai sampling adalah Kecamatan Wonosari, Karangmojo dan Palyen, karena jumlah penduduknya terbesar dibanding Kecamatan lain.

Jumlah responden dalam sampling tiga kecamatan sebanyak 400 jiwa. Ketentuan responden yang berhak diwawancarai dan mengisi quesioner adalah; keluarga penerima Bantuan langsung Tunai (BLT), bantuan Raskin, usia di atas 18 tahun dan menjadi kepala keluarga atau tumpuan hidup keluarga.   

Hasil survei dari orang miskin yang merokok, tercatat 98% beranggapan bahwa merokok adalah aktifitas relaksasi dan rekreasi. Hanya 2% responden menganggap aktifitas merokok bukan relaksasi dan rekreasi.

Sebanyak 33% responden merasa merokok dapat menyegarkan pikiran, 22% responden merasa merokok dapat menghilangkan stres, 15% responden mengatan merokok membuat fokus dalam pekerjaan, 21% responden beranggapan merokok menenangkan pikiran, dan hanya 9% responden mengatakan merokok akibat dari ketagihan.

Temuan di atas sinergi dengan temuan lain, bahwa aktifitas merokok rata-tara dilakukan saat istirahat, sebanyak 26% dari responden. Kemudian 21% responden mengatakan, bahwa aktifitas  merokok dilakukan di sela-sela pekerjaan dan 21% pula responden merokok disaat bersosialisasi atau ngobrol dengan orang lain.

Ada temuan lain yang menarik, ternyata mayoritas perokok miskin 56% bekerja mandiri, dan sisanya 44% bekerja pada orang lain (karyawan). Mereka rat-rata merokok per hari (24 jam) menghabiskan 7 batang sampai satu bungkus rokok isi 12 batang.

Disusul temuan, bahwa aktifitas merokok bagi mereka mayoritas mengatakan tidak ada kegiatan lain yang bisa menggantikan sebanyak 98%, sisanya 20% responden mengatakan bahwa merokok dapat digantikan dengan aktifitas mengkonsumsi hal lain.

Dari temuan di atas, secaa umum masyarakat miskin yang masih merokok punya cara pandang yang berbeda. Merokok adalah kebiasaan untuk kebutuhan rekreasi dan relaksasi. Bagi perokok, belum menemukan pengganti rokok agar tetap kreatif, tenang, fokus dalam pekerjaan dan tidak stes. Dalam hal pekerjaan mereka lebih berdikari, lebih kreatif dan lebih percaya diri.

Menurut Enny Sri Hartati Diruktur Eksekutif Indef, Rokok bukan penyebab kemiskinan, penyebab utama melonjaknya kemiskinan karena pemerintah tidak bisa menyediakan lapangan kerja formal di tahun 2015 (sumber: CNNIndonesia/Irene Inriana).

Berbeda dengan pernyataan Suhariyanto Kepala BPS, per September 2017, angka kemiskinan menurun menjadi 26,58% atau kurang 1,19 juta orang dibanding per bulan Maret sebesar 27,77%.

jika dirunut ada dua faktor utama terkait tingkat dan penurunan angka kemiskinan

di Indonesia pada periode Maret-September 2015-2017 adalah:

  1. Terjadi inflasi komoditas bahan pokok yang menjadi kebutuhan dasar seperti beras.
  2. Upah buruh tani per hari naik 1.42% pada September 2015 Rp 47.559 dibanding maret 2016 menjadi 48.235. (https://m.detik.com 03/01/2017)

Apabila nilai tukar petani (NTP), dari harga produksi petani naik lebih besar dari pada kenaikan konsumsi petani. Pendapatn petani naik lebih besar disbanding dengan kenaikan konsumsi, artinya pendapatan lebih besar dari pada pengeluaran. Maka angka kemiskinan akan menurun.

Sebaliknya, jika NTP lebih kecil dari pada kenaikan konsumsi (pengeluaran petani lebih besar dari pada pendapatan), maka akan berpengaruh terhadap meniningkatnya kemiskinan di Indonesia. Karena mayoritas masyarakat miskin bekerja pada sektor pertanian

Jadi rokok bukan penyebab orang menjadi miskin. Penyebab utama kemiskinan adalah inflasi bahan pokok dan rendahnya upah buruh. Memang rokok berpengaruh terhadap kenaikan pengeluaran, tapi tidak bisa sebagai ukuran penyebab kemiskinan.

Secara umum faktor utama kemiskinan bukan rokok, tapi di pengaruhi adanya inflasi bahan pokok, rendahnya upah buruh petani miskin dan lapangan pekerjaan. Persepsi merokok bagi orang miskin yang merokok adalah bentuk relaksasi dan rekreasi. Belum ada pengganti rokok untuk relaksasi dan rekreasi yang cocok dan sesuai kebutuhan perokok miskin.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ARTIKEL TERKAIT

Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok

Keputusan pemerintah menambal defisit BPJS dengan cukai rokok memberikan uforia tersendiri bagi para kretekus. Layaknya musafir di tengah panas gurun…

Ketua YLKI yang Tak Pernah Membela Konsumen Rokok Itu Bernama Tulus Abadi

Tulus Abadi amnesia misi dan tujuan mulia organisasinya. rokok Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, adalah salah…

Defisit BPJS Kesehatan dan Pentingnya Peta Jalan Industri Hasil Tembakau

Bobolnya BPJS Kesehatan membuat pemerintah pusing tujuh keliling. Sejak 2014 BPJS Kesehatan sudah mengalami defisit anggaran mencapai Rp3,3 triliun. Angka…

Tembakau Penerus Kehidupan

Selain falsafah hidup Satu Tungku Tiga Batu-nya orang Fakfak yang legendaris, budaya Fakfak, Papua Barat, juga menghormati tamu. Ini bagian…