Pegiat HTTS, Belajarlah Menghargai Kretek dari Driver Ojek Online

Bagi sebagian orang, ojek online menjadi alternatif melipat jarak dan solusi cepat sampai tujuan. Selain itu, bagi saya pribadi, ojek online adalah guru yang menawarkan beragam keilmuan, termasuk ilmu soal kretek yang selama ini dicap sebagai barang buruk.

Saya sering menggunakan ojol. Selain karena nyaman, Ojol menjadi satu alternatif mengatasi macet Jakarta dan menariknya lagi ojol selalu menawarkan ilmu-ilmu baru kepada saya.
Pernah suatu waktu, driver ojol yang saya tumpangi bercerita perihal tasawuf, satu disiplin ilmu yang saya sendiri baru kali itu mendengarnya. Selain sebagai umat kristiani, ketidaktahuan saya mungkin sebab saya tidak begitu senang bersiskusi soal agama, seperti yang sering dilakukan teman-teman saya sewaktu di kampus.

Soal agama, bagi saya pribadi ya masing-masing, yang penting kita bersama dalam Nusa dan Bangsa.

Anehnya, diskusi-diskusi kecil yang saya lakukan di tengah perjalanan itu selalu berdampak bagi hidup saya. Misalnya ketika salah satu driver ojol bercerita perihal ilmu tasawuf yang sedang ia gandrungi, anehnya saya tertarik dan membaca artikel soal tasawuf, anehnya lagi saya sekarang mengoleksi buku-buku tasawuf seperti Al-Hikam karya Ibn Athaillah al Askandary. Saya menhadi tertari membaca karya-karya besar pemikir Islma.

Terkadang, darindriver Ojol saya juga sering mendapatkan pengalaman hidup, baik dari yang getir sampai yang menyenangkan. Dari yang menggembirakan sampai yang menyedihkan. Dari yang setia sampai yang nista. Semuanya membuat kesan baik dalam hidup saya.

Dari sekian cerita berguru saya kepada driver-driver Ojol, ada satu kisah selain pelajaran soal ilmu tasawuf yang paling saya ingat, yaitu perihal kretek.

Seminggu yang lalu, sepulang dari kantor, saya bersama driver Ojol (kalau tidak salah namanya Pak Gunardi) membelah kemacetan Kuningan, Jakarta. Di tengah-tengah perjalanan, azan maghrib berkumandang. Saya meminta Pak Gunardi menepi terlebih dahulu, supaya ia dapat membatalkan puasanya.

Sembari membelikan Pak Gunardi minuman dingin dan roti, saya membeli rokok kretek favorit saya, Djarum Super. Saya menyerahkan air dan roti ke Pak Gunardia, ia tersenyum, berdoa sejenak kemudian meminumnya. “Alhamdulillah, terimakasih, Mas.” Ujarnya selepas menenggak air dingin tersebut.
Saya melihat kemerdekaan Pak Gunardi ketika dia mengakhiri puasanya, ada kebahagian dan semburat wajah bahagia setelah sehari menahan lapar, dahaga dan emosi.

“Mau lanjut, Mas?” tanyanya.

“Lho, rotinya di makan dulu, Pak,” pinta saya kepada Pak Gunardi. Kebetulan saat itu saya baru empat hisapan.

Pak Gunardi tersenyum. Ia mungkin sudah mafhum, kalau penumpangnya ini tidak beragama Islam.

Saya menyodorkan rokok kepada Pak Gunardi, tapi beliau menolaknya dengan halus. “Maaf, Mas.”

“Rokoknya kretek ya, Pak?” Tebak saya.

“Maaf, Mas. Saya tidak merokok. Itu yang Mas pegang namanya juga kretek,” kata Pak Gunardi.

Tentu saja saya ingin ketawa mendengar ucapan driver ini. Masa rokom Djarum Super dibilang kretek. Wong jelas-jelas ada filternya. “ini rokok filter, Pak. Bukan kretek,” celetuk saya.
Pak Gunardi tersenyum sejenak. Lalu ia mempermalukan saya. Ia mengatakan, baik yang ada filternya atau tidak, selama ia campuran antara tembakau dan cengkeh, barang itu namanya kretek. “Kalo ada filternya namanya SKM (Sigaret Kretek Mesin), yang tidak ada filternya namanya SKT (Sigaret Kretek Tangan). Dulu saya juga salah soal ini kok, Mas.” Pak Gunardi terkekeh.

Tak berhenti sampai di situ, Pak Gunardi juga menjelaskan kepada saya, bagaimana perokok itu harus menjadi santun. Perokok santun menghargai orang-orang disekelilingnya, hanya merokok di ruang merokok, tidak merokok saat berkendara, tidak merokok dekat anak-anak dan ibu hamil, dan lain sebagainya.

Bahkan, Pak Gunardi juga tau kalau cukai rokok tahun 2017 mencapai 149 triliun dan jutaan rakyat, mulai dari petani tembakau, buruh pabrik hingga pedagang asongan, bergantung pada industri ini.

Bahkan yang menarik menurut saya adalah Pak Gunardi tidak merokok sama sekali sejak kecil, tetapi ia paham persoalan politik dagang industri hasil tembakau. Bahkan, dengan fasih driver ojol satu ini dapat menjelaskan secara gamblang propaganda antirokok untuk menjatuhkan kretek Indonesia. Yang suanya dibalut dengan hal mulia seperti kesehatan, ternyata hanya strategi untuk menguasai pasar nikotin.

Saya sebenarnya penasaran, dapat bacaan dari mana Pak Gunardi soal yang beginian. Saya tanyakan kepada beliau, dan ternyata ia mendapatkan sumber bacaan dari portal web Komunitas Kretek dan Boleh Merokok. Dari mulai mengikuti media sosialnya, membaca tulisan-tulisan di webnya, hingga membaca buku-buku yang dijadikan rujukan dua pegiat tembakau tersebut.

Dari Pak Gunardilah, saya tertarik untuk membaca dan mengetahui lebih soal kretek ini. Saya sadar tidak dapat menciptakan perubahan apapun di Indonesia tercinta ini, makanya saya harus menjaga sesuatu yang telah turun temurun diwariskan oleh para sesepuh bangsa, termasuk kretek.

Tulisan ini saya persembahkan untuk menolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang digagas dan diprakarsai oleh WHO. Indonesiaku, jayalah kretekmu.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

ARTIKEL TERKAIT

Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional

Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok…

Kisah Sebatang Kretek

Usai sebuah diskusi tentang Aceh, jelang akhir bulan Mei 2005, kami diundang untuk sebuah santap sore di sebuah gedung tidak…

Para Wali yang Mendidik dengan Rokok

Di dunia ini terdapat banyak hal yang meluluhlantakkan nalar kita sebagai manusia. Salah satunya adalah bagaimana cara kiai mendidikan umat…

Kopi dan Kretek untuk Sukarelawan

Hingga hari ini, satu-satunya film seri yang selesai saya tonton hingga episode terakhir adalah Prison Break. Satu yang hingga kini…