Penggemar Maia dan Mulan Berseteru, Rokok yang Disalahkan

Konflik dan perseteruan seakan tidak ada habisnya di negeri yang katanya ramah, penuh sopan santun, dan memiliki rasa tenggang rasa yang tinggi ini. Apa saja bisa jadi bahan untuk memicu konflik dan perseteruan. Mulai dari perkara remeh temeh yang menggelembung karena melulu diungkit untuk dipertentangkan, hingga perkara-perkara sensitif semisal perbedaan suku dan agama. Saat ini, dari semua konflik dan perseteruan yang terjadi di negeri ini, bisa dibilang politik menjadi panglimanya. Rokok

Perbedaan dukungan politik menyebabkan media sosial di negeri ini begitu riuh oleh bermacam perdebatan. Ada yang masih menjaga nalar dan akal sehat dalam berargumen, namun lebih banyak yang berisi informasi tidak bermutu dan karangan semata untuk digunakan sebagai alat menyerang lawan.

Yang tidak kalah menarik adalah konflik dan perseteruan di dunia selebritas negeri ini. Rupa-rupa dan ragam bentuk perseteruan dalam dunia selebritas ada, selalu ada dan diperbaharui, dan terkadang diada-adakan agar keriuhan tetap terjaga dan mereka yang memproduksinya bisa meraup untung sebanyak-banyaknya dari perseteruan itu. Sekadar selera menggemari penyanyi dangdut antara Via Vallen dan Nella Karisma saja dipertentangkan. Entah apa yang sedang menjangkiti banyak penghuni media sosial di negeri ini sehingga hal remeh semacam ini bisa begitu semarak diperdebatkan hingga memicu keributan dan saling caci maki di antara para pendukung.

Dan yang paling berlarut-larut, seakan tak ada habisnya, selalu ada pembaharuan-pembaharuan dalam perseteruan yang terjadi, adalah konflik antara Maia Estianty dengan Mulan Jameela. Silakan Anda ketik di mesin pencari google Anda kata kunci ‘Maia vs Mulan’, ratusan berita tentang perseteruan mereka dengan sekejap saja akan muncul. Ini tentu juga tergantung dengan kapasitas data di telepon canggih Anda, atau aksesibilitas internet di rumah atau di kantor Anda.

Mungkin, dari konflik ini pula mula-mula istilah pelakor (perebut laki orang) diperkenalkan hingga menjadi kosakata baru yang familiar kini. Kedua kubu memiliki pendukungnya masing-masing, bahkan hingga memunculkan pendukung garis keras di kedua belah pihak. Jika meminjam istilah dalam pendukung sepak bola, Ultras Maia dan Ultras Mulan begitu gigih membela artis idolanya sekaligus gigih menyerang artis yang menjadi lawan idolanya. Kadang ini bisa menjadi hiburan bagi kita, melihat bagaimana mereka tak pernah kehabisan energi dalam membela artis idolanya masing-masing, namun tak jarang ini menjadi begitu memuakkan, memuakkan.

Yang terbaru, sekira sepekan belakangan, konflik di antara pendukung keduanya menarik isu rokok dalam pusaran konflik. Karena hal ini, saya harus membaca banyak bahan sebelum menulis tulisan ini. Sebuah aktivitas yang menjengkelkan karena harus membaca berita-berita tentang konflik dan perseteruan Maia dan Mulan serta Ultras Maia vs Ultras Mulan. Tetapi, apa boleh bikin, saya harus tetap membacanya agar tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan di hadapan khalayak. rokok

Mengetahui Maia perokok, para penggemar Mulan seakan dapat celah untuk melakukan serangan balik. Maklum sejauh ini, serangan-serangan terhadap Mulan memang membuat para penggemarnya cukup keteteran. Seakan mendapat angin segar, para penggemar Mulan menyerang Maia yang mereka anggap tidak bersih-bersih amat karena Maia merokok. Sungguh sebuah keadaan yang nganu sekali.

Entah siapa yang memulai semua ini. Di negeri ini perempuan yang merokok distigmakan sebagai perempuan tidak baik, perempuan kotor, perempuan tidak berakhlak dan bermoral baik, serta pandangan-pandangan buruk lainnya. Apapun prestasi serta kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan seorang perempuan, dengan merokok, semua itu menguap, menyisakan stigma buruk terhadap dirinya.

Tunggu dulu, ini bukan untuk membela Maia, sama sekali bukan. Saya menulis ini untuk perempuan yang merokok secara umum. Apa salahnya perempuan merokok? Selama mereka mematuhi peraturan yang berlaku, semisal merokok setelah usia melewati 17 tahun, tidak merokok saat sedang hamil atau di dekat anak kecil, dan bermacam peraturan lainnya, saya kira sah-sah saja dan boleh-boleh saja perempuan merokok. Lagi pula, merokok itukan tindakan legal yang dilindungi hukum yang berlaku di negara ini, tentu ini juga berlaku bagi perempuan.

Jadi, ayolah, jangan tambah menjerumuskan diri Anda ke dalam pusaran kedunguan dengan membawa-bawa aktivitas merokok yang legal ke dalam pusaran perseteruan Anda, wahai para penggemar Maia dan Mulan. Kalian semua yang berseteru, kenapa jadi merokok yang ikut disalahkan. Jangan lagi menambah keanehan kalian semua dengan keanehan-keanehan baru. Semoga bisa dimengerti. rokok

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

ARTIKEL TERKAIT

Perokok, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Terus Dinista

“Perokok adalah pahlawan tanda jasa, sebab mereka berjasa memperbesar pendapatan negara melalui cukai, tetapi tidak meminta pamrih apapun apalagi pengembalian…

Melawan APACT Bersama Petani Cengkeh

Ia tiba menjemput saya di penginapan Don Biyu sesaat setelah saya selesai menyantap sarapan pagi dengan menu ketan hitam dan…

Mari Menolak APACT

Setidaknya ada dua kejatuhan cengkeh sepanjang masa berjayanya hingga kini. Pertama, ketika perdagangan komoditas cengkeh menurun usai revolusi industri dan…

Mengapa FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) Harus Ditolak?

FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)  adalah perjanjian internasional yang mengatur tentang pengendalian produksi, distribusi dan konsumsi rokok yang dipaksa…