Sependek ingatan saya, setidaknya dua kali saya pernah berada di dua tempat berbeda ketika musim tanam tembakau tiba. Dua tempat itu merupakan dua wilayah sentra tembakau nasional, Jember dan Temanggung. Di kedua tempat tersebut, ketika musim tanam tiba, ladang tembakau begitu meriah oleh aktivitas petani yang sedang menanam tembakau, mengolah lahan, dan beberapa membuat atap peneduh untuk tembakau jenis tertentu dengan model tanam yang khas.

Selain musim panen, musim tanam tembakau menjadi ajang berkumpulnya seluruh elemen pendukung pertanian tembakau. Mulai dari para petani, keluarga mereka, penyedia jasa transportasi, hingga para penyedia bibit menumpuk di satu tempat untuk bekerja sama agar pertanian tembakau yang mereka kelola dan menjadi sumber penghasilan mereka bisa berjalan dengan baik.

Di masa ini pula, sepulang sekolah, anak-anak ambil bagian dalam pertanian tembakau. Musim tanam menjadi wadah yang paling tepat untuk belajar bagi mereka. Anak-anak dan remaja, lewat bimbingan langsung orang tua dan anggota keluarga mereka, memanfaatkan musim tanam untuk belajar sebanyak-banyaknya bagaimana menjadi seorang petani, petani tembakau terutama. Kesempatan ini merupakan kesempatan langka yang hanya bisa mereka dapat di ladang lewat tutur dan laku orang tua dan keluarga mereka. Tidak di sekolah, tidak pula pada kursus-kursus pertanian.

Berdasarkan data dari Kemenperin, setidaknya lebih dari 5 juta orang menggantungkan hidup dari pertanian tembakau. Ini belum termasuk pekerjaan yang mendukung pertanian tembakau seperti jasa pembuatan keranjang dan tikar serta jasa transportasi untuk mendistribusikan benih dan hasil panen tembakau kelak. Dengan banyaknya manusia yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian tembakau, sayangnya bermacam masalah masih mengepung pertanian ini. Beberapa bahkan permasalahan yang sangat mendasar.

Permasalahan utama yang dihadapi para petani tembakau adalah tingkat produktivitas pertanian tembakau nasional cenderung fluktuatif, tidak ajeg, bahkan pada dasarnya masih rendah. Berdasarkan data yang dikeluarkan dirjen Perkebunan, dalam sepuluh tahun terakhir, produksi tembakau nasional cenderung fluktuatif, naik-turun dengan 2010 dan 2016 menjadi titik terendah. Fluktuasi produksi tembakau nasional ini disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor penyebabnya antara lain:

Bibit

Bibit menjadi faktor penting dalam pertanian tembakau. Bibit yang unggul tentu saja akan menghasilkan kualitas tembakau baik. Namun tak hanya bibit unggul yang diperlukan, kecocokan antara bibit yang ditanam petani dengan permintaan pabrikan penyerap bibit menjadi faktor penting lainnya. Karena tanpa kesesuaian ini, produksi tembakau petani tidak akan terserap dengan baik. Hasilnya, petani mengalami kerugian karena apa yang mereka tanam untuk kemudian dipanen tidak bisa dikonversi menjadi uang.

Bukan sekali dua hasil produksi tembakau petani tidak terserap pabrikan karena jenis tembakau yang mereka tanam tidak sesuai dengan permintaan pabrikan. Kurangnya informasi yang diterima petani terkait jenis tembakau yang diinginkan pabrikan menjadi kendala. Koordinasi tiga elemen yaitu petani, pabrikan, dan pemerintah melalui dinas-dinasnya sebagai penghubung menjadi syarat mutlak agar permasalahan ini rampung dan bisa saling menguntungkan, baik petani juga pabrikan.

Tanah

Tembakau adalah tanaman khas yang memiliki karakteristik spesifik. Ia tak bisa ditanam di sembarang tempat. Jenis dan sifat tanah sangat menentukan keberhasilan penanaman. Sayangnya, sejauh ini para petani kurang memiliki pengetahuan mendalam tentang tanah yang cocok untuk pertanian tembakau. Mereka mengandalkan kebiasaan tanam saja. Padahal ini kunci sukses dalam pertanian tembakau.

Pemerintah lewat dinas-dinas dan penyuluh pertanian yang terjun ke lapangan sudah seharusnya ambil peran besar di sini. Sayangnya transfer pengetahuan ini lagi-lagi belum berjalan dengan baik. Bahkan ada kasus, para penyuluh pertanian itu tidak memiliki kecakapan yang cukup dalam pengetahuan ini. Mereka diterjunkan sekadar simbol semata. Sudahlah tidak memiliki kecakapan yang cukup, umumnya mereka juga tidak memiliki data dasar (baseline) dan peta-peta tanah yang lengkap. Kalaupun ada, biasanya peta-peta lama yang tidak pernah lagi diperbaharui. Pemerintah, dalam hal ini adalah Badan Pertanahan Nasional dan Dinas Perkebunan, berwenang dan seharusnya bertanggung jawab terhadap pengadaan peta-peta tematik tersebut. Karena kealpaan ini, hasilnya pengetahuan para petani tidak berkembang dengan baik tentang seluk beluk tanah yang cocok untuk pertanian tembakau.

Pupuk dan Obat-Obatan

Selain ketidakmampuan para penyuluh lapangan dalam mentransfer pengetahuan kepada petani dengan baik, masalah pertanian tembakau kian diperparah oleh informasi tentang pupuk yang kurang memadai. Celakanya, alih-alih menjadi penyuluh yang kompeten, banyak kasus yang ditemukan di lapangan, para penyuluh sekadar menjadi agen pupuk dan mengambil keuntungan dari sana. Bukannya memberikan informasi pupuk dan obat-obatan yang cocok kepada petani, para penyuluh menjelma sales pupuk demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Pada akhirnya, para petani bergerak sendiri dalam menghimpun informasi agar usaha pertanian mereka bisa menguntungkan.

Iklim

Salah satu komoditas terdampak tinggi akibat perubahan iklim dunia adalah tembakau. Komoditas tembakau merupakan jenis tanaman yang tidak membutuhkan asupan air dalam jumlah yang banyak. Perubahan iklim yang menyebabkan kondisi cuaca menjadi tidak menentu, setidaknya dalam sepuluh tahun belakangan menjadi momok paling menakutkan bagi para petani tembakau.

Para petani yang biasanya membaca tanda-tanda alam dalam penentuan musim tanam agar sukses saat panen, saat ini tidak bisa lagi mengandalkan itu. Cuaca mudah sekali berubah. Iklim tak bisa lagi diprediksi. Dalam hal ini, pemerintah semestinya ambil peran untuk membantu petani dalam memberikan informasi iklim termutakhir. Sayangnya ini belum lagi terlaksana. Sejauh ini, hanya beberapa pabrikan yang rutin memberikan informasi terbaru mengenai iklim kepada petani tembakau.

Itulah empat faktor utama penyebab munculnya permasalahan utama dalam pertanian tembakau. Selain itu, ada pula permasalahan lain yang menerpa pertanian tembakau. Apa lagi jika bukan kampanye masif yang dilakukan pihak anti-rokok. Kampanye ini menyebabkan petani tembakau kian tertekan. Di beberapa tempat, mereka dipaksa mengganti tembakau dengan tanaman lain. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang seharusnya dikembalikan kepada petani untuk mengembangkan pertanian mereka, malah digunakan sebagai alat untuk menekan petani tembakau. Dana yang cukup besar ini yang semestinya bisa digunakan untuk membantu memecahkan permasalahan utama dengan empat faktor penyebabnya yang telah diuraikan di atas, malah digunakan untuk kian menekan petani.

Rumit, sungguh rumit. Komoditas tembakau yang telah terbukti menyumbangkan dana besar bagi negara lewat cukai, yang berpotensi menjadi komoditas unggulan negeri ini, malah semakin ditekan agar mengalami kemunduran. Namun begitu, saya yakin, petani memiliki daya juang yang tinggi. Lewat kearifan lokal yang mereka miliki, terpaan sebesar apapun, akan mampu dihadapi dan mereka akan dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian yang mumpuni.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun