Secara historis, merupakan benda berupa senjata tajam yang digunakan sejak jaman kerajaan di Aceh hingga sekarang, yang mula-mula diciptakan pada abad ke-16 atas perintah Sultan Al Kahar.

RENCONG

[dropcap]R[/dropcap]encong adalah senjata tradisional masyarakat Aceh, yang tidak hanya dipandang sebagai wujud benda mati, melainkan memiliki nilai budaya, dalam hal ini nilai-nilai Islami. Menurut orang Aceh, bentuknya adalah wujud dari kalimat ‘bismillah’, yang berarti Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

  • Gagang = ba

  • Hiasan pada belahan bawah gagang = sin

  • Mata pisau rencong = mim

  • Pangkal mata rencong = lam

  • Ujung bawah sarung rencong = ha

Secara historis, merupakan benda berupa senjata tajam yang digunakan sejak jaman kerajaan di Aceh hingga sekarang, yang mula-mula diciptakan pada abad ke-16 atas perintah Sultan Al Kahar. Sultan ini menjalin hubungan erat dengan Kalifah Ottmaniah dari Turki, dan dalam berbagai kesempatan Aceh dibantu oleh Turki untuk mengusir Portugis dari wilayah perairan, dan menghalau bangsa Batak dari dataran tinggi. Sumber-sumber lain mengatakan, rencong bahkan sudah ada sejak berdirinya kerajaan Islam pertama abad ke-13.

Dalam sebuah karya sastra yang menceritakan tokoh pahlawan Poecut Muhamat memberi perintah membuat senjata rencong sehingga untuk keperluan itu besi-besi dikumpulkan dari segala penjuru. Contoh rencong abad ke-17 dan 18 bisa dilihat di Museum Militer di Praha, Cek, sedangkan di Museum Jakarta tersimpan contoh senjata ini dari abad ke-19.

Secara sosiologis tidak sekedar sebuah senjata yang dipakai untuk perang, tapi juga mempunyai makna simbolis yaitu manifestasi ajaran Islam, jiwa pemberani, estetis, dan sebagainya.

Di masa non perang dipakai sebagai benda-benda simbolik untuk upacara pernikahan, bahkan cenderamata. Produksi rencong mendatangkan nilai ekonomi bagi pengrajinnya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun