\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6226,"post_author":"877","post_date":"2019-11-13 09:42:44","post_date_gmt":"2019-11-13 02:42:44","post_content":"\n

Ahad pagi 03 november 2019, saat dua jarum jam menunjuk pada angka 07.30,  sebagian para Kiai dan para santri hafiz berkumpul di rumah kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus al-Hafiz. Tak lain mereka menghadiri pembukaan Tahtiman al-Qur\u2019an bil ghoib<\/em> (hataman Allquran yang dibaca runtut juz per juz) menyongsong Maulid Nabi Muhammad. Rencana awal pembukaan acara dilakukan pada jam 07,00 tepat. Kenyataan berkata lain harus  mundur 30 menit, karena yang datang belum sempurna. Dalam durasi 30 menit ini, dipergunakan bagi yang sudah datang ngobrol sambil ngeteh dan ngopi, tak ketinggalan ngudud (merokok).<\/p>\n\n\n\n

Acara ini rutin tiap tahun dilakukan para tahfiz dan Kiai guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan dilaksanakan di rumah KH. Sya\u2019roni Ahmadi, untuk meminta barokah do\u2019a sesepuh dan tokoh Ulama\u2019 yang ahli dalam bidang tafsir dan Qiro\u2019ah Sab\u2019ah<\/em> (7 dialek Alquran). Banyak orang yang mengatakan kemampuan menghafal Alquran dengan 7 bacaan berbeda sempurna 30 juz adalah keahlian yang langka, inilah salah satu kemampuan yang dimiliki KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kudus.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh Pernah Menjadi Media Dakwah Para Kiai Jawa Tengah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Kiai, yang saat ini dengan usia tertua, KH. Sya\u2019roni Ahmadi adalah salah satu tokoh dan guru Alquran yang masih hidup dengan sanad riwayat bacaan Alquran sampai pada Nabi Muhammad. Jadi sudah semestinya beliau diminta membuka pembacaan Alquran dengan hafalan menyongsong kelahiran Nabi Muhammad. <\/p>\n\n\n\n

Yang datang paling pagi saat itu KH. Saifuddin Lutfi, kurang lebih pada pukul 06.45, lebih pagi dari rundown acara, bahkan lebih pagi dari semua peserta undangan. Kiai ini terbilang nyentrik, sederhana dan disiplin. Di pagi itu tau-tau Kiai Nyentrik ahli bidang astronomi dan perbintangan ini datang lebih awal dan jalan-jalan di sekitar halaman kediaman KH. Sya\u2019roni Ahmadi, sambil melihat bangunan pesantren yang belum jadi, melihat kolam ikan, dan melihat motor trabas<\/em> (biasa orang bilang motor trail) yang terparkir di samping kolam ikan sambil menghisap rokoknya. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai santrinya, aku hampiri dan bersalaman dengan mempersilahkan masuk keruangan acara, namun beliau menolak dengan alasan \u201cudud disik\u201d \u201cmenikmati rokok dulu\u201d. Akhirnya aku mendampinginya sambil melihat pemandangan yang ada. Melihat motor yang terparkir di sebelah kolam ikan, beliau bertanya sambil mengebulkan asap rokoknya, \u201ciku motor gawe tril-trilan?\u201d<\/em> (itu motor untuk trabas?), <\/p>\n\n\n\n

\u201cenggih, mbah<\/em>\u201d jawabku.<\/p>\n\n\n\n

Kemudian beliau berkata \u201cage ra ditumpai\u201d<\/em> (cepat dinaiki dijalankan), aku hanya tertawa. Setelah habis 3 batang rokok, beliau KH. Saifuddin Lutfi atau biasa dipanggil Mbah Iput ini masuk aula (ruangan acara), karena tamu undangan lainnya sudah mulai pada datang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat itu yang datang sebagian para hafiz (orang yang hafal Alqur\u2019an) sebagai peserta disusul KH. Fathur Rahman BA, disusul KH. Sugiarto, dibelakangnya K. Fahruddin, kemudian ada KH. Daldiri dan beberapa santri hafiz. Acara ini terbilang khusus (tidak untuk umum), selain sebagian para Kiai hanya orang yang sudah khatam dan hafal Alquran yang datang. <\/p>\n\n\n\n

Yang sudang datang langsung menempati ruangan aula, Kiai duduk bersebelahan dengan Kiai lainya, para santri duduk mengelompok dengan santri lain. Sambil menunggu peserta lain, para Kiai ngobrol sambil minum teh, kopi dan snack seadanya. Di awal obrolan Mbah Ipud minta asbak, kayaknya beliau ini ingin merokok, akhirnya aku carikan asbak, dan setelah ketemu aku berikan kepada beliau. Ternyata benar, setelah ada asbak Mabh Ipud mengeluarkan rokoknya, sambil menawarkan ke Kiai lainnya, termasuk ke KH. Fathur Rahman yang juga suka merokok. <\/p>\n\n\n\n

Namun saat itu, ketika Mbah Ipud menyodorkan rokoknya, KH. Fathur Rahman menolak dengan berkata \u201c wong loro kok ngrokok iku jenenge kemaki (orang keadaan sakit tapi malah merokok namanya sombong)\u201d, kelakar KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

\u201cwong loro yo mangan karo ngumbe disik, ngono ae kudu ora kolu<\/em> (orang sakit sementara makan dan minum saja, gitu aja kadang gak enak dan gak pingin)\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Beliau pun sambil memegang gelas teh hangat lalu meminumnya. Kiai-kiai lain ada yang tersenyum dan ada yang tertawa. Ternyata keadaan KH. Fathur Rahman belum sembuh dari sakit patah tulang bagian lengan kanan. Setelah minum beliau menceritakan keaadan tangan kanannya belum pulih dengan baik. Beliau sering merasakan nyeri dan ngilu pada lengannya, apalagi saat kena hawa dingin, atau air yang dingin. Masak dengan keadaan tangan kanan begini harus merokok pakai tangan kiri, dikira sombong, sudah ambil rokok dengan tangan kiri, menyulut dengan tangan kiri, merokok dengan tangan kiri dilihat orang gak matching, merokok itu pakai tangan kanan mengikuti sunnah Rosul saat makan, kata KH. Fathur Rahman. <\/p>\n\n\n\n

Mbah Ipud menyahut obrolan tersebut dengan berkata \u201cwong seng udud iku wedi mati, nyatane nek mati disumet meneh<\/em> (orang yang merokok itu takut mati, nyatanya kalau rokoknya mati disulut kembali).<\/p>\n\n\n\n

 \u201cwong seng udud iku mesti urip, seng mati mesti ora udud, wong seng udud wong seng sehat, mergo loro ora iso ngrasakno nikmati udud<\/em> (orang yang merokok itu pasti orang hidup, orang yang sudah meninggal pasti tidak akan merokok, orang yang merokok orang yang sehat, karena orang yang sakit tidak bisa merasakan nikmatnya merokok). <\/p>\n\n\n\n

Kiai-kiai lain tertawa hingga suasa jadi ramai dan sambil mengangguk-nganggukkan kepala, lalu KH. Fathur Rahman berkata, \u201ckuwe ancen dakik mbah\u201d<\/em> (kamu memang cerdas mbah). Setelah KH. Sya\u2019roni Ahmadi ke ruangan aula obrolan dihentikan dan dilanjutkan acara pembukaan pembacaan Alquran dengan hafalan (khataman Alquran) dimulai. Acara dibuka langsung oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi beserta barokah do\u2019anya. 
<\/p>\n","post_title":"Guyon Maton Para Kiai Penikmat Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"guyon-maton-para-kiai-penikmat-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-13 09:42:53","post_modified_gmt":"2019-11-13 02:42:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6226","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};