Tanah Mama

Ketika terdesak kebutuhan memberi makan untuk anak-anaknya, Mama Halosina mengambil beberapa ubi dari kebun keluarga. Namun, keluarga adik iparnya menuduh Halosina mencuri, karena memang ia tidak punya hak atas hasil kebun itu.

TANAH MAMA

[dropcap]M[/dropcap]enyaksikan kaum perempuan Papua membawa hasil kebun ke pasar, dan menjualnya di pasar itu, bukan hal yang asing. Sudah menjadi budaya di Papua, bahwa menjual hasil kebun adalah bagian dari tanggung jawab kaum perempuan. Ini pula yang dilakukan oleh Mama Halosina, asal Kampung Huguma, Wamena yang terekam dalam film dokumenter berjudul Tanah Mama. Yang lebih menarik, perjuangan Mama Halosina bukan sekedar mengemban tanggung jawab, tapi juga akibat dari ketidakpedulian suaminya terhadap keluarganya. Hosea suaminya, kawin lagi, mengabaikan Halosina dan 4 anaknya. Hosea tidak mengerjakan buka kebun yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga Mama Halosina tidak mendapat hak atas kebun yang digarap secara komunal.

Ketika terdesak kebutuhan memberi makan untuk anak-anaknya, Mama Halosina mengambil beberapa ubi dari kebun keluarga. Namun, keluarga adik iparnya menuduh Halosina mencuri, karena memang ia tidak punya hak atas hasil kebun itu. Mama Halosina pindah ke kampung adiknya, dan tinggal bersama keluarga adiknya. Ia terancam sangsi denda adat atas tuduhan mencuri ubi itu.

Nia Dinata (Kalyana Shira Foundation) dan Asrida Elisabeth (Produser) saat tanya jawab Film Tanah Mama di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Desember 2014.
Nia Dinata (Kalyana Shira Foundation) dan Asrida Elisabeth (Produser) saat tanya jawab Film Tanah Mama di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Desember 2014.

Sutradara dan penulis film ini, Asrida Elisabeth berhasil merekam tekanan yang dihadapi Halosina yaitu keharusan membayar denda, dan ancaman dipolisikan. Kehidupan sehari-hari Mama Halosina mencoba bertahan hidup di kampung adiknya, terekam jelas dalam film ini. Tanpa perhatian dari suaminya sendiri yang sudah kawin lagi, Halosina perlahan-lahan mengumpulkan hasil kebun di keluarga adiknya, membawa hasil kebun itu ke Pasar Wamena yang berjarak puluhan kilometer, melalui jalan berbukit, menyebrang sungai, dan membawa serta 4 anaknya.

Film Tanah Mama adalah salah satu dari hasil workshop film dokumenter Project Change, yang diadakan Kalyana Shira Foundation, pimpinan Nia Dinata.Nia, yang mengawali karir sutradara di film Ca Bau Kan, turut menyutradarai film Tanah Mama ini. Film berdurasi 62 menit ini diputar serentak di Jakarta, Bandung dan Jogjakarta pada 8 Januari lalu.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Rocker, traveller, hobi membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ARTIKEL TERKAIT

Bung Karno, Ende, dan Keterasingan

Terlihat laki-laki mengenakan celana panjang dan baju putih berdiri tegak sembari bersedekap. Di sampingnya, seorang perempuan yang memakai kebaya tengah…

Puntung Rokok Pembunuh Hama

Tidak ada yang tidak bermanfaat di dunia ini. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan manfaat yang melekat. Jika satu benda dianggap…

Tiga Cafe dengan Ruang Bebas Asap Rokok di Tangerang

Tiga Cafe dengan Ruang Bebas Asap Rokok di Tangerang Kekhawatiran tentang asap yang mengenai wajah ataupun terhirup oleh hidung, biasa…

Membaca Jawa lewat Raffles

Ketika meninggalkan Indonesia (tepatnya di Bengkulu) pada 1823, sambil menyeka air mata, Raffles membawa pulang 30 ton naskah tentang Jawa.…