Tiga Cafe dengan Ruang Bebas Asap Rokok di Tangerang

Tiga Cafe dengan Ruang Bebas Asap Rokok di Tangerang

Kekhawatiran tentang asap yang mengenai wajah ataupun terhirup oleh hidung, biasa menjadi langganan alasan protes para anti-perokok. Kemudian, terpapar asap tersebut menjadi legitimasi kuat untuk membenci para perokok.

Stigma-stigma kaum anti-asap dan pandangan sinisnya terhadap kaum perokok tak perlu diambil pusing. Selama para perokok merokok di kawasan merokok, tidak dekat ibu hamil dan anak-anak, maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Begitulah kiranya cafe-cafe dan tempat tongkrongan berprinsip. Menyediakan dua tempat untuk para pelanggan: area merokok dan tidak.

Berikut cafe-cafe di Tangerang yang menyediakan area tanpa rokok untuk melindungi pelanggan bukan perokok dari asap rokok:

What’s Up Cafe
Kalau kalian sering melewati daerah pasar lama, terutama untuk yang hobi kulineran, tentu tau tempat yang satu ini. Ya, What’s Up Cafe. Percayalah, tempat tersebut benar-benar menjanjikan untuk di dadatangi.

What’s Up Cafe sendiri perkembangannya sudah menjamur, banyak tersebar di pusat-pusat kota.
Namun berbeda dengan What’s Up Cafe pada umumnya. What’s Up Cafe ini menawarkan suatu konsep yang unik dan menarik bagi pengunjung untuk mendapatkan kebebasan dan hak dalam menikmati bersantainya. Beralamat di Jl. Kisamaun No. 152, Pasar Lama, Sukasari, kota Tangerang. Cafe ini menyediakan menu-menu yang lezat sebagai makanan camilan.

Mengusung konsep cafe dengan gaya minimalis moderen, kini What’s Up cafe telah memberi satu pelayanan yang istimewa. Menyediakan VIP room dan ruangan yang ber AC dengan dibatasi jendala dan pintu kaca, tempat itu diperuntukkan bagi yang ingin fokus mengerjakan tugas, tidak tersentuh dengan suara bising dari luar atau bagi yang tidak ingin terpapar dan menghirup asap rokok. Bukan maskud untuk mengisolasikan, tapi dengan hal tersebut hak sebagai pengunjung pun tersampaikan.

Di bagian NON VIP ROOM. Selain tempat nya yang tidak ber-AC, di situlah tempat diperbolehkan untuk merokok. Dan juga di depannya terdapat panggung untuk penampilan akustik band. Sempat kala itu, pada saat pertama launching kafe ini mendatangkan musisi Indie seperti 4.20 dan Danilla. Kafe ini memberi kontribusi yang nyata, disaat itu juga bahwa ada penyetaraan hak dalam menonton.
Meski dua musisi tersebut kadang sering dicap yang bukan-bukan, apalagi tentang Danilla dengan aktivitas merokoknya saat sedang perform. Hal tersebut tak memberi dualisme tentang penonton yang kala itu hadir dan menonton di ruang yang terpisah(VIP ROOM).

Dixie Sports Bar & Cafe
Mengsung konsep cafe yang pertama kali ada di Tangerang, Dixie Cafe memberi sebuah inovasi cafe yang unik. Bertempat di Jl.A.Damyati no.30 Pasar Lama, Tangerang. Persis di depan gor Pasar Lama.

Belum lama saya menyambangi tempat ini untuk nonton bola bareng (nobar), menyaksikan tim kesayangan asal negeri Britania, sebut saja Liverpool. Juga dengan ditemani beberapa teman yang sama satu penggemar. Memang menjelang akhir pekan, biasanya cafe ini digunakan sebagai tempat nobar dari beberapa fans tim sepakbola.

Kesan selama berada di cafe itu dengan ditemani beberapa camilan yang hitz. Saya mengungkapkan bahwa kafe tersebut sangat memaksimalkan kenyamanan konsumen dengan menyediakan dua ruangan, yaitu indoor dan outdoor. Serta ada juga fasilitas penundukung dimulai dari live akustik, minigames serta penunjang untuk nobar seperti proyektor dan beberapa layar tv yang terpampang di beberapa sudut.
Varian menu yang ditawarkan cafe ini bisa dipilih beragam makanan camilan yang pastinya sebagai teman pada saat nobar maupun bersantai dengan teman. Atau bisa juga ajak squad gaming kamu untuk berkumpul bersama.

Selain itu keisitmewaan cafe olahraga ini kebetulan sekali menggandeng produsen rokok dalam negeri, yang tentu sangat pas dengan hadirnya ruang merokok (outdoor). Ruangan khusus merokok memang ditujukkan bagi para pengunjungnya yang ingin merokok. Dengan produsen yang bertagline super soccer, terbukti banyak memberi sumbangsih pada pengonsumsi rokok mulai dari tempat sampah hingga asbak sebagai identitasnya.

Roti Bakar 88
Warung yang terkenal di kalangan anak muda ini menampilkan desain interior yang sederhana, saya melihat kehadiran yang nampak berbeda dan tak lazim. Begitu berbeda selepas renovasi.
Memang berbeda dengan roti bakar 88 yang lain pada umumnya. Roti Bakar 88 ini yang berlokasi di Jalan Kisamaun no 118, meski sudah terkenal dengan menu yang begitu banyak dan harga yang terjangkau, pas tentu untuk dompet mahasiswa yang kadang seringkali cekak.
Hadir memberikan ruang sederhana dan terpisah menjadi dua ruangan, Roti Bakar 88 cocok sebagai pilihan tempat nongkrong anak muda. Yang pasti sangat pas, tentunya buat tempat nongkrong sambil ngemil-ngemil ganteng.

Ruang luar disediakan untuk pengunjung yang ingin bercanda gurau sambil menikmati keramaian pengendara yang melintasi cafe tersebut. Tanpa melupakan hal terpenting perokok, alasan inilah kenapa dipisah menjadi area tersendiri. Di samping itu komponen dalam merokok pun disertakan, asbak dan tempat membuang sampah misalnya.

Itulah beberapa tempat yang menghadirkan ruang untuk pengunjung yang ingin merilekskan pikiran dari berbagai tekanan pekerjaan dan terlindung dari asap rokok. Meskipun hingga hari ini, rokok sering di persepsikan sebagai suatu aktivitas yang membahayakan dan menimbulkan kerugian orang lain.

Maka dari itu, cafe sebagai area ruang publik turut memperhatikan dengan menyediakan ruang bebas asap rokok.

Demikian beberapa referensi tempat tersebut ditujukkan, sehingga kita bisa memahami akan kenyamanan pelanggan yang ingin terbebas dari asap rokok. Dengan bertoleransi, sama dengan kita menghargai hak seseorang untuk mendapat kebebasan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Ketua Komunitas Kretek yang menggilai kopi Wamena

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ARTIKEL TERKAIT

Bung Karno, Ende, dan Keterasingan

Terlihat laki-laki mengenakan celana panjang dan baju putih berdiri tegak sembari bersedekap. Di sampingnya, seorang perempuan yang memakai kebaya tengah…

Puntung Rokok Pembunuh Hama

Tidak ada yang tidak bermanfaat di dunia ini. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan manfaat yang melekat. Jika satu benda dianggap…

Membaca Jawa lewat Raffles

Ketika meninggalkan Indonesia (tepatnya di Bengkulu) pada 1823, sambil menyeka air mata, Raffles membawa pulang 30 ton naskah tentang Jawa.…

Mencecap Malam di Dnocturn Coffee

Sejak berkembangnya ‘industri’ kopi nusantara, terutama dengan mulai bergesernya pasar kopi ke arah arabica, hampir setiap kota memiliki kedai-kedai kopi…