Sejak 1975 pemerintah Jerman telah menghentikan vaksinasi wajib untuk menanggulangi penyakit batuk rejan. Namun demikian trend sakit batuk rejan pada anak-anak di Jerman gejalanya terus menurun sekalipun jumlah anak-anak yang divaksin justru semakin kecil.

Belakangan tak sedikit masyarakat meragukan efektivitas dan keamanan produk vaksin. Meski banyak bukti keberhasilan vaksin selalu dipromosikan oleh banyak pihak terkait, misalnya CDC (Centers for Disease Control and Prevention), FDA (Food and Drug Administration), bahkan WHO (World Health Organization) sekalipun, namun paradoksnya kini justru trend anti vaksin menggema kembali.

Tentu tak akan ada asap sekiranya tak ada api, ketidakpercayaan masyarakat ini seringkali disebabkan ulah industri farmasi sendiri. Kita catat tahun 2010, AstraZeneca, sebuah perusahaan farmasi hasil merger dari perusahaan Swiss Astra AB dan perusahaan Inggris Zeneca Group PLC, telah didenda $ 520.000.000 untuk kasus promosi ilegal obat antipsikotik Seroquel di Amerika. Tahun 2012 GlaxoSmithKline didenda $ 3000.000.000 karena skandal penipuan obat. Sebagai perusahaan obat raksasa, Glaxo yang bermarkas di Brentford (London) dan beroperasi lebih dari 70 negara ini, bersalah mempromosikan beberapa produknya tanpa izin dan juga tak melaporkan data keamanan obatnya kepada instansi berwenang di Amerika, FDA. Skandal Glaxo ini disebut banyak orang sebagai penipuan terbesar sepanjang sejarah negeri Paman Sam.

Wacana anti vaksin bukanlah gejala baru. Sejak awal kemunculannya vaksin memang telah menyulut pro dan kontra, meski argumen penolakan waktu itu pada mulanya lebih berlatarbelakang sikap keagamaan. Gerakan anti vaksin muncul sebagai respon kebijakan negara, yang secara politik telah mewajibkan vaksinasi bagi standar kesehatan masyarakat. Anti-Vaccination Society of America berdiri sejak 1879 di Amerika. Liga Nasional Anti Vaksinasi berdiri 1896 di Inggris.

Sejak ditemukan pertama kali oleh Edward Jenner pada 1798 sebagai penangkal cacar sebagai penyakit endemik kala itu malah berkebalikan dengan fakta di lapangan.

Inggris mewajibkan program vaksin cacar bagi warganya tahun 1867. Empat tahun kemudian fakta yang terjadi di lapangan adalah, 2 dari 50 penduduk Inggris sudah divaksin namun penyakit cacar ternyata justru tetap mewabah di Inggris. Antara 1871 – 1880 penderita cacar meningkat, tercatat kasus 28 – 46 per 100. 000 orang dengan tingkat kematian mencapai 44.840. Selain Inggris, pada 1872 Jepang juga mewajibkan vaksin cacar. Meski demikian 20 tahun kemudian masih ditemukan 165.774 kasus cacar dengan tingkat kematian mencapai angka 29.979.

Sejak 1975 pemerintah Jerman telah menghentikan vaksinasi wajib untuk menanggulangi penyakit batuk rejan. Namun demikian trend sakit batuk rejan pada anak-anak di Jerman gejalanya terus menurun sekalipun jumlah anak-anak yang divaksin justru semakin kecil. Sementara pada 1986, tercatat muncul 1300 kasus batuk rejan di Kansas, AS. 90% dari kasus ini justru terjadi pada anak-anak yang notabene telah divaksin secara memadai.

Merujuk berbagai catatan kasus di atas, boleh jadi sebenarnya vaksin tak sepenuhnya berhasil mereduksi fenomena wabah penyakit, atau sesungguhnya hanya sedikit ditemukan hubungan langsung antara vaksinasi dan fenomena penurunan jumlah penyakit itu sendiri. Menurut Dr. James Howenstine (2003), adanya perbaikan kualitas air dan sanitasi, kondisi hidup yang semakin tenang, dan standar kualitas hidup yang semakin membaik, adalah penyebab utama terjadinya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat ketimbang klaim keberhasilan produk vaksin.

Dulu vaksin bahkan pernah dianggap sebagai salah satu penyebab penyakit kanker. Pada awal 1900-an penelitian Dr. W.B. Clarke sudah tiba pada suatu kesimpulan negatif terkait dampak vaksin, khususnya vaksin cacar. “Kanker pada dasarnya tak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tersebut sebelumnya tidak mendapat vaksinasi” ujar Clarke. Sementara kini bahaya vaksin lebih populer dianggap sebagai biang kerok munculnya penyakit autis pada anak-anak.

Bahaya vaksin itu dibantah mentah-mentah oleh wacana arus utama. Berbagai sanggahan terang mengemuka. Dan jelas masyarakat awam sudah tentu susah untuk tak mempercayainya, terlebih kontruksi “pengetahuan” itu dibuat oleh lembaga ternama sekelas WHO, CDC, atau FDA. Tapi, ada hal penting dicatat di sini, menurut Neil Z. Miller sebenarnya sudah jadi rahasia umum bahwa penelitian tentang vaksin umumnya disponsori oleh produsen vaksin. Tujuan penelitian lazimnya semata untuk membangun keabsahan ilmiah terhadap tingkat keselamatan atau kemanjuran sebuah vaksin. Banyak orang tentu menganggapnya tak etis, namun hal ini umum dilakukan pada dunia bisnis vaksin, dan bahkan dibiarkan oleh CDC dan FDA.

Tak aneh Mark Lynas, salah satu peneliti dari Universitas Cornell, pernah mengatakan bahwa masyarakat Amerika pada 2015 dilanda demam ketidakpercayaan kepada ilmuwan. Lynas menyebut zaman ini sebagai “zaman ketidakperdulian” (Age of Ignorance). Trend yang mengkhawatirkan ini dipaparkan oleh American Association for the Advancement of Science and Pew Research Center setelah meneliti opini yang berkembang di masyarakat sana. Data ini mengungkapkan adanya jurang menganga antara para ilmuwan di satu sisi dan masyarakat di sisi lain, terkait beberapa isu seperti vaksin, rekayasa genetika, perubahan iklim dan masih banyak lainnya.

Problem utama yang sebenarnya bukan terletak pada obyektivitas dan validitas penelitian, melainkan adanya dominasi dan hegemoni struktural industri kesehatan (Big Pharma) yang terjadi sedemikian rupa sejalan dengan dominasi struktur kapitalisme. Sehingga, lebih jauh, hal itu telah memunculkan gejala—meminjam istilah Herbert Marcuse—“one-dimensional-man” sebagai problem utama, yaitu orang hampir-hampir mustahil berpikir di luar kerangka arus utama.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun