Ini Jaman Batu

Padahal, dulu kalau melihat orang memakai cincin batu di jemarinya, mungkin pikiran kita akan menilai mereka orang-orang bergaya tua, ketinggalan jaman, old school.

INI JAMAN BATU

Orang boleh sibuk bicara sepakbola, atau bicara teknologi. Orang boleh berdebat soal politik, atau sekedar curhat soal hati. Tapi kalau di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, hanya ada satu topik yang dibahas. Batu.

“Ini jaman batu, Mas”, kata seorang petugas parkir di pasar berlantai 4 di kawasan padat Jakarta itu. Dia sibuk sekali mengatur puluhan mobil dan ratusan motor yang saling berebut mencari ruang kosong untuk parkir. Untuk motor saja, setiap hari ada ribuan yang tercatat di mesin parkir, katanya.

Begitu masuk ke lantai dasar pasar tersebut, dari ujung ke ujung, dari pinggir hingga ke tengah ruangan, semua soal batu. Sejak 1980-an, Pasar Rawa Bening adalah salah satu tempat untuk mencari batu akik dan batu hias. Beberapa tahun belakangan, pasar ini makin hits gara-gara trend batu akik.

“Waktu itu tahun 2012 saya mulai berdagang di sini, belum seramai sekarang. Masih ada lapak kosong. Lantai ini juga masih terlihat lenggang”, kata seorang pedagang bernama Adi sambil menunjukkan sebuah batu berwarna cerah.

Ada ratusan pedagang batu di pasar ini, mengisi semua lapak, bahkan setiap sudut dan celah. Ada pula yang menyediakan jasa memotong hingga menggosok batu, mulai dari batu mentah menjadi batu cincin yang halus mengkilap. Sulit menerka berapa rupiah yang mengalir setiap harinya di sini. 12 jam setiap hari, 7 hari setiap minggu. Begitulah aktivitas di pasar batu ini. Adi saja tidak tahu pasti, kadang bisa dapat ratusan ribu, kadang bisa jutaan rupiah, dari batu yang ia jual.

Suasana pusat perdagangan Batu Mulia di Pasar Rawa Bening, Jatinegara.
Suasana pusat perdagangan Batu Mulia di Pasar Rawa Bening, Jatinegara.

Belum lagi, di Pasar Rawa Bening ini transaksi juga bisa terjadi di antara pengunjung. Ada cerita menarik ketika seorang teman datang ke pasar itu untuk berkonsultasi dengan pedagang soal batu miliknya. Tiba-tiba dia dihampiri seseorang yang tertarik pada batunya, dan langsung menawari akan membeli batunya seharga puluhan juta rupiah. Pedagang langganannya itu menasihati teman tadi, “Dia itu kolektor dan penjual batu. Orang-orang sini sudah tahu dia. Kalau kamu mau jual, naikkan saja harga dari yang dia tawar.” Kilas cerita, begitu harga disepakati, si penawar pergi ke bank, menarik uang dan kembali menemui teman tadi. Transaksi di tempat, dan batu berpindah tangan.

Ini cerita betulan. Jelas orang awam tidak akan percaya begitu saja, transaksi puluhan juta rupiah bisa terjadi dengan cepat. Hanya untuk sebuah batu. Padahal, dulu kalau melihat orang memakai cincin batu di jemarinya, mungkin pikiran kita akan menilai mereka orang-orang bergaya tua, ketinggalan jaman, old school. Mungkin juga kita beranggapan mereka itu pejabat, atau bahkan dukun. Yang paling teringat mungkin Tessy Kabul, pelawak kawakan Srimulat yang menjembreng semua jari tangannya dengan cincin batu.

Sekarang batu sudah jadi salah satu hobi di kalangan tak terbatas. Tua-muda, pejabat  atau orang biasa, pegawai kantoran ataupun pedagang asongan. Di pasar, hingga di samping kantin kantor, juga di pinggir jalan. Begitulah, kita memang kembali ke jaman batu.

Mengukur Kekerasan Batu

Batu permata atau batu mulia (gemstone) adalah sebuah mineral padat  yang dibentuk dari proses geologi jutaan tahun lalu. Komposisi unsurnya bisa terdiri dari satu atau lebih komponen kimia. Secara umum definisi batu mulia atau permata setidaknya dapat didasarkan pada asumsi kekerasannya yang diukur menggunakan skala Mohs. Tingkat kekerasan ini menunjukkan daya tahan sebuah batu dari goresan atau gesekan.

Friedrich Mohs, ahli mineral dari Jerman, adalah penemunya. Pada prinsipnya semakin keras sebuah batu maka semakin baik kualitasnya. Paling lunak ialah Batu Talk yang ada di skala 1 Mohs. Sedangkan yang paling keras ialah Batu Intan atau diamond yang ada di skala 10 Mohs. Konon, asumsi batu permata minimal memiliki skala 7 Mohs yaitu jenis batuan kuarsa (quartz).

Optimized-tabel kekerasan batu

Ronny Joni

Editor

Rocker, traveller, hobi membaca.