Meniti Masa Depan Dari Pohon Cengkeh

“Manusia tak bisa membaca masa depan secara pasti, manusia hanya bisa sampai pada tahap sekadar membuat persiapan untuk masa depan. Segala masa depan yang akan menyambut, baik cerah maupun suram, bergantung kepada antisipasi kita saat ini. Begitu ungkap Nyoman Dadiase, seorang petani cengkeh berusia 65 tahun.”

Ia memahami bahwa memastikan keberadaan penerus petani cengkeh adalah pekerjaan yang penting. Namun, ia juga mengetahui dengan pasti bahwa terkadang sebuah rencana manusia tak berjalan dengan mulus. Jalan takdir Tuhan memang penuh dengan misteri.

Oleh sebab itu, saat ini, Nyoman Dadiase menekankan kepada anak-anaknya untuk mendalami profesi lain selain petani. Ada anaknya yang berprofesi sebagai guru, atau ada pula yang mendalami ilmu soal mesin. Suatu saat nanti, apabila cengkeh tak lagi bisa menjadi andalan, keluarga Nyoman Dadiase akan tetap bertahan hidup.

Namun tetap, Ketua Klian Subak Abian (lahan kering) ini juga mengharapkan anak-anaknya tersebut akan melanjutkan pekerjaannya sebagai petani. Sembari belajar dan bekerja sebagai guru atau montir, anak-anak Nyoman Dadiase juga belajar berbagai hal yang dibutuhkan untuk menjadi penati cengkeh. “Jadi, ketika nanti dipanggil Yang Maha Kuasa, saya bisa memasrahkan kebun cengkeh yang sudah dirintis sejak tahun 1980 pada anak,” ujarnya.

Awal sebagai petani dimulai dengan menjadi penggarap lahan, atau disebut penyakap dalam Bahasa Bali. Dengan tekun, ia menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membeli kebun. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar dua tahun saja, Nyoman Dadiase sudah punya kebun cengkeh sendiri. Bibit cengkeh di lahannya diambil dari Desa Asahduren di Jembrana.

Ketekunan Nyoman Dadiase juga terwujud dari usahanya memperluas lahan cengkehnya. Saat ini, luas lahanya sudah mencapai 12,5 hektar dengan 1.000 tegakan pohon cengkeh. Umur cengkeh di kebun Dadiase cukup variatif, ada yang 35, 15, dan 10 tahun. Untuk cengkeh yang berumur 35 tahun, jarak tanamnya 5×5 meter, yang berumur 15 tahun jarak tanamnya 6×6 meter. Sedangkan yang berumur 10 tahun jaraknya 8×8 meter. Jarak tanam 8×8 diisi lima pohon, yang satu sebagai tanaman sela. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan agar tidak terlalu kosong.

Menurut Nyoman Dadiase, nanti setelah berumur 10 tahun akan dilakukan penjarangan agar empat pohon lainnya bisa semakin produktif. Penjarangan dilakukan dengan cara menebang, kemudian kayunya dijual atau dimanfaatkan untuk kebutuhan di rumah.

Produktivitas cengkehnya, jika dirata-rata, mencapai dua ton per hektar atau sekitar 13 kilogram per pohon. Ragam produktivitasnya ditentukan oleh bibit, letak lahan, ketinggian, dan perawatan tanaman. Lahan milik Dadiase berada di ketinggian 1.050 mpdl. Hanya pohon cengkeh yang terkena sinar matahari lebih intens (sepanjang hari) produktivitasnya lebih baik.

Nyoman Dadiase menerapkan teknik tumpang sari untuk lahannya. Ia juga menanam kopi, pisang, alpukat, dan talas di sela-sela pohon cengkeh. Tumpang sari dilakukan di kebun yang tanaman cengkehnya masih berumur sekitar 10 hingga 15 tahun. Berdasarkan perkiraannya, produktivitas cengkeh dan kopinya untuk satu hektar lahan sama-sama menghasilkan dua ton, tetapi penghasilan dari kopi hanya 1/4 dari cengkeh.

Setelah cengkeh berumur di atas 15 tahun, Dadiase akan melakukan penjarangan pada tanaman kopinya. Tanaman kopi merupakan pelengkap, yang utama adalah cengkeh, karena penghasilannya lebih besar.

Penyakit cengkeh dengan usia lima tahun yang belakangan menyerang desa Umejero adalah Jamur Akar Pohon, uret, penggerek ,batang dan cacar daun. Menurut Dadiase, untuk mengatasi penyakit atau hama, petani hanya perlu rutin datang ke kebun. Rajin membersihkan dan apabila ada tanda-tanda penyakit atau diserang hama, maka harus segera diatasi. Ketika sudah dilakukan pencegahan dan segera mengatasinya, maka tidak akan sampai berdampak buruk pada cengkeh.

Dadiase mencontohkan dirinya sebagaimana laiknya petani. Setiap hari, dari pagi sampai sore di kebun. Tengah hari dia pulang untuk makan dan minum kopi di rumah. Makanan dan minuman tidak perlu diantar ke kebun, karena akses jalan ke kebunnya sudah bisa diakses sepeda motor.

Ia biasa memotong pucuk cengkeh yang sudah melebihi panjang tangga. Tujuannya agar memudahkan proses panennya. Pemotongan pucuk itu tidak bermasalah bagi pertumbuhan, malah semakin memperbanyak cabang dan produktivitas cengkeh.

Ia memilki tujuh orang perawat kebun (penyakap) yang masih memiliki hubungan saudara. Setiap penyakap sudah terikat dengan pemilik lahan, saat musim panen tiba bisa dipastikan mereka tidak akan bekerja untuk orang lain. Sehingga Dadiase tidak sama sekali kekurangan tenaga. Untuk tenaga tambahan, sudah ada warga di sekitarnya yang langganan bekerja ke Dadiase.

Dadiase memanen sendiri sebagian lahannya, sebagian diborongkan pada orang lain. Sebenarnya, ia lebih suka panen sendiri karena hasil petiknya lebih baik, dipilih bunga-bunga yang memang sudah layak petik. Tetapi karena tidak cukup waktu untuk memanen lahannya yang luas, maka ia memborongkannya. Keuntungan antara antara memanen sendiri dan memborongkan pada orang lain juga tidak terpaut jauh.

Koperasi Cengkeh
Hasil panennya kebanyakan disimpan, hanya sebagian saja yang dijual. Sampai sekarang, ia punya simpanan cengkeh sejak empat tahun lalu. Cara menyimpan, setelah panen, dipisahkan gagang dan bunga, lalu dijemur sampai kering patah atau kadar air tujuh hingga 10 persen. Cengkeh disimpan di gudang dengan dialasi kayu.

Subak yang diketuai oleh Dadiase sudah memiliki unit usaha koperasi, seperti ternak kambing, pengolahan kopi dari petik sampai pengemasan, hingga simpan pinjam. Simpan pinjam mengelola uang sebesar 200 juta rupiah. Uang itu digunakan untuk modal usaha pertanian bagi anggota koperasi.

Hubungan antara dinas perkebunan dan masyarakat atau subak di Umejero terjalin baik. Fungsi subak dijadikan sebagai representasi partisipasi masyarakat untuk pengajuan program yang dibutuhkan petani cengkeh. Mengenai Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), Dadiase hanya kenal pengurusnya, tetapi tidak ada program dari APCI.

Dadiase pernah menguliahkan anaknya dari hasil panen pisang. Sekarang, dari hasil perkebunan cengkeh, kopi, pisang, dan alpukat, ia bisa membantu biaya sekolah cucu-cucunya. Selain itu, ia juga masih sering membantu kehidupan ekonomi anaknya.

Dadiase pernah bercengkrama dengan warganya. Ia berangan-angan bagaimana kalau suatu saat cengkeh tidak laku dijual. Ia membandingkan cengkeh dengan kopi, kalau kopi masih bisa diminum sendiri, sedangkan cengkeh mau diapakan. Ia hanya berpikir akan mendapatkan penghasilan dari tanaman tumpangsarinya.

Dan di saat tidak panen seperti sekarang ini, ia tidak terlalu kena dampaknya. Karena ia memiliki stok cengkeh yang disimpan dan kebutuhannya masih bisa dipenuhi dari hasil tanaman kopi dan alpukat. Sebuah persiapan yang matang menjelang situasi sulit.

Persiapan matang, adalah frasa yang paling terasa kuat dari diri Nyoman Dadiase. Dari beliau, kita belajar bahwa melakukan persiapan adalah langkah awal untuk bertahan hidup. Bukan hanya soal bertani dan berproses bersama alam, namun untuk kehidupan sehari-hari. Sedia payung sebelum hujan.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).