Sebatang Rokok Terakhir

Beberapa orang membalikan satu batang rokoknya untuk diisap terakhir kali yang diselingi dengan doa dan harapan pada saat membakarnya. Tak selamanya doa dan harapan itu terkabul karena rokok bukanlah Tuhan yang akan memberikan semua permintaan mereka yang memohon padaNya.

Sekalipun diselingi doa dan harapan, kadang kala dalam satu batang rokok terakhir tetap saja ada perasaan sedih yang terselip pada setiap isapannya. Perasaan sedih tatkala kita tak lagi memiliki batang berikutnya.

Anggaplah tulisan ini adalah kali terakhir kuketik di sini. Seperti halnya pada batang rokok terakhir, akan pula kuselipkan doa dan harapan pada alinea-alinea akhir. Mungkin pula perasaan sedih juga akan muncul karena tak akan lagi saya menuliskan apa yang selama lima tahun terakhir ini telah menjadi bagian dari kehidupan.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Hingga pada waktu yang tak terduga, aku harus pergi dan mengakhiri semua yang telah terbangun selama lima tahun ini. Bukan karena tak lagi bersepakat atas gagasan-gagasan atau karena perselisihan, tapi harus pergi karena satu dan lain hal yang tak mungkin kutuliskan di sini.

Pada setiap batang rokok kuisap selama lima tahun ini aku belajar banyak hal. Salah satunya adalah tentang kebersamaan. Begitu banyak orang-orang yang baik di lingkaran saya, orang-orang yang mengajakku melihat hal-hal baru, mengajakku bertemu dengan petani-petani yang lugu, buruh-buruh yang jujur, pedagang-pedagang asongan yang ikhlas.

Pada setiap batang rokok yang kuisap selama lima tahun ini aku belajar tentang bagaimana mengambil keputusan. Termasuk mengambil keputusan untuk menyudahi jalinan yang telah terikat lama. Jalinan perjuangan, jalinan persahabatan, jalinan kasih, jalinan kekeluargaan. Jalinan-jalinan yang akan membuat kita tak akan pernah saling melupakan.

Pada setiap batang rokok yang kuisap selama lima tahun ini aku belajar tentang kemenangan dan kekalahan. Pada kemenangan yang didapat akan ada kebahagiaan, jangan ragu untuk melepaskan rasa senang. Pada kekalahan yang didapat akan ada kekecewaan, dan jangan pula ragu untuk melepaskan kesedihan. Ya, sedihpun memiliki hak untuk keluar dalam diri kita, bukan hanya untuk dipendam.

Sial memang, tak ada torehan sejarah berarti yang bisa kutulis dan kubanggakan dalam kurun waktu lima tahun itu. Para petani tembakau, buruh-buruh pabrik, para pedagang asongan, atau kita semua masih hidup seperti sebelumnya. Namun aku yakin, kita semua masih akan mengingat saat-saat bersama memperjuangkan tentang apa yang kami anggap benar dan baik, sekalipun keberhasilan bukan menjadi akhir ceritanya.

Memang bukan orang pertama yang harus pergi dari lingkaran ini. Namun bukan hendak mendramatisir perpisahan ini, tapi entah kenapa, bagiku setiap perpisahan akan selalu berarti kesedihan. Seperti tak akan pernah bertemu lagi selamanya.

Lima tahun dari sekarang semoga saja Semesta masih memberikan kesempatan bertemu dengan orang-orang terbaik yang pernah ada dalam lingkaran kehidupanku. Beromantisme pada masa lalu sembari tersenyum saat saling mengingat cerita dan kenangan.

Sementara pada kalian yang masih bertahan dan meneruskan langkah, doa dan harapan agar mampu melakukan apa yang lebih baik ketimbang apa yang pernah kulakukan dahulu.

Pada kalian yang masih melanjutkan dan meneruskan mimpi, aku juga masih berutang jabat tangan, pelukan, dan lambaian tangan perpisahan. Dalam waktu dekat akan kutunaikan utang itu karena tak elok tentunya, tak sopan, tak menghargai dan menghormati orang yang selama ini berada di dekatku, ketika perpisahan hanya menyampaikan melalui ketikan kata.

Ada satu doa dan harapan lain yang kuanggap sebagai doa dan harapan teristimewa, tapi maaf, aku lebih memilih menyimpan dalam hati doa dan harapan itu. Pada satu hari nanti jika doa dan harapan itu telah terwujud, akan kusampaikan pada kalian bahwa itulah doa dan harapan istimewaku.

Jika kalian telah selesai membaca tulisan ini, aku ajak kalian untuk mengambil sebatang rokok kretek lalu nyalakan dan isap dalam-dalam. Jika tak merokok, tegulah air. Anggaplah itu rokok atau air yang terakhir, hingga ‘harus’ kita selipkan doa dan harapan di dalamnya. Lalu pilihlah sendiri doa dan harapan itu, namun ingat bukan untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang-orang baik yang ada di dekatmu.

 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ARTIKEL TERKAIT

Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok

Keputusan pemerintah menambal defisit BPJS dengan cukai rokok memberikan uforia tersendiri bagi para kretekus. Layaknya musafir di tengah panas gurun…

Ketua YLKI yang Tak Pernah Membela Konsumen Rokok Itu Bernama Tulus Abadi

Tulus Abadi amnesia misi dan tujuan mulia organisasinya. rokok Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, adalah salah…

Defisit BPJS Kesehatan dan Pentingnya Peta Jalan Industri Hasil Tembakau

Bobolnya BPJS Kesehatan membuat pemerintah pusing tujuh keliling. Sejak 2014 BPJS Kesehatan sudah mengalami defisit anggaran mencapai Rp3,3 triliun. Angka…

Tembakau Penerus Kehidupan

Selain falsafah hidup Satu Tungku Tiga Batu-nya orang Fakfak yang legendaris, budaya Fakfak, Papua Barat, juga menghormati tamu. Ini bagian…