Adu Jago

Dalam bahasa Jawa, istilah jago secara leksikon berarti ayam jantan. Namun istilah jago dalam bahasa Jawa tutur juga memiliki makna “hebat” atau “luar biasa”, mirip arti dalam bahasa Indonesia yang menyerap kata jago dari bahasa Jawa menjadi “jagoan”. Selain itu, dalam kelaziman tutur orang Jawa sehari-hari, seseorang yang tengah maju bertarung memperebutkan posisi politik atau jabatan publik sering disebut dengan istilah “(n)jago.”

Adu jago atau sabung ayam, sebuah permainan rakyat yang sudah berlangsung lama di negeri ini. Permainan ini mengadu dua jago yang memiliki taji, atau malah tak jarang sengaja dipasangi taji buatan entah itu dari bahan bambu atau kayu diruncingkan atau logam runcing dipasang pada kedua kakinya. Pertandingan baru dianggap berakhir setelah salah satu jago itu kalah. Ya, hanya ada satu jago sebagai pemenang!

Masyarakat Jawa mengenal folklore Cindelaras yang menarasikan tradisi adu jago. Narasi ini mengambil konteks pada zaman Kerajaan Jenggala abad ke 11. Alkisah, Cindelaras, yang sebenarnya adalah anak Raja Jenggala dari istri permasuri tapi karena intrik istri selir akhirnya dibuang ke tengah hutan itu, memiliki ayam aduan yang super. Bukan hanya terkenal tak pernah kalah, namum ayam itu konon juga memiliki bunyi kokok yang berbeda. Lambat laun, kabar keampuhan ayam jantan itu menyebar hingga ke telinga raja. Raden Putra demikian nama raja itu, memanggil Cindelaras dan menantangnya adu jago. Singkat cerita, ayam si-Cindelaras itu menang. Akhir cerita folklore berakhir bahagia. Cindelaras dan Ibundanya kembali hidup di istana, sementara istri selir beroleh hukuman setimpal. Cindelaras pun akhirnya menggantikan Ayahndanya sebagai Raja Jenggala.

Konon, Ken Arok sebelum jadi Raja Shingasari, selain perampok juga tukang adu jago. Tercatat sejarah, di Jawa pada masa lampau juga pernah terjadi momen adu jago menjadi sebuah peristiwa politik besar. Tak tanggung-tanggung, Raja Singhasari yang berkuasa waktu itu, yaitu Prabu Anusapati, dibunuh adik beda ibu, Tohjaya, saat sang raja itu tengah menyaksikan adu jago. Masih terkait Kerajaan Singhasari, yang tak kurang menariknya ialah keberadaan Candi Jago. Diberi nama Jago bila ditilik dari segi etimologi berasal dari kata jajaghu yang berarti “keagungan”, candi ini didirikan bagi Raja Wisnuwardhana yang wafat tahun 1268.

Lain cerita budaya masyarakat Bugis. Ayam disebut manu’ dalam bahasa Bugis atau jangang dalam bahasa Makassar. Dalam buku “Nenek Moyang Orang Bugis”, Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa budaya masyarakat Bugis kental dengan mitologi ayam. Sawerigading, tokoh utama dalam naskah epik La Galigo itu, salah satu kesukaannya ialah sabung ayam (massaung manu’). Bagi masyarakat Bugis sudah jamak ayam jantan jadi asosiasi untuk menggambarkan keberanian seseorang. Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, karena dikenal tak mau bersikap kompromis dengan VOC, oleh Belanda juga disebut “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur.

Bahkan, kerajaan Bone dan Gowa pernah berperang hanya gara-gara berawal dari peristiwa sabung ayam. Dikisahkan tahun 1562 Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 – 1565) berkunjung ke Kerajaan Bone. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara massaung manu’. Tak tanggung-tanggung, Raja Gowa mempertaruhkan100 katie emas, sementara Raja Bone mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampung). Konon, sabung ayam kali bukanlah sabung ayam biasa, melainkan sebuah wahana adu kesaktian bagi kedua raja. Walhasil, ternyata ayam Raja Gowa kalah dan ayam Raja Bone menang, dan ini juga berarti kesaktian dan kharisma Raja Bone lebih tinggi daripada Raja Gowa.

Tentu Raja Gowa sangat terpukul dan jatuh malu. Sepulangnya dari Bone, ia langsung mempersiapkan tentaranya untuk menyerang Kerajaan Bone. Sejak itu perang saudara berkobar. Perang saudara ini memakan waktu satu generasi. Perang berakhir pada masa Raja Gowa XI, I Tajibarani Daeng Manrumpa Karaeng Data. I Tajibarani terbunuh oleh laskar Bone. Dengan gugurnya I Tajibarani, yang adalah raja sekaligus panglima pasukan Kerajaan Gowa, maka tentara Gowa pun menyerah tanpa syarat. Sejak itu diadakan perjanjian perdamaian di Caleppa, 4 km sebelah utara Watampone, pada akhir 1565.

Sementara bagi masyarakat Bali, cerita sabung ayam tentu enggak kalah menariknya. Bahkan, Clifford Geertz membuat catatan etnografis “Deep Play: Notes on the Balinese Cockfighting, termuat dalam “Intrepetation of Cultures”, khusus mengupas tentang makna simbolik sabung ayam. Serupa dengan orang Bugis, menurut Geertz ayam jantan bagi masyarakat Bali dianggap sebagai representasi dari pribadi pemiliknya. Benar, bahwa yang bertarung adalah ayam, namum ayam-ayam itu sejatinya adalah perwakilan dari kaum laki-laki Bali. Tak aneh jika bertandang ke hampir semua puri di Bali sering ditemui ratusan ayam jago dipelihara dengan banyak petugas khususnya. Ayam-ayam itu bukan hanya dikasih makanan dan nutrisi yang baik, melainkan juga dilatih sedemikian rupa agar jadi ayam jago petarung yang tangguh.

Orang Bali menyebutnya tajen atau perang seta. Bagi masyarakat Bali, tajen merupakan salah satu ritual di Bali yang disebut tabuh rah. Tujuannya ialah membuat sesaji dengan darah ayam untuk membasahi bumi. Darah ayam itu dicampur dengan tiga jenis air yang berwarna: putih (tuak), kuning (arak), dan hitam (berem). Percampuran ini sebagai simbol pengingat agar umat manusia menjaga keseimbangan bhuwana alit (manusia) dengan bhuwana agung (semesta).

Bagi orang Bali, sabung ayam tak hanya bermakna permainan semata, tapi juga praktik ritual keagamaan. Bahkan, menurut catatan R. Friedrich, seorang cendekiawan Jerman yang mengunjungi Bali pada 1846, waktu itu sabung ayam masih murni merupakan bagian dari upacara keagamaan. Akan tetapi, memasuki tahun 1900-an, unsur sakralnya mulai memudar. Sifat profannya menguat, lantaran banyaknya masyarakat yang nimbrung berjudi (bebotoh). Pemerintah kolonial Belanda segera melarang permainan sabung ayam kecuali yang berizin dan ditujukan sebagai ritual keagamaan.

Konon karena pesona Adu Jago Affandi, maestro lukis Indonesia tak hanya sekali menorehkan cat di kanvas dengan tema ini. Saking sukanya sang maestro terhadap permainan ini sampai ada 10 versi lukisan dengan ini. Menjelang digelarnya pilkada serentak tentu para “jago” sudah bersiap untuk bertarung. Dalam pertarungan harus ada yang menang dan yang kalah. Mari kita tunggu akhirnya, ada yang menjadi Cindelaras atau tragedi kerajaan Shingasari.

Haryanto

Mahasiswa yang meyakini akan sukses dengan kerupuk dan teh botol.