Jakarta Sudah Habis

“…Jakarta sudah habis

Musim kemarau api

Musim penghujan banjir

Jakarta tidak bersahabat

Api dan airnya bencana

Entah karena kebodohan kecerobohan

Atau keserakahan….”

Membangun sebuah kota warisan kolonialisme menjadi ibukota negara merdeka bukanlah perkara gampang. Ini bukan hanya bagaimana merubah model tata ruang kota yang pada awalnya dibangun dengan maksud mengukuhkan sekat-sekat sosial antara yang menjajah dan dijajah, melainkan juga memberi identitas bagi sebuah negara baru bernama Indonesia.

Menurut Robert Bridson Gribb (1990) dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949 Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni, nama Batavia adalah sebutan bagi Jakarta yang diberikan oleh Belanda sejak awal merupakan kota yang tidak memiliki tata ruang pola tradisional, yaitu tidak memiliki alun-alun di muka Istana Sultan. Seperti kita tahu kota-kota Jawa prakolonial pada umumnya menganut pola kota Mandala, sebagai penerusan dari kebiasaan tata ruang kota-kota di zaman Hindu Jawa. Pola tradisional sebagai model kota Mandala ini tak kita temui, sejak awal Jakarta adalah kota yang memang dirancang dan diciptakan untuk kepentingan kolonial Belanda.

Celakanya, Belanda membangun tata ruang kota Batavia dengan konsep segregasi politik. Orang China, Arab dan India yang kebanyakan berstatus pedagang kelas menengah ke atas, mengelompok mendiami daerah Glodok dan sekitarnya. Orang-orang Eropa banyak mendiami pusat-pusat kota yang penuh bangunan-bangunan perkantoran bisnis dan rumah-rumah mewah seperti kawasan Menteng. Sementara kaum pribumi yang kebanyakan pekerja kasar tinggal di kampung-kampung padat yang rumahnya tak permanen, kumuh dan tersembunyi di balik jalan-jalan besar. Menurut Gribb, ini sengaja diciptakan kolonial Belanda sehingga nyatalah struktur komersial, administrasi, budaya dan militer kota itu direncanakan tanpa memperdulikan penduduk Indonesia sendiri.

Karena itulah sejak awal Bung Karno memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan Jakarta. Sebagai pintu depan yang menghubungkan Indonesia dan dunia luar maka Jakarta harus dibangun dengan karakteristik kuat sebagai pembeda di antara kota-kota besar negara-negara lain. Jakarta harus jadi sebuah kebanggaan dan identitas bagi seluruh rakyat Indonesia. “Indonesia can also build the country like Europeans and Americans do because we are equal” ujarnya suatu ketika. Bahkan Bapak Marhaen itu, lebih jauh bermimpi mengangkat Indonesia menjadi “New Emerging Forces” dan menjadikan Jakarta sebagai mercusuar bagi perjuangan seluruh umat manusia.

Beberapa proyek bangunan besar berhasil dibangun pada zaman Bung Karno. Sebutlah Hotel Indonesia atau Hotel Kempinski kini; Gelora Bung Karno atau dulu dikenal sebagai Kompleks Asian Games; Gedung DPR/MPR atau dulu Gedung CONEFO; Planetarium di Taman Ismail Marzuki; Masjid Istiqlal; Taman Impian Jaya Ancol; dan yang paling terkenal adalah sebuah landmark bernama Monas.

Di beberapa titik strategis lain juga sengaja dibangun landmark lain, seperti Monumen Selamat Datang, Monumen Dirgantara atau yang lebih kita kenal sebagai Tugu Pancoran, dan Monumen Pembebasan Irian Barat. Selain itu, untuk mengatasi kemacetan yang sudah mulai terjadi pada tahun 1960-an ruas Jalan Thamrin, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Grogol (Jalan S. Parman kini) diperluas sebegitu rupa. Diikuti pembangunan jembatan Semanggi, sebuah jalan layang yang melingkar-lingkar, yang boleh dikata pada masa itu adalah sebuah capaian spektakuler.

Melalui berbagai bangunan-bangunan besar itu Presiden Soekarno bermaksud membuktikan kepada mata dunia, bahwa para ahli Indonesia sanggup membangun sendiri ibukotanya sejajar dengan negara-negara Eropa dan Amerika. Tak aneh proyek-proyek itu memiliki ciri khas bersifat modernis sekaligus monumental, dibangun dengan memiliki bentuk besar atau tinggi sehingga nampak menjulang atau mencolok mata dibandingkan bangunan-bangunan lain di lingkungan sekitarnya.

Walaupun Bung Karno bukanlah arsitektur dari proyek-proyek di atas, namun semua proyek itu rancang bangunnya selalu dikonsultasikan sekaligus dimintakan persetujuan langsung kepadanya. Bung Karno mengawal sendiri proses pembangunan Kota Jakarta. Ide-idenya seringkali juga datang dari Bung Karno, misalnya ide patung Selamat Datang atau patung Pembebasan Irian Barat. Kenangan akan cerita ini masih tersimpan baik dalam ingatan seniman patung, Edhi Sunarso, yang diberi tanggungjawab mengomandani pembuatan tiga patung sebagai landmark kota.

Bahkan karena saking terobsesinya membuat Jakarta menjadi cantik, Bung Karno menunjuk seorang seniman lukis asal Menado, Henk Ngantung, sebagai Deputi Gubernur di bawah Gubernur Soemarno. Dengan demikian Soekarno ingin agar Henk yang seorang seniman itu memberikan polesan artistik dan menjadikan Jakarta sebagai model kota berbudaya. Pada saat Henk masih seorang deputi itulah beberapa proyek besar dan berstandar internasional di atas dibangun di Jakarta.

Tahun 1964 Henk Ngantung diangkat jadi orang nomer satu Jakarta, namun sayangnya terjadi Peristiwa G30S1965 dan segera nantinya hal itu merubah seluruh visi dan proyeksi pembangunan. Tentunya bukan hanya bagi rupa Jakarta sebagai ibukota tapi juga wajah Indonesia.

Pada masa Bung Ali (1966 – 1977), konsep pembangunan Jakarta masih bisa dikatakan seiring sejalan dengan proyeksi tatakota yang sudah dicanangkan Bung Karno. Namun sejalan dengan pergantian rezim ke Soeharto, terlebih pasca Bung Ali, keberadaan Monas sebagai landmark utama kota Jakarta, demikian juga Tugu Pancoran maupun Patung Pembebasan Irian Barat, justru nampak tertutupi oleh berdirinya gedung-gedung tinggi yang dibangun serampangan di sana-sini.

Konsep pembangunan rezim Soeharto yang terkonsentrasi di Pulau Jawa, bahkan lebih jauh juga tersentralisasi di Jakarta dan daerah penyangganya membuat kota urban ini nampak begitu semrawut dan sarat beban melebihi batas kapasitasnya. Walhasil, terjadilah ledakan urbanisasi. Jakarta adalah sebuah kampung besar dengan penduduk terpadat di Indonesia. Di tangan rezim Soeharto, alih-alih mengindahkan aspek estetika ruang tatakota, bahkan sekadar bermaksud mengingat sejarah dan fungsi dari dibangunnya berbagai landmark itu pun tak terlihat. Di tangan rezim Soeharto, model pembangunan tata ruang ala kolonial Belanda, sadar atau tidak diadopsi kembali. Ya, wajar saja rupa Jakarta menjadi seperti kita kenal kini.

Tak berlebihan sekiranya karena saking buruknya penataan Kota Jakarta, ditambah alasan bahwa pusat pemeritahan, industri dan bisnis seharusnya dipisahkan tata ruangnya, pasca Orde Baru sebenarnya sempat berhembus wacana pemindahan ibukota Indonesia dari Jakarta. Tapi, entah mengapa, wacana pemindahan ibukota dari Jakarta ternyata sekadar wacana doang. Tak berlebihan pula sekiranya 2015 Castrol Magnatec Start-Stop Index 2015 menetapkan Jakarta pada peringkat pertama dari 78 kota termacet di dunia. Ya, Jakarta adalah sebuah potret gagalnya pembangunan kota berbudaya.

Sayup-sayup terdengar suara senandung lirih Iwan Fals:

“…Jakarta sudah habis

Musim kemarau api

Musim penghujan banjir

 

Jakarta tidak bersahabat

Api dan airnya bencana

Entah karena kebodohan kecerobohan

Atau keserakahan….” 

Panji Prakoso

Penulis yang kadang mengisi waktu dengan memelihara burung.