Kisah Seorang Pemetik Cengkeh

“Komang Wirada lebih menyukai sistem kerja pemetik harian dibanding ikut borongan karena sistem borongan seperti mengejar target, sehingga hasil petikannya kurang baik, cengkeh yang masih muda kadang juga turut dipetik.”

Ketika demam cengkeh melanda Bali Utara sekitar 1960, banyak petani kopi yang beralih profesi menjadi petani cengkeh. Akibatnya jumlah petani menjadi meningkat cukup pesat. Namun satu masalah muncul di kemudian waktu, berkaitan dengan ketersediaan pemetik cengkeh. Profesi ini membutuhkan keahlian khusus, dan berkaitan langsung dengan jumlah cengkeh yang berhasil dipanen.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka pemetik dari luar didatangkan. Tak semuanya ahli memetik, banyak juga yang masih memerlukan pengalaman. Di tengah situasi ini, seorang pemetik profesional menjadi profesi yang menarik.

Seperti seorang yang bernama Komang Wiradana. Pemuda berusia 26 tahun ini sudah menjadi pemetik cengkeh sejak usia 19 tahun. Selama tujuh tahun, Komang Wiradana menempa diri menjadi seorang pemetik cengkeh yang handal. Dan sekarang, nama Komang Wiradana dari Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, adalah seorang pemetik cengkeh profesional.

Selain jam terbang, seseorang bisa dikategorikan sebagai pemetik cengkeh profesional tatkala mereka yang sudah bisa memetik menggunakan dua tangan. Jadi, ia akan lebih efektif ketika bekerja. Komang Wiradana tidak harus berpegangan pada tangga bambu karena sudah ada sabuk pengaman yang diikatkan pada tangga.

Tentunya, bergelatungan di rimbun pohon cengkeh sambil bekerja dengan dua tangan adalah pekerjaan yang kompleks dan membutuhkan konsentrasi. Selain harus memetik dengan cepat, ia harus terus mengawasi sabuk pengaman. Tentu faktor keamananan menjadi aspek yang paling penting dalam profesi ini.

Komang Wiradana sendiri bisa memetik hingga 45 kg cengkeh. Ia memetik menggunakan kuku, yang diberikan tekanan pada gagang cengkeh langsung terpusat dan bisa lebih cepat putus. Ketepatan dan kecepatan inilah yang membedakan seorang pemetik profesional dengan pemetik yang masih perlu belajar.

Selain menggunakan tangga, Komang Wiradana juga memanjat cabang-cabang pohon cengkeh secara langsung, terutama untuk pohon yang sudah tua. Tujuannya supaya bisa memetik cengkeh yang tumbuh di bagian dalam atau pangkal ranting.

Tangga untuk memetik cengkeh tidak disandarkan ke batang pohon. Bagian atas tangga diletakkan di bagian tepi tajuk pohon, lalu diikat menggunakan tali tampar. Dibutuhkan sedikitnya tiga tali tampar untuk menahan tangga bambu tersebut. Untuk satu hektar lahan, biasanya dibutuhkan 20 hingga 25 tangga. Idealnya, dalam satu pohon bisa dua hingga tiga kali petik.

Komang Wirada lebih menyukai sistem kerja pemetik harian dibanding ikut borongan karena sistem borongan seperti mengejar target, sehingga hasil petikannya kurang baik, cengkeh yang masih muda kadang juga turut dipetik.

Tenaga petik harian diupah Rp100.000, dalam hitungan kerja selama delapan jam. Berbeda apabila pemetik menyediakan bambu, tali tampar, goni, dan pengaman sendiri, upahnya bisa mencapai Rp125.000. Tangga yang berukuran sampai 17 meter biasanya diangkut oleh dua orang, dan satu pemetik mendapat tanggung jawab sampai 20 tangga per pohon.

Saat hujan, pemetik harian akan berhenti memetik. Sedangkan pemetik borongan akan terus memetik, selama hujan dan angin tidak terlalu keras. Anggapan umum bahwa kalau memetik cengkeh saat hujan akan merusak kualitas cengkeh, itu tidaklah benar. Yang pasti, cengkeh lebih berat dan sebenarnya lebih menguntungkan bagi pemetik borongan karena bobot cengkeh meningkat, sehingga bayaran untuk pemborong semakin mahal.

Pemetik harian mempunyai tanggung jawab membawa cengkeh sampai ke pinggir jalan yang mudah diakses untuk kemudian diangkut. Sedangkan pemetik borongan harus membawa hasil petikannya langsung ke rumah pemilik lahan untuk ditimbang.

Risiko yang dihadapi oleh pemetik di antaranya, angin kencang, hujan deras, kemiringan lahan, kuku dan kulit pecah-pecah. Selain itu, tidak ada asuransi keselamatan kerja. Apabila ada kecelakaan, sampai meninggal, maka pemilik lahan umunya akan menyumbang pada keluarga korban.

Faktor penyebab kecelakaan kerja yang sering terjadi ialah bambu atau pijakan yang patah, kurang konsentrasi, mengantuk, tidak menggunakan sabuk pengaman, dan terlalu memaksakan diri saat terjadi angin kencang atau hujan. Salah memilih bambu yang muda bisa berakibat fatal, bambu bisa patah tengah. Faktor-faktor seperti inilah yang perlu selalu ditekankan.

Seorang pemetik profesional selalu memastikan unsur keamanannya terjaga supaya pekerjaan bisa berjalan optimal. Di desa sebelah, menurut Komang Wiradana pernah ada pemetik yang tersengat listrik dan ada juga yang jatuh ke aspal sampai meninggal.

Sehari-hari, saat tidak ada panen cengkeh seperti sekarang ini, waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja di kebun, mencari rumput untuk ternak dan merawat tanaman.

Menjadi pemetik cengkeh sudah seperti menyabung nyawa, terutama jika faktor keamanan tak diperhatikan. Ia tak akan membahayakan dirinya sendiri dengan memanjat pohon cengkeh tanpa persiapan yang matang. Pemetik cengkeh seperti Komang Wiradana penting untuk menjadi satu acuan bagi pemetik cengkeh lainnya. Dalam bekerja masih memperhatikan keselamatan dirinya. Pada titik ini pula, penting bagi berbagai pihak untuk memperhatikan kerja dan keselamatan kerja para pemetik cengkeh, tak terkecuali pemilik pohon ataupun pemerintah.

mm

Zulvan Kurniawan

Ketua Pekerja

Penikmat tembakau, teh, dan camilan yang renyah. Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK)