Presidenku bukan Anak Metal

Saking gaduh dan bisingnya situasi politik, sampai ada yang men-twit : gara-gara KPK vs Polri, orang lupa membully MU yang gak bisa menang lawan Cambridge.

PRESIDENKU BUKAN ANAK METAL

Musik metal itu gaduh, bising dan berisik. Suaranya di atas batas normal kemampuan pendengaran manusia. Saat ini politik kita juga sedang bising, di wilayah segitga Kuningan-Trunojoyo-Istana, atau Teuku Umar?

Sahat tergopoh-gopoh masuk ruang rapat di kantornya. Keadaan sedang genting. Kantornya. Masa depan terancam karena menurunnya produksi dan hilangnya orientasi perusahaan. Nafasnya tersengal karena sebelumnya Sahat mampir ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, ikut bersama banyak orang yang sedang beraksi #SaveKPK. Sahat ikut di sana karena sebagai relawan Jokowi saat pilpres lalu, ia merasa harus ikut menyuarakan sikap kritis terhadap situasi politik yang sedang terjadi. Masih terngiang-ngiang suara bising di kupingnya.

Di ruang rapat kantor sudah ada Mira. “Rasanya dejavu ya. Presiden lalu harus ngadepin KPK ribut sama Polisi. Lah sekarang baru 3 bulan, kejadian lagi”, Mira nyerocos begitu Sahat masuk ruangan. Mira meneruskan, sampai ibunya heboh di rumah dan sampai perlu menelpon Mira untuk curhat gara-gara ayahnya lebih asik terus nonton berita sepanjang hari tentang konflik KPK vs Polisi.

Slamet gak kalah berisik. “Cem mana piye iki, Cok?” tanyanya ke Sahat, mau bergaya Batak tapi Jawa-nya gak bisa hilang. Presiden pilihanmu itu loh. Kok begitu? Pusinglah Sahat, dia diam saja sambil mengatur kata-kata seandainya dua temannya terus mendesak pendapatnya. Sahat menuang kopi, membuka laptop, masuk ke beberapa media sosial miliknya. Sama. Bising, berisik, gaduh. Twitter dan Facebook. Teman-temannya, teman-teman dari teman-temannya, sebagian besar penghuni medsos turut berkomentar. Ada yang mendukung KPK, ada yang semata karena sebal dengan polisi, ada yang memilih netral dengan menulis : lah, kalau BW memang salah, terus gimana? Ada yang menuduh PDI-P sebagai biang keladi, dan ketuanya tentu saja. Yang lain justru gembira karena merasa tidak berdosa memilih Jokowi. Tambah mumet Sahat.

Saking gaduh dan bisingnya situasi politik, sampai ada yang men-twit : gara-gara KPK vs Polri, orang lupa membully MU yang gak bisa menang lawan Cambridge. Edan. Politik seperti drama, pikir Sahat. Atau memang sebenarnya drama. Elit-elit politik itu sedang memainkan lakonnya. Rakyat sebagian memilih jadi penonton, namun ada yang turut naik panggung, mau ambil peran. Di sini Sahat bingung mengambil posisi. Dia bukan relawan diehard, tapi tidak mau hanya diam saja. Dia tidak seperti temannya si Bagus, yang sering muncul di media, kerja-kerjanya (diklaimnya sendiri) jelas kelihatan saat mendukung Jokowi. Dia berhasil bawa massa pendukung, dia konsolidasi banyak orang, dia hadang dan tepis isu dan hantaman dari pendukung lawan, dia rapat sana-sini, si Bagus itu, kawannya Sahat, yang ia temui sehabis rapat, sebelum pulang ke rumah.

“Gak habis pikir gua sekarang”, kata Bagus. Tanpa Sahat perlu bertanya, Bagus langsung saja bicara panjang kali lebar. Presiden ini gak mau dengerin kita sih. Dalam hati Sahat, “Memang kau ini siapa?” Tentu saja Sahat tidak menyampaikan itu. Kembali Bagus, kalau saja aku bisa ketemu dia, banyak mau aku sampaikan. Sepertinya Presiden ini masih kurang lihai berpolitik, kurang jeli menempatkan orang. Siapa itu si Anu? Coba lihat si Inu! Aduh, bisa apa itu si Enu? “Kalau dari awal kita dilibatkan, tidak akan seperti ini jadinya, ngerti kau, Sahat?” lanjut Bagus, sambil kembali memandangi layar handphone-nya. Sepertinya dia berharap ada panggilan yang akan masuk. Yang jelas, bukan Presiden yang akan menelpon dia. Bukan.

“Jangan berhenti berharap”, kata Sahat menenangkan. “Suatu saat mungkin Presiden akan sadar dan mau mendengarkan”, lanjutnya berupaya mengangkat hati Bagus.

“Ah, kau tahu, Sahat. Kalau dulu ngetrend istilah mafia migas, sekarang ini yang muncul adalah mafia jadwal”, celetuk Bagus. Banyak orang mau ketemu dia, tapi segelintir orang sok tahu merasa berkuasa mengatur-atur dia. Bagus menerangkan arti istilah baru itu. Sahat hanya diam, merenungkan istilah baru itu,kemudian pamit meninggalkan Bagus yang terus memandangi layar telpon genggam itu.

Sahat pulang ke rumah, langsung masuk ke kamarnya. Langsung dia putar kaset di tape-nya. Musik kencang Metallica mengalir. Lagu demi lagu, menemani Sahat yang masih merenungkan apa yang dialami dan dengar sepanjang hari ini. Musik metal memang favorit Sahat. Teringat dia waktu masih SMP, nonton konser Sepultura, lalu Metallica di Stadion Lebak Bulus. Dua konser musik pertamanya. Cuek, di saat teman-temannya bergaya dengan baju warna-warni masa itu, Sahat bangga dengan kaos serba hitam dan celana jeans belel. Anti mapan, di saat teman-temannya rapi jali di sekolah, Sahat ­nyoba-nyoba manjangin rambut, meski berkali-kali kena razia guru dan dicukur paksa di depan kelas. Trabas sana-sini, saat teman-temannya memilih main ke mal yang saat itu baru 1-2 muncul, Sahat lebih asik melompat pagar, manjat pohon, demi nonton konser metal grup-grup lokal. Begitulah anak metal, kenang Sahat.

Cadas, beringas, kemudian kembali galau pikirannya. Bah! Jokowi bukan anak metal, rupanya! Ngakunya aja suka musik metal, kata Sahat dalam hati sambil memandangi kaos yang ia beli bergambar Sang Presiden memegang gitar, dengan tulisan di kaos itu : Presidenku Anak Metal! Kalau dia ngaku metal, seharusnya dia berani cuek melawan tradisi ‘minta jatah dan imbalan’ dari partai dan elit politik. Seharusnya dia brani trabas sekat birokrasi, aturan yang kaku, budaya lama yang kolot, kan dia presidennya. Yang penting punya prinsip, berbuat baik dan benar buat banyak orang. Aku toh punya prinsip, pikir Sahat, yang penting tidak menyusahkan orang lain. Tapi, Anda presiden? Terus Sahat melamun, ditemani suara kencang musik metal yang sudah 3 kaset berganti. Sampai tiba-tiba emaknya berteriak dari luar kamar, “Sahat! Ngapain kau? Nonton porno lagi ya! Awas kau tak kukasih makan lagi kau nanti! Bising kali kau di kamar, Sahat!”

Sahat kaget, tersadar kalau dia baru saja ketiduran.

Ronny Joni

Editor

Rocker, traveller, hobi membaca.