Tangga Pemetik Cengkeh, Bukan Sembarang Tangga

“Kehidupan pengrajin tangga untuk pemetik cengkeh bergantung dengan situasi panen atau gagal panen. Dari sini nampak bahwa kehidupan sosial dan ekonomi tanaman cengkeh tak hanya berkaitan dengan petani, pemetik cengkeh, dan saudagar saja.”

Seperti ibadah, proses memanen cengkeh perlu beberapa persiapan. Selain tentunya pemahaman cara memanen, seorang tenaga pemetik juga memerlukan piranti memanjat ke atas pohon cengkeh. Jika ibadah memerlukan iman, memanjat pohon cengkeh membutuhkan tangga. Iman dan tangga, pijakan memeluk “surga”.

Tangga untuk memanjat pohon cengkeh bukan tangga sembarangan. Dibutuhkan seleksi bahan dan proses pembuatan yang telaten. Oleh sebab itu, tak sembarang orang bisa membuat tangga yang proporsional.

Namanya Ketut Karyawan, dan ia seorang seniman pembuat tangga (banggul), khususnya untuk pemetik cengkeh. Sebenarnya, sudah banyak orang yang bisa membuat tangga untuk memanjat pohon cengkeh. Namun, ada satu komponen dari tangga tersebut yang membutuhkan sentuhan khusus. Dan Ketut Karyawan adalah salah seorang yang punya sentuhan khusus itu.

Bagian dari tangga yang menjadi keahliannya adalah palit, atau pijakan kaki untuk meniti bambu. Begini, jadi jangan bayangkan tangga pemetik cengkeh seperti tangga bambu pada umumnya, di mana dua bilah bambu sejajar dengan beberapa anak tangga yang melintang menyatukan dua bilah bambu tersebut. Tangga untuk memetik cengkeh biasanya berupa satu bilah bambu utuh, dengan beberapa pijakan kaki dengan jarak yang sudah ditentukan. Satu bilah memanjang, bukan dua bilah yang sejajar.

Ketut Karyawan sudah menjalani profesi ini selama kurang lebih sepuluh tahun. Selama satu dasawarsa tersebut, pesanan pijakan kaki justru lebih sering ia terima ketimbang satu tangga utuh itu sendiri. Memang, seperti diungkapkan lewat paragraf sebelumnya, membuat pijakan dibutuhkan sentuhan khusus, sentuhan tukang kayu yang handal.

Laki-laki berusia 42 tahun ini menggunakan beberapa bahan untuk pijakan kaki yang ia buat. Mulai dari kayu lamtoro, kayu cengkeh, rambutan, kopi, hingga cecuring. Bahan-bahan ini bisa ia dapatkan di Desa Umejero, atau di desa-desa sekitarnya.

Harga pijakan ini cukup beragam, tergantung bahan yang digunakan. Jika menggunakan kayu lamtoro, pemesan harus menyediakan Rp2.000 untuk setiap pijakan. Jika menggunakan bahan lainnya, Ketut Karyawan menetapkan banderol Rp1.500.

Bahan kayu lamtoro memang lebih mahal karena kekuatan kayu, dan terutama awet sampai tiga tahun. Jika ingin pijakan kayu lamtoro ini awet, pemesan harus rajin melakukan prosedur standar perawatan. Jadi, setelah dipakai, pijakan dilepas dari bambu, lalu dijemur, dan disemprot solar, setelah itu disimpan di atas tungku.

Dalam satu hari, Ketut Karyawan bisa menggarap pijakan hingga 100 buah. Hasil produksinya akan meningkat hingga dua kali lipat ketika ia mendapat tenaga bantuan. Biasanya dari teman atau tetangganya. Keuntungan dari setiap palit yang ia buat berkisar di angka Rp500.

Sebagai seniman pembuat tangga bambu, tentunya Ketut Karyawan menerima pesanan tangga bambu jadi. Dalam satu hari, ia bisa menyelesaikan tiga tangga bambu, lengkap dengan pijakannya. Jika pijakan membutuhkan bahan khusus, tentunya hal yang sama berlaku untuk tangga jadi tersebut.

Bahan yang digunakan menggunakan bambu yang bisa ia dapatkan di Tabanan dan Bangli. Ada dua bambu yang biasa ia gunakan, yaitu bambu tali dan petung. Harga bahan baku untuk bambu tali adalah Rp70.000, sedangkan petung hingga Rp100.000. Tentunya, ada harga, ada kualitas.

Jenis bambu tali biasanya digunakan untuk membuat tangga dengan jumlah 15 pijakan. Harga tangga yang menggunakan bahan bambu tali dipatok Rp100.000. Sedangkan jenis bambu petung bisa digunakan untuk membuat tangga dengan jumlah 35 pijakan, dengan harga jual Rp500.000.

Harga tersebut merupakan kisaran terendah dan tertinggi.

Cara menentukan harga tangga biasanya dihitung dari jumlah pijakan, kualitas jenis, tinggi, dan umur bambu. Tangga tertinggi bisa mencapai 17 meter. Jarak pijakan sekitar 60 hingga 70 sentimeter. Dahulu, jarak tersebut dibuat berdasarkan ruas bambu.

Untuk pembuatan tangga jadi, Ketut Karyawan mengaku mendapatkan keuntungan bersih antara Rp30.000 hingga Rp100.000. Adapun kendala yang dihadapi adalah ketersediaan solar untuk mesin pemotong kayunya. Ketut Karyawan harus berkendara sejauh tujuh kilometer ke daerah Bangsing untuk mendapatkan solar. Itupun dengan jumlah pembelian yang dibatasi. Kadang beli hari ini, baru dua hari kemudian baru bisa beli lagi.

Saat gagal panen cengkeh seperti sekarang ini, hanya ada satu atau dua orang yang membeli pijakan. Mesinnya pun digunakan untuk memotong kayu bahan bangunan guna mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pendapatan lainnya didapat dari profesi perawat kebun (penyakap) dan sebagian dari hasil kebunnya sendiri seperti alpukat, pisang, singkong, talas, dan labu. Selain itu, ia juga beternak ayam dan kambing.

Kehidupan pengrajin tangga untuk pemetik cengkeh bergantung dengan situasi panen atau gagal panen. Dari sini nampak bahwa kehidupan sosial dan ekonomi tanaman cengkeh tak hanya berkaitan dengan petani, pemetik cengkeh, dan saudagar saja. Keberadaan pembuat tangga juga sangat penting. Dalam dinamika itu, sentuhan tangan Ketut Karyawan sangat dibutuhkan.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).