Pengasapan Disinfektan Menggunakan Tembakau

tembakau

Konon kabarnya, membakar tembakau dan garam bisa menghalau virus korona yang hingga kini masih mewabah di seantero dunia, menjadi pandemi, momok pagebluk yang mau tidak mau, mengubah cara hidup manusia secara drastis dalam waktu singkat saja. Kabar perihal pembakaran tembakau dan garam yang dapat menghalau virus korona ini, ramai dibicarakan khalayak.

Ada yang mendukung, ada yang menganggapnya fenomena biasa saja, dan sudah barang tentu ada yang mencerca. Wajar. Lumrah.

Adalah dr. Rasmono, seorang dokter yang fokus mempelajari obat-obatan herbal yang menganjurkan pembakaran tembakau dan garam untuk menghalau virus korona. Dari Kabupaten Bondowoso, salah satu sentra pertembakauan di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur, dr. Rasmono mengeluarkan anjuran itu. Selain menyarankan pembakaran tembakau dan garam untuk menghalau virus korona, Ia juga sudah secara rutin melakukannya, Ia yakin ini bukan sekadar mengada-ada, namun sudah melalui tahap riset yang serius.

“Sebetulnya saya hanya meneruskan apa yang sudah dilakukan Dr. Greta Zahar dan Prof. Sutiman Bambang Sumitro.” Ujar dr. Rasmono kepada wartawan yang mewawancarainya.

Dr. Greta dan Prof. Sutiman, memang dikenal sebagai ilmuwan yang sudah sejak lama meneliti manfaat tembakau bagi kesehatan manusia. Mereka juga sudah membuka praktik pengobatan alternatif untuk ragam bentuk penyakit berat semisal kanker, stroke, diabetes, malaria dan lain sebagainya hingga ke penyakit-penyakit ringan semisal batuk, flu, dan sakit kepala ringan, dengan metode pengobatan balur tembakau. Produk rokok herbal produksi Dr. Greta, tembakau divine, juga banyak digunakan sebagai rokok untuk obat ragam bentuk penyakit.

Beberapa tahun lalu, ketika marak wabah flu burung di beberapa tempat di dunia, praktik membakar tembakau dan garam untuk menghalau virus flu burung juga sudah dilakukan Dr. Greta. Hasilnya cukup memuaskan. Bisa dikatakan berhasil.

Saya kira ini memang bukan sesuatu yang aneh, apalagi mengada-ada. Secara alamiah, sejak lama memang diketahui bahwa salah satu fungsi tembakau adalah disinfektan alami. Ia biasa digunakan petani untuk membunuh virus, bakteri, dan kuman yang menyerang komoditas pertanian.

Sejak kasus pandemi virus korona merebak di dunia, penyemprotan-penyemprotan disinfektan kimia sintetis marak dilakukan di banyak tempat di negeri ini, juga di negara-negara yang wilayahnya diserang virus korona. Ini dilakukan guna membunuh virus korona yang menempel di benda-benda yang disemprotkan disinfektan.

Pembakaran tembakau, saya kira juga sebuah upaya untuk membunuh virus korona secara efektif, bedanya, jika disinfektan sintetis diseprotkan, tembakau menggunakan teknik pengasapan. Secara teknis, tentu saja pengasapan lebih efektif dan hemat tenaga dibanding penyemprotan, secara ekonomis, tentu pengasapan menggunakan tembakau lebih murah dibanding penemprotan disinfektan.

Ketika saya membaca berita perihal dr. Rasmono dari Bondowoso ini, saya lantas teringat obrolan-obrolan dengan beberapa petani tembakau di Temanggung. Sekali waktu mereka pernah bercerita, dahulu, sebelum zaman kemerdekaan, saat wabah penyakit baru kerap kali datang hingga jauh ke desa-desa di pegunungan di wilayah Temanggung, karena ketiadaan obat-obatan, orang-orang membakar tembakau untuk mengusir penyakit. Menurut mereka, hal itu memang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya, secara turun-temurun, sejak tembakau mulai ditemukan tumbuh subur di wilayah Temanggung.

Dan toh, pada mulanya, sejarah keberadaan tembakau di Temanggung yang diyakini masyarakat di Temanggung, kali pertama Ia ditemukan oleh Sunan Makukuhan adalah sebagai sarana pengobatan. Nama tembakau sendiri, berasal dari ‘tamba’, ‘tambaku’ yang berarti obat, obatku, merujuk pada perkataan Sunan Makukuhan yang bilang daun tembakau sebagai obat bagi penyakitnya.

Hanya saja, tembakau dipercaya sebagai obat dan mampu mengusir banyak penyakit oleh orang-orang terdahulu, oleh masyarakat modern saat ini dianggap sebagai kearifan lokal yang tanpa bukti ilmiah, maka dengan gampangnya disingkirkan begitu saja dari khazanah pengobatan manusia. Karena tidak ilmiah, karena dianggap belum ada penelitian medisnya.

Kini, rentetan penelitian membuktikan bahwa apa yang dipercaya masyarakat dahulu itu benar adanya, tembakau memiliki fungsi pengobatan. Semoga ke depan, tembakau tak lagi begitu dinistakan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait